F1 Tolak Tim Andretti, Kemunduran F1?

Perubahan regulasi 2026 di F1 mulai menarik beberapa tim balap untuk bergabung di balapan jet darat ini. Salah satunya ialah Andretti Motorsport, yang merupakan salah satu tim balap terbesar yang sukses berkiprah di beberapa ajang balap. Tim Andretti bahkan sudah sangat siap dari sisi sumber daya dalam program F1 nantinya. Namun F1 menolak proposal Tim Andretti. Kenapa?

Rendra Yuniarto
Michael Andretti Indianapolis 500 2017 Sumber: Zach Cantanzareti, Wikimedia

Sekilas Tim Andretti

Tim Andretti Formula ePrix 2014.
Sumber: Velocidad Total, Wikimedia

Tim Andretti bukanlah tim kemarin sore yang tiba-tiba ingin balap di F1. Tim asal Amerika Serikat ini sudah memulai perjalanan balap mereka dari tahun 90-an, dimulai dari CART yang sekarang menjadi Indycar. Indycar adalah balapan open wheels kelas paling tinggi di Amerika Serikat. Tim ini dibentuk oleh Michael Andretti, yang merupakan anak dari Mario Andretti yang merupakan juara dunia F1 tahun 1978. Setelah menaklukan Indycar, Andretti melebarkan tim balapnya di ajang Supercar di Australia dan juga ikut dalam ajang Formula E.

Langkah Sulit Menuju F1

Michael Andretti Indianapolis 500 2017
SUmber: Zach Cantanzareti, Wikimedia

Dengan modal pengalaman balap dan sumber daya yang ada, Michael Andretti merasa mampu untuk ikut dalam kompetisi F1. Terlebih Ketua FIA, Mohammed Bin Sulayem, selaku regulator, memberikan lampu hijau adanya tim ke-11 di F1. Masalah dimulai ketika F1 selaku entitas pelaksana balap, malah menolak kehadiran tim ke-11. F1 pada awalanya merasa hadirnya Tim Andretti tidak akan memberikan value komersil tambahan. Tim Andretti langsung menjawabnya dengan menggandeng General Motors (GM) sebagai partner sekaligus pemasok mesin di masa depan.

Tak habis akal, F1 mematok anti-dilution fund sebesar 600 juta dolar Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, anti-dilution fund  ada diangka 200 juta dolar Amerika Serikat. Hal ini didasarkan pada Concorde Agreement yang juga menjelaskan struktur keuangan serta pembagian hadiah. Anti-dilution ini bertujuan agar jumlah pembagian hadiah kepada tim petahana tidak berkurang. Hal ini menjadi bahan pertimbangan Tim Andretti yang merasa bahwa F1 sangat serakah.

Setelah “digantung” nasibnya, akhirnya F1 resmi mengeluarkan pernyataan untuk menolak proposal Tim Andretti. Ada beberapa poin yang dirasa begitu aneh mengenai alasan F1 menolak mereka, diantaranya F1 takut akan value F1 malah akan diambil oleh Tim Andretti, atau ketidakmampuan Tim Andretti untuk langsung kompetitif. Alasan yang terdengar sangat dibuat-buat. Fans banyak yang kecewa akan keputusan ini. F1 dirasa malah kontradiktif dengan tujuan awal untuk ekspansi lebih besar lagi. Banyak fans yang juga kecewa bahwa F1 hanya mementingkan nilai komersil dari suatu tim, tanpa melihat heritage dari tim tersebut layaknya Tim Andretti.

Baca juga: Tim di Formula 1: Enggak Cuma Pembalap sama Mekaniknya

Andil FIA

Sulitnya tim baru masuk ke grid F1 memang sudah bisa diprediksi, dengan melihat penolakan dari beberapa team principal di awal pemberitaan ini. Namun semua ini malah menjadi drama karena  FIA selaku regulator dan F1 selaku penyelenggara tidak nyambung. Hubungan Bin Sulayem selaku ketua FIA dan Stefano Domenicali selaku ketua F1 dirasa tidak harmonis lantaran beberapa tindakan Bin Sulayem yang terkesan gegabah dan terlalu ikut campur dalam permasalahan di F1. Belum lama, Bin Sulayem termakan berita media yang tidak kredibel, soal conflict of interest antara Toto Wolff selaku team principal Mercedez dengan Susi Wolff selaku direktur F1 Academy yang juga merupakan istri Toto. Bin Sulayem langsung menyelidiki tanpa tabayyun terlebih dahulu. Sontak, Toto Wolff yang memiliki pollical power yang besar di F1 langsung merespon dengan pernyataan bahwa tidak ada konflik tersebut dan tuduhan tersebut tak berdasar dengan dukungan dari team principal lainnya.

Ketua FIA Mohammed Bin Sulayem Sumber: Huzayen, Wikimedia

Mungkin semua ini bisa diredam kalau saja FIA dan F1 mediskusikan secara bilateral tentang proposal Tim Andretti, setidaknya mendiskusikan bagaimana situasi dan kondisi F1 sekarang kepada Tim Andretti.

Langkah Selanjutnya Tim Andretti

F1 tidak menutup kemungkinan Tim Andretti masuk ke F1 sepenuhnya. Dalam pernyataanya, F1 juga membuka opsi  dapat masuk ke grid F1 tahun 2028. Hal tersebut lebih kepada F1 mengharapkan adanya penyuplai power unit baru, yang mana GM dapat bergabung bersama tim. Namun jika Tim Andretti benar-benar ingin masuk paling tidak 2025, ada beberapa opsi yang bisa dipilih. Opsi membeli tim petahana bisa dipilih. Pilihan masuk akal ialah Tim HAAS. Tim ini masih struggle dalam pendanaan, dan sama-sama memiliki DNA Amerika Serikat. Tetapi, melihat kondisi sekarang nampaknya hal tersebut tidak bisa dilangsungkan dalam waktu cepat.

F1 di era Liberty Media, sejatinya sudah berubah menjadi lebih inklusif. Namun dengan menolak tim baru untuk masuk karena alasan pembagian uang, rasanya F1 agak maruk dan justru terkesan arrogant dengan label “Pinnacle of Motorsport”. Seharusnya F1 harus tetap mengedepankan kompetitifnya balapan di mana dirasa sudah terlalu bosan dengan dominasi Max Verstappen. Bandingkan dengan balap ketahanan World Endurance Championship (WEC) yang justru banyak pabrikan ingin berpartisipasi. Biaya yang dibutuhkan pabrikan jauh lebih murah ketimbang harus berlaga di F1. Sehingga balapan WEC sekarang justru lebih kompetitif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *