Sastra  

Satu Hari Bersama Ibu

Ressy Octaviani
Satu Hari Bersama Ibu (foto: freepik.com)
Satu Hari Bersama Ibu (foto: freepik.com)

Satu Hari Bersama Ibu – Selama dua dekade hidup, Raya merasa ada dinding tak kasat mata yang berdiri kokoh di antara dirinya dengan Bu Lydia. Ibunya itu terlalu sibuk dan hampir tidak punya waktu untuk memperhatikan hal-hal kecil yang sering Raya lakukan. Setiap harinya, pagi-pagi sekali, Bu Lydia sudah bersiap pergi bekerja dan pulang saat malam hampir larut. Sebaliknya, Ayah, yang memiliki pekerjaan lebih fleksibel, adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi tempat Raya berbagi cerita. Tapi, sejak Ayahnya sakit dan meninggal dunia dua tahun lalu, hubungan Raya dan ibunya menjadi semakin jauh. Raya merasa, tak ada cerita yang pantas ia bagi bersama ibunya. Bahkan untuk menemaninya sarapan pun, ibunya tak pernah sempat.

Baca juga: Puisi-Puisi WS Rendra Tentang Ibu

***

Suatu pagi, di kampus, Arief, pacarnya menyodorkan pamflet lomba video bertema “Satu Hari Bersama Ibu” untuk memeriahkan Hari Ibu.

“Ray, ikut lomba ini deh, seru kayanya. Kamu bikin video bareng ibumu.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Males ah.” Ucap Raya singkat

“Cuma sehari doang, Ray. Nanti aku bantu editin videonya.” bujuk Arief, pacarnya itu memang hobi mengedit video.

“Buat apa? aku gak pernah ada kebersamaan sama Ibu, terus tiba-tiba ikut lomba kaya gini? Lagian Ibu juga pasti gak bakal mau.”ujar Raya ketus.

“Ya, dicoba dong. Cuma sehari doang kok. Lagian besok weekend, ibumu pasti ada di rumah kan?” desak Arief sambil nyengir.

“Kapan lagi kamu bisa punya momen bareng Ibu? Ayo lah sekali ini aja.”

Raya menatapnya malas “udah lah, nggak usah maksa deh, rief.”

Raya diam dengan wajah kesal, tapi Arief terus memandang dengan tatapan memohon. Akhirnya dia menyerah. “Yaudah, aku coba. Tapi kalau gagal, awas ya. Jangan paksa aku buat ikut lomba beginian lagi.” Ucapnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Arief

***

~Malam Hari~

Raya berdiri ragu di depan pintu ruang makan. Ibunya baru pulang setengah jam lalu dan kini sedang duduk di meja makan sambil menatap layar ponselnya.

“Bu…” panggil Raya pelan.

Bu Lydia menoleh sedikit kaget. “Hm? Ada apa?”

“Di kampusku ada lomba buat video spesial Hari Ibu. Aku mau ikut, Ibu gimana?”

“Video? Maksudnya kita bikin video bareng gitu?” tanya Bu Lydia, bingung.

“Iya, Bu… Temanya keseharian ibu dan anak.” jawab Raya cepat.

Ada jeda sejenak sebelum Bu Lydia mengangguk pelan. “Yaudah boleh. Mulai kapan syutingnya?

Raya tidak menyangka ibunya langsung setuju. Ia yang malah menjadi sedikit gugup. “Besok pagi udah siap ya.” jawabnya.

***

~Keesokan Harinya~

Bu Lydia keluar kamar dengan penampilan casual. Celana jeans, kemeja santai, dan rambut yang diikat sederhana.

“Gini oke nggak?” tanya Bu Lydia, sambil melihat Raya yang sedang sibuk mengutak-atik pengaturan kamera ponselnya.

Raya melirik sekilas. “Terserah, Bu. Nggak ada dress code kok.”

Hari itu terasa aneh. Bu Lydia seakan menjadi sosok baru yang belum pernah Raya lihat. Mereka memulai hari dengan sarapan bubur ayam di warung pinggir jalan, tempat kenangan yang dulu sering dikunjungi Raya bersama almarhum Ayahnya.

“Enak ya buburnya. Kamu sering makan disini?” tanya Bu Lydia sambil meniup sesendok bubur.

“Dulu sama Ayah,” jawab Raya singkat.

Suasana berubah hening. Bu Lydia berhenti mengaduk buburnya. “Kok gak pernah ajak Ibu?”

Raya mendengus pelan. “Kalau Raya ajak, memang Ibu ada waktu?

Ucapan Raya sontak membuat suasana seketika menjadi canggung.

***

~Setelah Sarapan~

Raya mengajak ibunya ke taman kota, salah satu tempat yang ia pikir akan bagus untuk dijadikan latar video. Arief sempat mengiriminya pesan, “Rekam hal-hal kecil aja ya, Ray. Nanti tinggal kususun biar jadi cerita.”

Awalnya, kegiatan mereka terasa kaku dan canggung. Namun, lambat-laun suasana kebersamaan mengalir apa adanya.

“Bu, lihat ke kamera dong. Senyum yang manis. Jangan kaya lagi mau presentasi di kantor gitu.” ledek Raya sambil menunjuk kamera.

“Ibu gak biasa, nih. Kaya gini bukan?” tanyanya, sambil tersenyum kaku.

Mereka sampai di spot bermain anak-anak, Bu Lydia langsung duduk di ayunan.

“This is where you used to love playing,” kata ibunya sambil tersenyum kecil, seolah sedang membayangkan masa kecil anaknya.

Raya mengerutkan dahi. “Ibu tahu?”

“Tahu lah. Ayah kan sering cerita.”

Raya terdiam sejenak, lalu mulai merekam ibunya. Kamera ponselnya menampilkan wajah Bu Lydia yang tersenyum kecil di ayunan, sambil sesekali merapikan rambutnya yang terbang tertiup angin.

“Lihat ke sini, Bu,” kata Raya pelan.

Bu Lydia menoleh, untuk pertama kalinya, Raya melihat ibunya tampak santai, sangat berbeda dari sosok yang biasanya sibuk dengan urusan pekerjaan.

***

~Hari Presentasi di Kampus~

Hari presentasi pun tiba. Di kampus, video mereka membuat seluruh ruangan sunyi. Layar menampilkan potongan video Bu Lydia yang diam-diam merekam dirinya bersama Raya, saat anaknya itu tertidur di sofa setelah syuting seharian. Raya terdiam melihatnya, karena tak tahu-menahu tentang video itu.

Namun, tiba-tiba, potongan rekaman menunjukkan hal mengejutkan. Bu Lydia terlihat sedang menyiapkan bekal untuk Raya. Ia memasukkan nasi goreng sosis kesukaan Raya ke dalam kotak bekal, menambahkan beberapa buah favorit Raya, dan menyusun tumblr air minum ke dalam tas kuliahnya.

Adegan berpindah ke potongan video saat Bu Lydia memeriksa sepatu Raya. Dengan hati-hati, ia membersihkan sedikit debu dari sepatu sport itu.

Rekaman berpindah lagi ke Bu Lydia saat mengecek kebutuhan Raya, mulai dari peralatan mandi, susu, hingga Snack favorit anaknya. Semua hal kecil yang Raya kira dikerjakan oleh asisten rumah tangganya ternyata dilakukan langsung oleh ibunya.

~Raya Terkejut~

Dia menatap layar, matanya membesar, air matanya tertahan, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat.

“Jadi selama ini… Ibu yang nyiapin semua itu?” suaranya bergetar pelan.

***

Di akhir video, muncul sebuah tulisan:

“Untuk anakku, Raya. Dari Ibu yang diam-diam selalu ada untukmu.”

Air mata tak dapat lagi bisa ditahan oleh Raya. Pandangannya kabur, tangannya tak henti mengusap pipinya yang basah. Di ujung aula, ia melihat ibunya duduk di kursi belakang, menatapnya dengan senyum penuh arti.

Video Raya bersama ibunya berhasil membuat satu aula menangis haru dan mendapat tepuk tangan paling meriah, akhirnya video tersebut menjadi pemenang utama.

Setelah acara selesai, Raya memberikan piala kecil dan hadiah hasil lomba kepada ibunya.

“Selamat Hari Ibu, Bu.” ucapnya pelan.

Bu Lydia memegang piala yang mengingatkannya pada piala masa kecil Raya saat menang lomba menggambar tingkat SD, hadiah yang bahkan dulu tidak pernah ia perhatikan atau sekadar memberi Raya ucapan selamat.

“Makasih, nak.” kata Bu Lydia dengan mata berkaca-kaca.
“Maafin Raya ya, Bu. Selama ini Raya pikir Ibu nggak peduli. Padahal, mungkin Raya yang nggak pernah kasih Ibu kesempatan.”

Bu Lydia memeluk Raya lebih erat. “Raya, anak Ibu. Maaf juga ya kalau selama ini Ibu terlalu sibuk dan gak ada waktu buat kamu.”
Untuk pertama kalinya, Raya dan ibunya sadar bahwa hadiah paling berharga bukanlah piala atau hadiah lain, melainkan waktu-waktu yang akhirnya mereka temukan bersama.

“Cinta tak hanya soal ungkapan atau seberapa sering kita bertemu menghabiskan waktu. Terkadang, cinta justru tersembunyi di balik hal-hal kecil yang sering terabaikan, yang tanpa sadar membuat kita tetap utuh. Seperti doa yang Ibu panjatkan dari jauh.

Selamat Hari Ibu ❤️

~Tamat~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *