Suara Gen Z: Penolakan Statement Bahwa Gen Z Pemalas

iim maya sofa
Suara Gen Z: Penolakan Statement Bahwa Gen Z Pemalas
Suara Gen Z: Penolakan Statement Bahwa Gen Z Pemalas

Gen Z yang dikenal sebagai generasi si paling mental health kini sedang ramai diperbincangkan. Beberapa konten kreator di Youtube dan media sosial lainnya memberikan sebuah statement bahwa Gen Z adalah generasi pemalas.

Pada kesempatan kali ini, sebagai salah satu makhluk yang terhimpun dalam ruang lingkup kelahiran tahun Gen Z, saya ingin menyampaikan sebuah penolakan dalam bentuk opini.

Opini ini saya bangun sesuai dengan pengalaman, pembelajaran dan pengamatan terhadap diri saya dan lingkup pertemanan yang mayoritas Gen Z.

Statement apa yang dilabelkan pada Gen Z?

Sebelum memberikan sebuah opini untuk menolak sebuah statement, maka baiknya kita mengetahui terlebih dahulu terkait pelabelan yang diberikan publik kepada Gen Z.

Pertama, Generasi Z ini dikenal penganut slow living untuk mempertahankan mental health (kesehatan mental). Demi menjaga kesehatan mental yang dimiliknya, generasi ini menghindari adanya tekanan dan membutuhkan banyak liburan atau biasa disebut dengan healing.

Kedua, Ambisi yang tidak stabil. Generasi Z ini dikenal memiliki ambisi yang tidak stabil. Artinya mudah berambisi dan juga mudah hilang ambisi. Hal tersebut juga berlaku pada motivasi, mudah termotivasi dan mudah hilang motivasi.

Ketiga, tidak mau repot dan suka instan. Generasi ini memang dikenal suka dengan hal-hal yang mudah dan tidak menyulitkan diri sendiri.

Keempat, apatis dan cuek terhadap hubungan sosial. Generasi Z dikenal dengan pola hidup yang individualis, cuek dan tidak mau banyak terlibat pada masalah sosial yang terjadi pada sekitar.

Kelima, pemalas. dari keempat statement di atas maka yang kelima ini adalah kumpulan atau hasil dari empat statement di atas. Keempat hal tersebut bermuara menjadi satu nilai yang diberikan pada Gen Z sebagai generasi paling pemalas.

Statement ini tidak sepenuhnya salah, namun di sini saya sebagai Gen Z ingin memberikan sebuah jawaban terhadap statement tersebut.

Meskipun saya tahu bahwa power yang saya miliki tidak begitu berperan, tapi saya tidak akan malas untuk bersuara.

Penyebab Gen Z mendapat julukan pemalas

Sebagai kelahiran 1999 yang masuk rentang tahun Gen Z, saya mengalami masa transisi mode gaya hidup modern. Bahkan untuk generasi di atas 2005 pasti mengalami masa pertumbuhan di era yang lebih modern.

Menurut saya, ini akan berbeda dengan generasi sebelum Gen Z, mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengenal yang namanya sebuah proses.

Pada bab ini saya akan menyampaikan sebuah penolakan yang akan saya uraikan sesuai bahan yang saya dapatkan untuk membangun opini ini.

Sebuah anggapan bahwa Gen Z menjadi generasi pemalas itu semua berawal dari pengalaman di dalam lingkungan ia tumbuh. Semua berawal dari sana. (tapi saya tidak membenarkan bahwa Gen Z benar-benar pemalas).

Sederhananya, Generasi Z ini hidup di era yang mana serba mudah, logikanya manusia modern mana yang lebih memilih sulit jika ada yang mudah.

Kemudahan inilah yang nantinya akan membawa generasi ini terbiasa dengan hal-hal yang instan dan tidak terbiasa dengan yang namanya sebuah proses.

Misalnya nih, hampir semua dari populasi Gen Z pasti menggunakan smartphone, media sosial, dan teknologi-teknologi canggih lainnya. Dari situlah, kami menerima banyak informasi, mulai dari hal yang positif hingga negatif.

Namun, tak selamanya yang kita konsumsi adalah yang buruk, melainkan juga mengonsumsi hal yang baik untuk perkembangan diri sendiri. Seperti misalnya cerita kesuksesan para influenser dan tokoh publik lainnya yang sering kita temui di media sosial dan memotivasi kita.

Apa yang ada di media sosial ini hanyalah sebuah pencapaian, maka dari itu Gen Z sangat mudah membangun ambisi besar untuk bercita-cita. Akan tetapi, problemnya adalah generasi ini kehilangan informasi terkait prosesnya.

Memang media sosial sangat berpengaruh terhadap pola pikir kita, bahkan saya yakin tidak hanya generasi Z saja. Nah, dari keterbiasaan instan, dan hanya mendapat asupan cerita kesuksesan saja, tanpa adanya pengetahuan sebuah proses, maka menjadikan generasi ini menjadi generasi yang bingung.

Hal ini juga disebabkan karena dari Generasi Z tidak semuanya tahu cara mencapai sebuah kesuksesan itu seperti apa.

Generasi Z hanya mengetahui cerita sukses melalui media sosial yang instan, mudah, dan sampai pada tahap membangun ambisi tanpa mengetahui cara eksekusinya.

Inilah yang menjadikan Gen Z kerap mengalami ketidakstabilan ambisi dan motivasi, karena kebingungan dengan apa yang harus ia mulai terlebih dahulu.

Menanggapi statement bahwa generasi ini terkenal cuek dan apatis, menurut saya sikap ini tidak hanya dimiliki oleh generasi Z saja. Ya, meskipun nyatanya memang mayoritas sikap itu dimiliki generasi Z.

Sikap apatis dan cuek ini sangat mudah dicari tahu penyebabnya, yaitu cara berkomunikasi yang sudah jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.

Sederhananya, dulu ketika seseorang bepergian dan tidak tahu jalan, maka akan mencari orang dan bertanya padanya. Namun saat ini? smartphone telah dilengkapi GPS dan Maps yang mana tidak membutuhkan arahan dari orang lain.

Hal-hal sepele seperti ini memang sangat berpengaruh pada komunikasi langsung. Dan tentu akan menjadikan kualitas komunikasi kurang baik. Dari hal-hal yang dianggap sepele ini, nyatanya mampu berkontribusi besar terhadap kualitas hubungan sosial manusia.

Lalu bagaimana?

Sebagai manusia dalam barisan Gen Z, menuliskan opini ini bukan semata-mata ingin menolak secara mentah-mentah pandangan tersebut. Bagi saya, ini adalah bagian dari refleksi diri untuk menjadi lebih baik.

Dengan adanya opini ini, saya tidak hanya akan berhenti begitu saja, karena jika berhenti begitu saja maka sia-sia tulisan saya ini.

Tulisan ini juga saya tujukan kepada seluruh generasi sesuai istilahnya. Kepada generasi sebelum Gen Z, maka berilah pengertian dan ajarkan sebuah proses pada kami. Kami hidup di era apa-apa mudah dan instan, maka sangat wajar jika kami terbiasa untuk instan.

Kepada Gen Z, yang termasuk saya, mulailah menerima kenyataan bahwa yang kita lihat bukan semata-mata hasil instan, semua memang membutuhkan proses.

Membiarkan diri berada di zona aman dan nyaman tidak akan membuat kita menjadi berlian yang berkualitas. Maka sudah sewajarnya jika kita mengalami kesulitan dan jangan mudah menganggap bahwa kehidupan ini tidak adil.

Semua yang ada di dunia adil, karena hasil itu bagaimana upaya kita. Hasil tidak semudah itu muncul dan ada tiba-tiba. Yang namanya hasil, pasti melalui proses dan tahapan.

Sikap malas tidak hanya ada pada Gen Z saja, sikap malas adalah sikap manusiawi, semua kalangan memiliki sikap tersebut.

Label tersebut tidak sepenuhnya akurat, karena banyak faktor yang mempengaruhi perilaku mereka, termasuk kemudahan akses informasi dan adaptasi terhadap teknologi modern.

Sederhananya, untuk Gen Z gunakanlah teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti. Dalam mencapai tujuan dapat membantu mengimbangi antara kemudahan dan usaha yang diperlukan.

Dukungan dan pemahaman dari generasi sebelumnya dapat membantu kami para Gen Z untuk lebih termotivasi dan efektif dalam menghadapi tantangan ke depannya.

Membangun komunikasi yang lebih baik dan saling memahami antar generasi dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif.

Sekian opini dari saya tentang likaliku menjadi Gen Z, dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sampai jumpa di opini berikutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *