Aku baru saja menyelesaikan salah satu cerpen karya Eka Kurniawan, penulis yang tak lagi asing di dunia sastra. ‘Mat Pisau’, demikian judulnya. Sebagai informasi, aku memperoleh cerpen itu dari bonus pra pesan novel Lelaki Harimau edisi 20 tahun. Pun, cerpen itu tidak dicetak berkali-kali. Jadilah cerpen Mat Pisau sebagai salah satu karya yang limited edition di barisan rak bukuku.
Tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan cerpen itu. Hanya sekali duduk saja. Ceritanya tentu layak dinikmati. Secara garis besar, bercerita mengenai siswa SMA bernama Mat yang berusaha agar dirinya dapat diterima dan diakui oleh dunia, terkhusus oleh teman-teman sekolah yang selalu merundung Mat.
Dalam cerpen itu, aku menyorot kepribadian Mat yang berkembang dan berubah seiring cerita berjalan. Namun, aku penasaran apakah kepribadian Mat sudah diceritakan dengan baik oleh Eka Kurniawan? Sebenarnya, tidak ada standar yang pasti untuk mengatakan ini baik atau buruk. Hanya saja, aku ingin merepotkan diri untuk menjadi kritikus sastra.
Kritikus Sastra dan Kacamata Ahli
Tiga Lapis Kepribadian Menurut Om Freud
Hal yang Diinginkan oleh Mat
Tentu saja Mat tak mau mendengarnya. Ia dan permainan pisau itu tak lagi terpisahkan. Mat tahu, apa yang bisa ia lakukan di dunia ini. Tak seorang pun boleh merenggut apa yang sudah ia peroleh. Ia Mat Pisau, dan Ia harus tetap dipanggil seperti itu (Mat Pisau, 2024:11).
Mat mengaku kalah menghadapi dunia, ia tak keberatan untuk menghilang, untuk hidup dalam kegelapan. Tapi ia ingin dunia terus mengingatnya sebagai Mat Pisau. Enam belas pisau belati beterbangan ke arah Emi, dan dengan itulah ia memaksa dunia untuk mengingatnya (Mat Pisau, 2024:23).
Upaya Mat dalam Memenuhi Keinginannya
Kutipan pertama
Permainannya kali ini sungguh bikin kecakapannya memutar-mutar pisau di antara jari-jemarinya tampak seperti permainan kekanak-kanakan. Kenyataannya memang begitu. Banyak anak lelaki lain bisa melakukannya, meskipun belum ada satu pun yang menyamai kecepatannya. Tapi apa pedulinya, cepat atau lambat, jika mereka terus melakukannya, anak-anak itu pada akhirnya akan semahir dirinya. Sebelum itu terjadi, Mat Pisau memutuskan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya beberapa langkah di depan kawan-kawannya. Bahwa ia yang terbaik. Bahwa ia si anak hebat itu (Mat Pisau, 2024:9).
Kutipan kedua
Mat tidak cari makan. Mat kembali ke pasar dan membeli dua bilah belati pramuka dari toko perkakas sekolah. Kembali ke rumah, ia mengasahnya perlahan, membuat mereka mengilap, lancip, dan tajam. Kisah Mat Pisau sebagai seorang penambul pun bermula, dan seperti yang ia duga, anak-anak di sekolah memang dibikin terpana (Kurniawan, 2024:14).
Kutipan ketiga
Mat mencari cara untuk melarikan diri dan menyelamatkan pisau-pisaunya Ia telah berjanji tak akan berpisah dengan mereka. Ia masuk ke kelas. Ketiga pisau ia masukkan ke dalam tas, lalu berlari ke arah jendela di sisi lain kelas. Ia membuka jendela, ia melompat ke kalang, tangannya memegangi selungkup, dalam sekali entak ia berhadapan dengan sebuah gang kecil. Sial, dua orang guru sudah berada di sana. Mereka dengan mudah menyergapnya, memiting, dan membantingnya (Mat Pisau, 2024;17).
Kutipan empat
Sesuatu yang hangat memenuhi dadanya. Selama beberapa waktu ia tak tahu, dari mana rasa hangat itu datang. Kemudian ia menyadarinya dan mengetahui apa namanya. Amarah. Ia tak pernah mengetahui perasaan semacam itu ada, tapi kini ia memilikinya. Ia berjanji akan memperoleh pisau-pisaunya kembali, atau mencari penggantinya. Ia akan memainkan mereka di tangannya, sebab itulah cahayanya (Mat Pisau, 2024:19)
Moral Tak Lagi Membatasi Tindakan Mat
Kutipan pertama
Polisi-polisi itu meminta Mat Pisau menyerahkan ketiga bilah pisaunya. Mat tak mau. Ia mengambil tasnya, berjalan keluar kelas, melangkah menuju gerbang sekolah. “Serahkan pisaumu, bocah,” kata polisi satu lagi. Mat tak mau mendengar. Menyerahkan pisaunya, hanya berarti menyerahkan seluruh cahaya yang menerangi hidupnya. “Berhenti bocah, atau kutembak!” Polisi itu mulai mengancamnya, dan sungguh ia mengeluarkan senjata api dari sarungnya. Mat menoleh sekilas, tapi kemudian kembali berpaling. Tembak saja, pikirnya, dan kembali melangkah menjauh (Mat Pisau, 2024:20)
Kutipan kedua
Emi kembali berteriak kepadanya, “Mat! Lepaskan aku, Mat! Tolol, buka! Anjing, babi, monyet! Apa itu? Belati? Kau bawa pisau belatimu? Bangke, mau bunuh aku? Bunuh aja. Aku gak takut. Bunuh, Mat! Bunuh! Kamu tak bakal berani. Cemen! Lihat aku, tolol. Li…”
“Diam!”
Sambil membentak, Mat berbalik dan melemparkan pisau belatinya ke arah Emi. Belati meluncur deras, abu-abu, menciptakan ekor bayangan yang panjang (Mat Pisau, 2024:23)
Kepada Emi, Mat berbisik, “Kau anak baik, Emi. Aku tak akan menyakitimu. Aku hanya ingin, kaubilang kepada mereka, Mat hebat melemparkan enam belas pisau. Kau saksinya. Hanya bisa dilakukan satu orang. Namanya Mat Pisau (Mat Pisau, 2024:24)
Dengan demikian, Eka Kurniawan menceritakan Mat sebagai tokoh yang kurang memiliki moral dan akan melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya. Hal tersebut terlihat dari Ego yang memicu Mat mengambil tindakan dan keputusan apa saja selama dapat memenuhi kepuasan Id yang berupa diakui oleh dunia sebagai Mat Pisau.
Kesimpulan
Freud, S. (1923). The ego and the id. International Psychoanalytic Press.
Pradopo, R. D. (2002). Kritik Sastra Modern.








![Iran-Israel [Foto by : Getty Images]](https://suarakreatif.com/wp-content/uploads/2025/06/iran-and-israel-flags-together-iran-and-israel-conflict-veronaa1-400x225.jpg)


