Cerpen Mat Pisau Karya Eka Kurniawan: Keinginan Lebih Tajam dari Moral

Keinginan Lebih Tajam dari Moral dalam Cerpen Mat Pisau Karya Eka Kurniawan

 

Aku baru saja menyelesaikan salah satu cerpen karya Eka Kurniawan, penulis yang tak lagi asing di dunia sastra. ‘Mat Pisau’, demikian judulnya. Sebagai informasi, aku memperoleh cerpen itu dari bonus pra pesan novel Lelaki Harimau edisi 20 tahun. Pun, cerpen itu tidak dicetak berkali-kali. Jadilah cerpen Mat Pisau sebagai salah satu karya yang limited edition di barisan rak bukuku.

Tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan cerpen itu. Hanya sekali duduk saja. Ceritanya tentu layak dinikmati. Secara garis besar, bercerita mengenai siswa SMA bernama Mat yang berusaha agar dirinya dapat diterima dan diakui oleh dunia, terkhusus oleh teman-teman sekolah yang selalu merundung Mat.

Dalam cerpen itu, aku menyorot kepribadian Mat yang berkembang dan berubah seiring cerita berjalan. Namun, aku penasaran apakah kepribadian Mat sudah diceritakan dengan baik oleh Eka Kurniawan? Sebenarnya, tidak ada standar yang pasti untuk mengatakan ini baik atau buruk. Hanya saja, aku ingin merepotkan diri untuk menjadi kritikus sastra.

Kritikus Sastra dan Kacamata Ahli

Meminjam gagasan dari Rachmat Djoko Pradopo dalam buku Kritik Sastra Indonesia Modern (2002), aku perlu memperhatikan tiga hal dalam mengkritik karya sastra. Pertama, bermanfaat untuk menyusun teori dan sejarah sastra. Kedua, kritik yang dihasilkan bisa membantu pemahaman masyarakat terhadap karya sastra. Ketiga, sastrawan dapat memperbaiki kekeliruan dalam karya sastranya.
Sekarang, aku bingung. Aku harus meminjam kacamata ahli yang mana untuk mengkritik. Akhirnya, aku kembali membuka buku catatan kuliahku. Kebetulan sekali, aku pernah memprogram mata kuliah kritik sastra dengan membungkus nilai yang cukup mantap.

Tiga Lapis Kepribadian Menurut Om Freud

Karena aku berfokus kepada kepribadian tokoh, maka perlu ahli yang teorinya berkutat di situ. Ya, psikoanalisis dari Sigmund Freud menjadi pilihanku! Teori dari Om Freud (aku sengaja menambah sapaan ‘om’ biar terlihat akrab) membahas mengenai kepribadian seseorang yang mencakup Id, Ego, dan Superego. Ketiga lapisan inilah yang membentuk kepribadian lalu mendorong manusia untuk berperilaku.
Dalam bukunya yang berjudul The Ego and The Id (1923), Om Freud menjelaskan definisi dari ketiga lapis kepribadian manusia tersebut. Id merupakan unsur kepribadian paling dasar yang berisi hawa nafsu untuk menghasilkan keinginan dalam diri manusia. Ego disebut sebagai akal dan kewarasan yang berfungsi untuk memenuhi keinginan Id di dunia nyata. Superego merupakan aspek moral mengenai baik dan buruk sesuai norma masyarakat untuk membatasi tindakan Ego dalam memenuhi keinginan Id.

Hal yang Diinginkan oleh Mat

Dalam diri Mat, aku menemukan Id berupa keinginan untuk diakui oleh dunia dan teman-temannya di sekolah. Dapat dilihat pada kedua kutipan ini, nih.

Tentu saja Mat tak mau mendengarnya. Ia dan permainan pisau itu tak lagi terpisahkan. Mat tahu, apa yang bisa ia lakukan di dunia ini. Tak seorang pun boleh merenggut apa yang sudah ia peroleh. Ia Mat Pisau, dan Ia harus tetap dipanggil seperti itu (Mat Pisau, 2024:11).

Mat mengaku kalah menghadapi dunia, ia tak keberatan untuk menghilang, untuk hidup dalam kegelapan. Tapi ia ingin dunia terus mengingatnya sebagai Mat Pisau. Enam belas pisau belati beterbangan ke arah Emi, dan dengan itulah ia memaksa dunia untuk mengingatnya (Mat Pisau, 2024:23).

Eka Kurniawan menunjukkan keinginan Mat dengan jelas, yaitu keinginan untuk tetap dikenal sebagai Mat Pisau. Panggilan tersebut disematkan oleh teman sekolahnya kepada Mat. Dengan panggilan Mat Pisau, Mat tidak lagi mengalami perundungan dan perlahan diterima oleh teman sekolahnya. Oleh karena itu, Mat ingin dunia tetap mengingatnya sebagai Mat Pisau. Keinginan Mat tersebut dipengaruhi oleh Id di dalam dirinya yang menurut Om Freud bahwa Id berurusan dengan kepuasan dan menghasilkan keinginan dalam diri manusia.
Meskipun begitu, aku melihat bahwa keinginan Mat untuk diingat oleh dunia sebagai Mat Pisau tidak muncul begitu saja. Pada awalnya, Mat diceritakan sebagai tokoh yang pasrah menerima dirinya sebagai sasaran perundungan dari teman sekolahnya. Pada saat Mat telah pandai beratraksi dengan pisau, barulah keinginannya untuk diakui oleh dunia mulai terbentuk. Dengan demikian, terdapat pengembangan Id dalam kepribadian Mat yang berawal dari menerima dirinya sebagai sasaran perundungan. Kemudian, berubah menjadi insting bertahan hidup untuk diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau.

Upaya Mat dalam Memenuhi Keinginannya

Nah, Id di dalam diri Mat telah menghasilkan sebuah keinginan untuk diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau. Di sinilah Ego berperan di dalam diri Mat. Ego kemudian memicu Mat untuk melakukan suatu tindakan atau mengambil keputusan demi memenuhi keinginan dari Id.

Kutipan pertama

Permainannya kali ini sungguh bikin kecakapannya memutar-mutar pisau di antara jari-jemarinya tampak seperti permainan kekanak-kanakan. Kenyataannya memang begitu. Banyak anak lelaki lain bisa melakukannya, meskipun belum ada satu pun yang menyamai kecepatannya. Tapi apa pedulinya, cepat atau lambat, jika mereka terus melakukannya, anak-anak itu pada akhirnya akan semahir dirinya. Sebelum itu terjadi, Mat Pisau memutuskan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya beberapa langkah di depan kawan-kawannya. Bahwa ia yang terbaik. Bahwa ia si anak hebat itu (Mat Pisau, 2024:9).

Dalam kutipan di atas, Mat dikisahkan sangat takut apabila teman-teman sekolahnya lebih mahir dalam melakukan atraksi pisau dibanding dirinya. Oleh karena itu, Mat berusaha menunjukkan atraksi pisau yang lebih hebat dibanding teman-teman sekolahnya. Tindakan Mat ini dipengaruhi oleh Ego yang berusaha mempertahankan keinginannya agar tetap diakui sebagai Mat Pisau—sosok yang paling terbaik dan hebat dalam atraksi pisau. Sesuai dengan pendapat Om Freud bahwa Ego akan terus-menerus memenuhi keinginan dari Id.

Kutipan kedua

Mat tidak cari makan. Mat kembali ke pasar dan membeli dua bilah belati pramuka dari toko perkakas sekolah. Kembali ke rumah, ia mengasahnya perlahan, membuat mereka mengilap, lancip, dan tajam. Kisah Mat Pisau sebagai seorang penambul pun bermula, dan seperti yang ia duga, anak-anak di sekolah memang dibikin terpana (Kurniawan, 2024:14).

Mat memilih membeli dua bilah belati, alih-alih membeli makanan. Hal ini pun dipengaruhi oleh Ego sebagai upaya Mat untuk menunjukkan keahliannya memainkan atraksi pisau yang lebih hebat. Om Freud menyebutkan bahwa Ego mewakili akal dan kewarasan seseorang. Oleh karena itu, Ego di dalam diri Mat membuat keputusan untuk memilih membeli dua bilah pisau agar teman-teman di sekolah terpana akan aksinya. Ketika teman-teman di sekolah terpana akan aksinya, keinginan Id dalam diri Mat untuk diakui pun akan terpenuhi.

Kutipan ketiga

Mat mencari cara untuk melarikan diri dan menyelamatkan pisau-pisaunya Ia telah berjanji tak akan berpisah dengan mereka. Ia masuk ke kelas. Ketiga pisau ia masukkan ke dalam tas, lalu berlari ke arah jendela di sisi lain kelas. Ia membuka jendela, ia melompat ke kalang, tangannya memegangi selungkup, dalam sekali entak ia berhadapan dengan sebuah gang kecil. Sial, dua orang guru sudah berada di sana. Mereka dengan mudah menyergapnya, memiting, dan membantingnya (Mat Pisau, 2024;17).

Untuk memenuhi keinginannya, Mat harus tetap memiliki pisau. Seperti kutipan di atas, Mat berusaha melarikan diri untuk melindungi pisau-pisau yang dapat membuatnya menjadi Mat Pisau. Keputusan Mat untuk melarikan diri dan melindungi pisau tersebut pun tidak luput dari pengaruh Ego di dalam dirinya. Ego selalu mengupayakan untuk memenuhi keinginan Id melalui tindakan dan keputusan, sebagaimana pendapat Om Freud, sehingga dapat dikatakan bahwa tindakan Mat tersebut dipengaruhi oleh Ego di dalam dirinya.

Kutipan empat

Sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Selama beberapa waktu ia tak tahu, dari mana rasa hangat itu datang. Kemudian ia menyadarinya dan mengetahui apa namanya. Amarah. Ia tak pernah mengetahui perasaan semacam itu ada, tapi kini ia memilikinya. Ia berjanji akan memperoleh pisau-pisaunya kembali, atau mencari penggantinya. Ia akan memainkan mereka di tangannya, sebab itulah cahayanya (Mat Pisau, 2024:19)

Nah, ketika kehilangan pisau yang selalu menemani, Mat merasakan amarah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Di sisi lain, Mat pun kehilangan identitas dirinya sebagai Mat Pisau. Hal tersebut karena adanya Ego yang menurut Om Freud terus berusaha memenuhi keinginan dari Id. Untuk memenuhi keinginannya, Mat memerlukan pisau lagi sehingga Ego mendorong Mat untuk memperoleh pisau pengganti.
Aku melihat perjuangan Mat untuk memenuhi keinginannya agar diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau bukanlah perkara yang mudah. Dimulai dari menunjukkan keahliannya yang lebih hebat dibanding teman sekolahnya, memilih membeli dua bilah belati daripada makanan, melindungi pisau-pisaunya, dan mencari pengganti pisaunya yang diambil oleh guru. Tindakan dan keputusan Mat tentu dipengaruhi oleh Ego yang bertugas untuk memenuhi keinginan dari Id. Dengan demikian, aku menyimpulkan Eka Kurniawan telah menceritakan tindakan dan keputusan dari Mat yang dipengaruhi oleh Ego dengan sangat baik. Selain itu, Eka Kurniawan pun menerapkan idiom from zero to hero atau berawal dari Mat sebagai sosok biasa menjadi sosok yang luar biasa.

Moral Tak Lagi Membatasi Tindakan Mat

Di sisi lain, dalam upaya memenuhi keinginan dari Id, ada kalanya tindakan dan keputusan dari Ego dibatasi oleh aspek moral dalam kepribadian seseorang. Hal itulah yang disebut sebagai Superego. Menurut Om Freud, Superego dibentuk dari lingkungan sekitar mengenai nilai baik dan buruk atau benar dan salah.
Norma, standar, atau aturan yang berlaku di masyarakat pun seharusnya ikut memengaruhi Superego dalam membatasi Ego dalam diri Mat. Namun, kenyataannya justru tidak membatasi tindakan dari Egountuk memenuhi keinginan dari Id dalam diri Mat.

Kutipan pertama

Polisi-polisi itu meminta Mat Pisau menyerahkan ketiga bilah pisaunya. Mat tak mau. Ia mengambil tasnya, berjalan keluar kelas, melangkah menuju gerbang sekolah. “Serahkan pisaumu, bocah,” kata polisi satu lagi. Mat tak mau mendengar. Menyerahkan pisaunya, hanya berarti menyerahkan seluruh cahaya yang menerangi hidupnya. “Berhenti bocah, atau kutembak!” Polisi itu mulai mengancamnya, dan sungguh ia mengeluarkan senjata api dari sarungnya. Mat menoleh sekilas, tapi kemudian kembali berpaling. Tembak saja, pikirnya, dan kembali melangkah menjauh (Mat Pisau, 2024:20)

Mat tidak ingin menyerahkan pisau-pisaunya kepada polisi. Adapun alasan polisi meminta pisaunya karena Mat telah berlebihan dalam memainkan atraksi pisaunya. Bahkan, ada teman sekolahnya yang tertusuk pisau karena mengikuti atraksi Mat sehingga pihak sekolah pun melarang siswanya membawa pisau ke sekolah.
Jika memiliki aspek moral mengenai nilai baik dan buruk atau benar dan salah, Mat akan menyerahkan pisaunya ke polisi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Namun, seperti yang dikatakan oleh Om Freud, Superego yang seharusnya membatasi tindakan Ego justru tidak berfungsi di dalam diri Mat. Hal ini dipengaruhi oleh ambisi dari Ego yang terus berusaha memenuhi keinginan dari Id sehingga Mat akan melakukan segala hal tanpa memperhatikan aspek moral.

Kutipan kedua

Emi kembali berteriak kepadanya, “Mat! Lepaskan aku, Mat! Tolol, buka! Anjing, babi, monyet! Apa itu? Belati? Kau bawa pisau belatimu? Bangke, mau bunuh aku? Bunuh aja. Aku gak takut. Bunuh, Mat! Bunuh! Kamu tak bakal berani. Cemen! Lihat aku, tolol. Li…”

“Diam!”

Sambil membentak, Mat berbalik dan melemparkan pisau belatinya ke arah Emi. Belati meluncur deras, abu-abu, menciptakan ekor bayangan yang panjang (Mat Pisau, 2024:23)

Kepada Emi, Mat berbisik, “Kau anak baik, Emi. Aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin, kaubilang kepada mereka, Mat hebat melemparkan enam belas pisau. Kau saksinya. Hanya bisa dilakukan satu orang. Namanya Mat Pisau (Mat Pisau, 2024:24)

Konteks pada dua kutipan di atas adalah Emi diculik oleh Mat. Emi pun berpikir kalau dirinya akan dibunuh. Namun, Mat justru menunjukkan keahliannya memainkan atraksi pisau agar Emi memberitahu semua orang bahwa hanya ada satu orang saja yang pandai memainkan atraksi pisau, ialah Mat Pisau.
Dari aspek moral, tindakan Mat tentu tidak dapat dibenarkan. Di sinilah terlihat jelas bahwa Superego yang menurut Om Freud akan berorientasi pada moral dan hati nurani sudah tidak mampu membatasi tindakan Ego dalam diri Mat.

Dengan demikian, Eka Kurniawan menceritakan Mat sebagai tokoh yang kurang memiliki moral dan akan melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya. Hal tersebut terlihat dari Ego yang memicu Mat mengambil tindakan dan keputusan apa saja selama dapat memenuhi kepuasan Id yang berupa diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau.

Kesimpulan

Namun, aku sangat menyayangkan bahwa Eka Kurniawan kurang mengeksplorasi latar belakang pada keluarga Mat sehingga membentuk Superego yang demikian. Adapun latar belakang yang disinggung oleh Eka Kurniawan hanyalah Mat yang diceritakan sebagai anak dari keluarga kurang mampu dan mengalami perundungan oleh teman sekolahnya. Ibunya tidak diceritakan secara detail, bahkan sosok Ayah dari Mat pun sama sekali tidak dimunculkan.
Eka Kurniawan sebenarnya dapat mengeksplorasi lebih jauh mengenai latar belakang pola asuh keluarga Mat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Hal tersebut tentu akan menjadi alasan kuat bagi Mat yang kurang bermoral karena Om Freud menyatakan bahwa Superego pun terbentuk dari ajaran orang tua.
Meskipun begitu, alasan Mat yang kurang bermoral pun dapat ditutupi oleh ambisinya yang berlebihan untuk diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau. Nah, Eka Kurniawan telah mengeksekusi ambisi tersebut dengan baik melalui upaya Mat dalam memenuhi keinginannya.
Pada akhirnya, Eka Kurniawan sebagai penulis cerpen Mat Pisau telah membawa Mat ke panggung tokoh utama dengan baik. Setiap lapis kepribadian memiliki alasan yang logis untuk berubah atau bertindak. Secara keseluruhan, aku menyimpulkan bahwa Id dalam diri Mat menghasilkan keinginan untuk diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau karena Mat tak akan lagi mengalami perundungan dengan julukan tersebut. Karena Id telah menghasilkan keinginan, Ego mendorong Mat untuk melakukan apa saja demi memenuhi keinginan tersebut. Sementara itu, Superego tidak dapat membatasi tindakan Mat karena ambisinya yang sangat besar untuk memenuhi keinginannya.
REFERENSI
Freud, S. (1923). The ego and the id. International Psychoanalytic Press.
Pradopo, R. D. (2002). Kritik Sastra Modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *