Sastra  

Berat

Cerpen oleh Listian N

overweight woman
overweight woman (www.freepik.com)

Lula melirik ke bawah, ke layar digital di antara kedua telapak kakinya. Layar itu setengah berkedip, menunjukkan lima angka berderet: 130,00 kg, 140,00 kg, dan besaran angka itu terus bertambah. Kemudian bunyi derit terdengar dari bawah kakinya. Layar digital itu mati.

Lula melangkah turun dari timbangan yang baru dibelinya pagi tadi. Diperiksanya alat pengukur berat badan itu, dan kemudian disadarinya bahwa alat itu telah rusak.

Ini ketiga kalinya dalam sepekan ini, Lula. Suara dalam kepala Lula berbisik, sedikit mencemooh.

Tiga timbangan seharga tak kurang dari delapan ratus ribu rusak dalam sepekan. Tidak logis, seru suara lain dalam kepala Lula. Seharusnya timbangan barusan punya kapasitas sampai 150 kg. Kenapa bisa rusak juga?

Tentu saja karena kau gendut seperti sapi, Lula. Suara mencemooh dalam kepalanya berbisik lagi.

Diam! Diam! Pekik Lula, tetapi dalam benaknya. Perempuan itu menjambak rambutnya dengan keras, menciptakan rasa sakit yang dapat mengalihkan suara-suara dalam kepalanya.

***

Lula beranjak menuju lemari pakaian di sisi kamarnya yang lain. Ada sepotong cermin panjang di pintu lemari itu.

Bayangan pada permukaan cermin menunjukkan seorang perempuan tambun. Dari atas ke bawah, lekuk tubuhnya seperti gelembung. Pipi tembam. Lipatan ganda di leher. Bahu yang bulat seperti balon, diikuti sepasang lengan bergelambir. Dada dan perut seperti labu raksasa, besar dan berlipat-lipat. Di area perut, lemak menonjol menjulur menutupi pangkal pahanya.

Lihat, seperti sapi! Suara mengejek di kepala Lula merusuh lagi, membuat perempuan itu makin gusar.

Lula merasa tertekan, amat sangat hingga isi kepalanya terasa hendak keluar. Air mata mengucur dari matanya, mengalir di lekuk-lekuk pipinya.

Perempuan itu kemudian merebahkan diri ke atas kasur, membuat suara jeritan pilu dari pegas-pegas kasur dan kaki ranjang. Bahkan, ranjang mahal itu nyaris menyerah menahan bobot tubuhnya. Memikirkan itu, tak pelak membuat tangis Lula makin menjadi.

***

Dihamburnya barang-barang yang tersusun rapi di atas bufet pendek sebelah ranjangnya. Belasan botol-botol berisi obat pelangsing berserak, memuntahkan pilis-pilis berwarna-warni ke lantai. Lula menginjak-nginjak obat-obatan itu, menciptakan getaran serupa gempa bumi skala kecil.

“Tidak berguna!” desis Lula pada pilis-pilis tak berdosa itu, “Sampah semuanya!”

Tiba-tiba, dering ponsel terdengar dari laci bufet. Lula menarik laci dengan kasar, meraih sumber dering dengan marah. Hendak dibantingnya gawai berlogo apel tergigit itu, tetapi segera urung. Sebab, nama dan foto yang tertera dalam layarnya adalah Sigit, kekasihnya.

Baca juga: Wasiat Ibu

***

Sebuah panggilan video. Dari Sigit, kekasih pujaan hatinya, juga sumber nafkahnya selama ini. Seharusnya Lula merasa senang, tetapi yang ia rasakan sebaliknya.

Benar … apa yang akan dikatakan Sigit melihat kekasihnya sudah menjadi hewan ternak? Suara dalam kepala Lula mengejek lagi.

Lula menghempas ponsel di tangannya ke dalam meja, kemudian merebahkan kepala di atasnya. Ia mengabaikan panggilan itu.

Hal ini bukan yang pertama kali dilakukan Lula. Tiga pekan lalu, perempuan itu juga mengabaikan panggilan video dari Sigit dan hanga hanya berkomunikasi via pesan teks atau suara tanpa gambar. Tiga pekan yang lalu juga menjadi awal di mana Lula menyadari bahwa tubuhnya mulai membengkak seperti gajah.

***

Semua berawal dari acara makan siang bersama kawan-kawan sosialitanya di sebuah restoran mewah. Lula, terkenal sebagai seorang vegetarian, memesan semangkuk penuh salad dan segelas air perasan jeruk. Seorang temannya berseloroh bahwa lemak di tangan Lula sudah mulai terlihat dan menciptakan gelambir kecil.

Tak terima dengan perkataan itu, Lula langsung pergi meninggalkan mereka. Lula pergi karena perkataan itu benar. Lengannya memang mulai bergelambir.

Tidak berhenti di situ, kenyataan lain menggempur Lula. Begitu ia masuk ke dalam mobil dan menduduki kursi kemudi, mobilnya jomplang ke satu sisi. Ia baru menyadari itu. Ia baru memikirkan itu.

Bagaimana mungkin? Aku hanya makan sayur dan buah-buahan, serta sedikit telur hewani selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin aku bisa jadi gendut?

Lalu suara mengejek berbisik dalam kepala Lula. Sapi juga hanya makan rumput, tapi tetap jadi gemuk.

***

Lula sudah muak dengan nama hewan itu. Setiap kali ia merasa cemas karena pertambahan bobot badannya, suara mengejek dalam kepalanya akan menyebutnya sebagai sapi.

Tiba-tiba ponsel Lula berdering lagi. Kali ini hanya bunyi pendek karena yang diterima adalah pesan singkat.

Lula membuka pesan itu. Dari Sigit, berbunyi, “Sayang, aku kangen ….”

“Aku juga, Sayang. Maaf belum bisa ketemu.” Ketik Lula kurang dari lima detik.

“Kenapa, Sayang? Kamu menghindar terus. Sudah 3 minggu, loh. Sudah lama kita enggak gitu-gitu ….”

Lula tersenyum membaca pesan Sigit. Benaknya membayangkan tubuh Sigit yang liat dan padat. Gairahnya bangkit membayangkan lengan kekar Sigit melingkari pinggulnya dan … ah, bayangan Lula seketika hancur karena suara dalam kepalanya mengejek lagi.

Lihat badan gendutmu, Lula! Cocok sekali jika Sigit hendak berlatih rodeo!

Lula memekik sambil menjambak rambutnya. “Diam! Diam! Diaam!”

Begitu keras jambakan Lula sampai-sampai rambut panjangnya rontok. Sayangnya, suara mengejek dalam kepalanya masih belum berhenti.

Suara itu baru berhenti ketika ponselnya kembali berdering. Itu panggilan suara dari Sigit.

***

“Ha-halo …,” sapa Lula ragu.

“Halo, Sayang,” balas suara dari seberang sana. “Aku sudah keluar dari bandara, nih. Sekarang lagi naik taksi ke apartemen kamu.”

Lula panik dan menjatuhkan ponsel dalam genggamannya. Perempuan itu mondar-mandir, mengobrak-abrik seluruh lemari di kamarnya.

Selama ini, Lula dan Sigit berhubungan jarak jauh karena pekerjaan Sigit mengharuskan lelaki itu menetap di Singapura. Namun, kadang kala, ketika Sigit sedang bernafsu, lelaki itu pasti terbang ke kota Lula. Bahkan ada masa ketika Sigit bolak-balik sampai 3 kali dalam sepekan hanya untuk bisa tidur dengan Lula.

Yang membuat Sigit tergila-gila seperti itu, tak lain dan tak bukan, adalah jimat pelet milik Lula. Jimat itulah yang dicari-cari Lula sekarang. Perempuan itu berharap jimat itu akan melakukan keajaibannya sekali lagi, yaitu membuat Sigit keranjingan pada dirinya meskipun tubuhnya sekarang menjadi gendut.

***

Sejak Sigit menceraikan istrinya, Lula memang tidak pernah lagi menggunakan jimat itu. Ia pikir, dengan kecantikannya yang tiada tara, efek pelet itu dapat dipertahankan dengan sendirinya. Akan tetapi, Lula sekarang tidak cantik lagi karena berat badannya yang melambung. Tidak ada dokter maupun dukun yang dapat membantu keadaannya. Lula tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

“Ketemu!” seru Lula, merogoh bungkusan kain putih yang menyelip di antara lipatan-lipatan bajunya.

Lula membuka bungkusan itu, mengeluarkan semacam mumi mungil dari dalamnya. Ia mencelup mumi itu ke dalam seember air. Air celupan itu ia minum sebagian dan sisanya ia guyurkan ke tubuhnya.

Di saat yang sama, bel apartemen berbunyi. Lula segera membalut dirinya dengan jubah mandi dan bergegas menuju pintu.

***

Jantung Lula berdebar kencang saat tangannya menarik tuas pintu. Begitu pintu akhirnya terbuka, sosok Sigit sudah menanti dengan sebuket besar bunga mawar di dada. Siigit langsung merangsek masuk dan menerjang Lula penuh gairah.

Berhasil! Jimat itu berhasil! Lula memekik girang dalam hati sembari menikmati bibir Sigit yang bermain-main di lehernya.

Akan tetapi, semuanya berubah dalam sekejap mata. Sigit tiba-tiba mendorong Lula dengan kasar sampai-sampai perempuan terjatuh dan membentur lantai.

“Sialan! Siapa kau?” Sigit mengelap bibirnya, merasa jijik. Lelaki itu mengendus jaket kulitnya, kemudian mendengus seakan menghidu aroma busuk.

***

“A-ku Lula, Sayang!” Lula bangkit dan berusaha meraih Sigit.

Sigit menepis tangan Lula. “Bohong! Lula tidak jelek dan bau seperti kamu?”

Lula merengkuh Sigit yang hendak pergi. Bibirnya tak berhenti bergerak memohon. “Ini aku, Sayang. Jangan pergi! Please, jangan pergi!”

Sigit berusaha keras melepaskan diri dari Lula yang memeluknya erat seperti gurita. Akhirnya, setelah segala upayanya gagal, Sigit menjadi kalap. Lelaki itu mencabut seikat bunga mawar dari buket di tangannya lalu menusuk perut Lula dengan pangkal bunga yang terpotong meruncing.

Cengkeraman Lula pada Sigit terlepas. Perempuan itu terjerembab menahan perih, sementara Sigit pergi tanpa menoleh lagi.

***

Tergeletak tak berdaya, Lula menatap cairan hitam dari perutnya mengucur dan membasahi lantai. Cairan itu bukan darah, juga bukan lemak. Lula bergidik ngeri.

Cairan itulah yang mengisi tubuhmu, seperti seekor sapi gelonggongan. Suara mengejek itu berbisik lagi, tetapi kali ini tidak di dalam kepala Lula. Suara itu berasal dari sesosok iblis di sudut ruang, mengintip nakal dari balik daun pintu.

Perempuan tanpa busana, berkepala sapi, melambaikan tangan dari pojok gelap. Bisikannya terdengar lirih di telinga Lula yang mulai kehilangan kesadaran.

“Pesan dari Alul, perempuan yang suaminya kau rebut dan bayinya kau gugurkan: penghakimanmu baru saja dimulai.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *