Perempuan dan Politik: Masihkah Dianggap sebagai Subjek?

iim maya sofa
Perempuan dan Politik: Masihkah Dianggap sebagai Subjek?

Perempuan dan politik. Sebentar lagi kita akan memasuki pesta demokrasi di Indonesia. Maka rasanya kurang afdol jika tidak membahas tentang politik. betul? Namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang Capres dan Cawapres mana yang lebih unggul dan lebih cocok untuk di pilih.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang perempuan dan politik. Ini merupakan ide yang muncul secara alami dalam diri saya, setelah beberapa hal yang membuat saya bertanya-tanya. Seperti:

Bagaimana posisi perempuan dalam dunia politik di Indonesia?

Perempuan dan Politik: Masihkah Dianggap sebagai Subjek?

Setelah saya mencari data dan akhirnya menemukan data yang bisa dipercaya, dan data tersebut menunjukkan peran perempuan dalam politik di Indonesia. Indeks pemberdayaan perempuan di bidang politik jadi yang terburuk dengan nilai di bawah rata-rata global. Sementara secara keseluruhan, skor indeks ketimpangan gender Indonesia berada di peringkat ke-92 dari 146 negara.

Dari data tersebut, pertanyaan tentang peran perempuan masih menjadi sorotan penting. Meskipun terdapat perubahan positif dalam beberapa dekade terakhir terkait kesetaraan gender, namun esensi keterlibatan perempuan dalam politik sering kali masih dipertanyakan. Apakah perempuan masih dianggap sebagai subjek yang kurang signifikan dalam panggung politik?

Fakta dalam politik Indonesia

Jika dilihat saat ini dan dibandingkan dengan dulu, kini dunia politik mulai ramai dan diisi kedudukannya oleh perempuan. Artinya, meski data yang menunjukkan memberikan fakta peran perempuan dalam politik masih minim, tetapi ini menunjukkan kemajuan.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perempuan yang memasuki dunia politik, baik sebagai pemilih maupun tokoh politik. Namun, apakah kemunculan ini mencerminkan pengakuan sepenuhnya terhadap peran aktif perempuan dalam merumuskan kebijakan dan membentuk arah politik suatu negara?

Pertama-tama, kita perlu melihat fakta bahwa masih terdapat kesenjangan gender dalam representasi politik. Meskipun jumlah perempuan yang terlibat dalam politik meningkat, mereka sering kali masih menjadi minoritas di lembaga-lembaga pengambil keputusan.

Selain itu, ada asumsi dan stereotip yang bertahan bahwa perempuan lebih cenderung untuk fokus pada isu-isu sosial dan kesejahteraan, sementara isu-isu politik dan keamanan dianggap sebagai wilayah yang lebih tepat bagi pria.

Ini menimbulkan pertanyaan apakah perempuan dianggap memiliki kapasitas yang setara dengan rekan-rekan laki-laki mereka dalam mengemban tanggung jawab politik.

Mengapa bisa laki-laki dianggap lebih mumpuni?

Pertanyaan tentang mengapa laki-laki dianggap lebih mumpuni sebagai politisi di Indonesia melibatkan faktor-faktor sosial, budaya, dan sejarah yang kompleks. Beberapa aspek yang dapat memberikan gambaran mengenai fenomena ini antara lain:

1. Stereotip Gender

Stereotip gender yang melekat dalam masyarakat sering kali menciptakan pandangan bahwa laki-laki lebih cocok untuk memimpin dalam bidang politik. Pandangan ini terkait dengan ekspektasi tradisional mengenai peran gender, di mana laki-laki dianggap lebih tegas, kuat, dan mampu mengambil keputusan yang sulit.

2. Budaya Patriarki

Indonesia, seperti banyak negara di seluruh dunia, memiliki sejarah panjang budaya patriarki di mana laki-laki mendominasi dalam keputusan-keputusan penting dan peran kepemimpinan. Budaya ini dapat menciptakan hambatan bagi perempuan yang ingin memasuki dunia politik.

3. Hambatan Struktural

Ada hambatan-hambatan struktural yang dapat menghambat partisipasi perempuan dalam politik, seperti ketidaksetaraan akses terhadap pendidikan, sumber daya, dan jaringan politik. Hambatan-hambatan ini cenderung lebih besar bagi perempuan, sehingga membuat laki-laki lebih dominan dalam dunia politik.

4. Kurangnya Representasi

Ketidakseimbangan dalam representasi gender di lembaga-lembaga politik dapat memperkuat persepsi bahwa politik adalah ranah yang lebih cocok untuk laki-laki. Kurangnya perwakilan perempuan dalam keputusan-keputusan politik dapat merugikan perempuan secara keseluruhan.

5. Norma Sosial

Norma sosial yang menguatkan perbedaan peran gender dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kemampuan perempuan dalam politik. Pandangan ini sering kali berakar dalam norma-norma budaya yang berkembang di masyarakat.

Solusinya?

Perubahan dalam persepsi ini membutuhkan upaya bersama dari pemerintah, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat untuk mengatasi stereotip dan hambatan-hambatan struktural yang menghalangi partisipasi perempuan dalam politik.

Kesetaraan gender dan peningkatan peran perempuan dalam politik bukan hanya tentang hak-hak perempuan, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih adil dan berkeadilan. Untuk mengubah paradigma ini, diperlukan upaya bersama dari seluruh masyarakat.

Pendidikan yang mempromosikan pemahaman tentang pentingnya peran perempuan dalam politik, serta langkah-langkah konkret dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi oleh perempuan yang ingin berkarir di dunia politik, menjadi kunci perubahan.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah, di Indonesia peran perempuan dalam dunia politik masih sangat minim. Meski saat ini, mulai banyak perempuan yang ikut andil dalam dunia politik, tetapi data yang ditujukan masih memperlihatkan hasil yang jauh dari harapan.

Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor eksternal maupun internal. Seperti, pendidikan perempuan di Indonesia yang masih belum setara jumlahnya dengan laki-laki yang berpendidikan, hingga stereotip masyarakat juga mempengaruhi aspek ini.

Adanya artikel opini dengan mengajukan pertanyaan kritis kepada masyarakat umum, ini bisa sebagai refleksi tentang sejauh mana masyarakat telah berkembang dalam mengakui dan menghargai kontribusi perempuan dalam politik.

Dengan menghilangkan pandangan bahwa perempuan masih dianggap sebagai subjek, kita bisa bersama-sama mencapai transformasi menuju masyarakat yang lebih inklusif dan setara secara gender dalam ranah politik.

Sekian artikel opini tentang perempuan dan politik, semoga dengan adanya tulisan ini kita bersama-sama menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama. Terima kasih, dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!

 

Sumber:

Instagram @narasi.tv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *