Opini  

Fakta-Fakta dan Penyebab di Balik Hikikomori

Ilustrasi Penyebab di Balik Hikikomori(Foto: www.freepik.com)
Ilustrasi Penyebab di Balik Hikikomori(Foto: www.freepik.com)

Istilah Hikikomori berasal dari kata kerja hiki “menarik diri” dan komori “berada di dalam”. Rupanya gejala ini menarik perhatian di beberapa negara lain, termasuk Indonesia. Hikikomori sering dialami kebanyakan orang dewasa, yang menarik diri dari interaksi sosial dan dunia luar untuk waktu yang lama. Berikut Fakta-Fakta dan Penyebab di Balik Hikikomori.

Oh ya, saya memang bukan seorang pengamat sosial, tapi saya sangat tertarik dengan permasalahan yang satu ini sehingga saya mulai membaca referensi-referensi yang membahas terkait permasalahan yang satu ini.

❞𝗝𝗶𝗸𝗮 𝘇𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮𝘀𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗰𝗮𝗺𝗽𝘂𝗿 𝗯𝗮𝘂𝗿𝗺𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵𝗺𝘂 𝗸𝗲𝗰𝘂𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲𝗷𝗲𝗹𝗲𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗵𝗲𝗻𝗱𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶, 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗹𝗮𝗵❞ – Nasihat Bijak dari Syaikh Ibnu Utsaimin

Istilah Hikikomori Muncul Pertama Kali di Jepang

Untuk pertama kalinya saya mengenal Hikikomori melalui kanal youtube SatuPersenIndonesianLifeschool, ternyata gejala serupa Hikikomori ini juga telah terjadi di berbagai negara lain, termasuk Indonesia. Hingga saat ini belum ada data resmi yang menggambarkan sejauh mana masalah Hikikomori di Indonesia, beberapa aspek kehidupan modern seperti tekanan sosial, masalah mental, dan tantangan ekonomi bisa menjadi penyebab kemunculannya.

Berikut adalah beberapa persamaan dan perbedaan antara pemuda Hikikomori di Jepang dan Indonesia.

Persamaan Hikikomori di Jepang dan Indonesia

Penarikan sosial

Baik di Jepang maupun Indonesia, Hikikomori ditandai oleh perilaku penarikan sosial yang ekstrem, di mana individu tersebut memilih untuk mengisolasi diri dari masyarakat dan interaksi sosial.

Masalah mental

Di kedua negara, masalah kesehatan mental sering terkait dengan gejala Hikikomori. Gangguan kecemasan sosial, depresi, dan tekanan emosional lainnya bisa menjadi penyebab individu memilih hidup dalam isolasi.

Dukungan keluarga

Baik di Jepang maupun Indonesia, keluarga sering kali berperan penting dalam memberikan dukungan dan merawat individu yang mengalami Hikikomori.

 

Perbedaan Hikikomori di Jepang dan Indonesia

Budaya dan nilai-nilai sosial

Perbedaan budaya dan nilai-nilai sosial di Jepang dan Indonesia dapat mempengaruhi cara masyarakat memandang masalah Hikikomori dan pendekatan dalam menangani masalah ini.

Sistem dukungan sosial

Jepang memiliki sistem dukungan sosial yang lebih mapan, termasuk klinik khusus Hikikomori dan berbagai organisasi non-pemerintah yang mendukung individu yang mengalami masalah ini. Di Indonesia, sumber daya dan kesadaran tentang Hikikomori mungkin lebih terbatas.

Penyebab ekonomi

Beberapa faktor ekonomi yang berbeda dapat mempengaruhi prevalensi Hikikomori di kedua negara. Di Jepang, persoalan seperti tekanan untuk sukses dalam pekerjaan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan stabil dapat berperan. Di Indonesia, masalah pengangguran, keterbatasan peluang, dan kesenjangan ekonomi bisa menjadi faktor.

 

Contoh Kasus Hikikomori

Sejumlah pakar Hikikomori menyebut bahwa kemungkinan penyebab utama dari perilaku anti sosial ini adalah lingkungan. Kasus Hikikomori pun paling banyak terjadi pada pria muda dari kelas menengah yang rata-rata berstatus sarjana. Namun bukan hanya pemuda, Hikikomori juga dapat terjadi  pada orang tua (umumnya terjadi di tempat mereka bekerja).

Berdasarkan hasil riset Jurnal Studi Kejepangan yang ditulis oleh Prasetya Eghy Satriatama dan Syihabuddin. Contoh lain dari hikikomori ini terjadi di lingkungan kerja. Dalam dunia kerja di negara Jepang, jika seseorang tidak bisa berbaur dengan lingkungan mereka, mereka pasti akan dikucilkan oleh orang-orang di sekitar, dan di kantor, mereka akan mengalami tekanan dari rekan kerja maupun atasan.

Hal ini adalah salah satu alasan mengapa beberapa orang memilih untuk mengasingkan diri dari dunia luar, bahkan termasuk dari keluarga mereka. Hasegawa (2019) memberitakan bahwa saat ini hikikomori banyak dilakukan oleh orang paruh baya.

Selain itu, penyakit mental dianggap sebagai sisi negatif di negara Jepang, meskipun sudah mencari bantuan dari psikolog, namun tetap saja tidak bisa membantu menjalani hari-hari mereka terbebas dari stres dan kecemasan.

Dalam beberapa kasus hikikomori, banyak dari pelaku yang mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian (Correy, 2012). Semenjak kasus COVID-19 menyebar, tekanan dalam dunia pekerjaan dan pemecatan semakin banyak, sehingga bisa meningkatkan populasi orang yang berubah menjadi Hikikomori.

Peran Pemerintah Terhadap Gejala Hikikomori

Manusia adalah makhluk sosial, sudah selayaknya mereka hidup berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya baik di lingkungan rumah, pekerjaan hingga tempat umum. Apa jadinya jika dalam kehidupan ini, kita tidak lagi menjumpai orang-orang yang melakukan interaksi dengan sesamanya.

Bagi masyarakat dan pemerintah di Jepang maupun Indonesia, penting untuk segera meningkatkan kesadaran tentang masalah ini dan memberikan dukungan yang tepat bagi individu serta keluarga mereka yang mengalami Hikikomori.

Apa jadinya jika para pemuda di negri ini terkena masalah Hikikomori? Bayangkan pula pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Seperti gunung es yang terlihat kecil di permukaan namun sebenarnya menyimpan persoalan lebih berat di bawahnya. Hikikomori tak hanya menjadi beban bagi keluarga tapi juga perekonomian negara secara umum. Fenomena ini bukan tidak mungkin akan melahirkan generasi pengangguran yang tidak produktif.

 

Referensi:

Prasetya Eghy Satriatama dan Syihabuddin, “Fenomena Faktor Lingkungan Yang Menyebabkan Hikikomori Pada Masyarakat Di Jepang,” Jurnal Studi Kejepangan Volume 6 No 2 2022, https://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *