Suka dengan novel bertemakan makanan dengan kisah kehidupan yang nyelekit dibaliknya? Mungkin “The Seven Tastes of Love” karya Toko Koyanaga patut masuk dalam daftar bacaanmu.
Kita dipertemukan dengan karakter utama Kiriko Hyuga, seorang staff dapur dalam panti jompo khusus yang awalnya terlihat misterius karena kebiasaannya menutup wajah, baik dengan masker maupun kacamata berwarna. Bukan karena jelek atau memiliki masalah pada wajahnya. Sebaliknya, Kiriko memiliki wajah yang sangat cantik! Tapi, ia justru merasa minder dengan kecantikannya tersebut karena insiden-insiden dalam masa lalunya.
Suaminya yang sangat mengontrol kehidupannya, selalu mengontrol apa yang Kiriko kenakan dan lakukan untuk menjadi istri yang instagrammable. Bahkan, Kiriko dilarang untuk menyentuh dapur. Walhasil, Kiriko harus puas dengan hidangan yang disiapkan sendiri oleh sang suami.
Padahal bagi Kiriko, dapur merupakan tempat favorit yang selalu mengingatkannya akan sosok Nenek, dengan masakan-masakan rumahan yang selalu menjadi pelipur lara masa kecil Kiriko. Kehilangan kebebasan dalam kehidupan pernikahannya menjadi alasan utama mengapa Kiriko menyamar, agar ia dapat kembali memasak di belakang dapur.
Karena memiliki pribadi yang kaku dan penyendiri, Kiriko kesusahan untuk bergaul dengan yang lain, bahkan dengan sepupunya sendiri yang juga bekerja di tempat yang sama. Di tengah situasi rumah dan tempat kerjanya yang terasa dingin, Kiriko bertemu dengan Sajita-san, residen yang paling nyentrik dan keras kepala di panti jompo. Lewat Sajita-san, Kiriko diperkenalkan pada sebuah izakaya bernama Yabu Hebi, di mana Kiriko kemudian menyantap bahkan memasak hidangan-hidangan yang menghangatkan hatinya.
Berikut poin-poin menarik yang menonjol dalam kisah Kiriko dalam Seven Tastes of Love.
Posisi Perempuan yang Pelik
‘Masa sih orang cantik malah insekyur?’
Iya, loh. Novel ini layak dibaca karena lebih menceritakan kisah healing Kiriko dibarengi dengan makanan-makanan lezat, ia juga menggambarkan realitas sosial di mana perempuan itu selalu dalam posisi serba salah. Jelek salah, cantik pun ternyata juga salah. Kiriko yang parasnya cantik malah jadi sasaran fitnah, bahkan menjadi korban stalking dari orang-orang yang dia tidak kenal. Makanya Kiriko jadi kena mental dan semakin membenci wajahnya sendiri.
Kiriko juga menunjukkan bagaimana posisi perempuan sebagai istri rumah tangga yang pelik. Bagaimana ia menghadapi pembatasan dan kekerasan emosional yang dialami banyak perempuan dari orang-orang terdekat. Kemesraan yang ditunjukkan dari foto-foto yang kerap diunggah oleh sang suami serta-merta menutupi kenyataan pahit dari sudut pandang Kiriko sebagai seorang istri.
Ternyata orang cantik pun punya masalahnya sendiri, lho!
Masakan Rumah yang Homey dan Menyentuh Hati
Novel Seven Taste of Love ini memiliki kesan yang homey banget. Makanan-makanan yang ditampilkan adalah masakan rumahan yang menjalin kedekatan antar tokoh. Makanya, makanan rumah awalnya dinarasikan menjadi simbol kedekatan Kiriko kecil dengan neneknya yang selalu membuat hidangan enak yang hangat seperti kroket, senbei, dan onimanju ketika Kiriko sedang bersedih.
Kini saat Kiriko sudah dewasa, kerinduan oleh masakan hangat kembali. Hidangan seperti sup krim dan ampas sake dan “Nasi Dua Warna” muncul untuk menjembatani perasaan-perasaan Kiriko yang selama ini terpendam. Setiap bab diberi judul sesuai dengan makanan yang mejeng. Dijamin nggak ada yang gagal membawa memori-memori mendalam yang trenyuh bagi Kiriko dan yang lainnya.
Berkebalikan dengan masakan rumahan yang menjadi kunci kedekatan emosional tokoh, makanan-makanan mewah nan prestise yang dibawakan terutama oleh suami Kiriko digambarkan sebagai sesuatu yang dingin dan asing di mata Kiriko. Kita dapat melihat bagaimana Kiriko justru menunjukkan reaksi yang canggung dan tak mengenakkan kala menyantap hidangan suaminya yang terkesan ‘sempurna’.
Di sini, makanan mewah seakan ditempatkan menjadi refleksi kehidupan pernikahan Kiriko, yang meskipun terlihat harmonis dan bikin iri, ternyata dingin dan palsu di baliknya tanpa ada kedekatan emosional antara Kiriko dengan suaminya.
Wah, ternyata hal-hal yang bikin kita iri di feed Instagram kita belum tentu seindah yang kita kira ya gaes!
Penuh Red Flag
Terakhir, novel ini juga merupakan panggilan nurani bagi yang masih demen sama yang namanya red flag. Tahu kan, yang namanya red flag? Itu loh, tanda-tanda orang yang membuat hubungan tidak sehat dan harus dijauhi! Novel ini penuh dengan tokoh-tokoh lelaki yang, jujur saja, menyebalkan. Nilai patriarki sangat kental dalam kehidupan pernikahan Kiriko dan keluarga suaminya yang alot.
Tapi memang, orang-orang seperti ini tuh nyata, dan ada dalam kehidupan kita. Novel Seven Tastes of Love ini menunjukkan pada kita, bagaimana sih mereka dapat mempengaruhi kehidupan kita secara negatif dan bagaimana kita harus bersikap. Percaya deh, orang-orang red flag itu kelihatan menarik di ranah anime doang. Kalau di dunia nyata, mending skip deh!
Baca juga: Waspadai Toxic Positivity: Merangkul Kesejatian dan Keseimbangan Emosional
Kesimpulan
Menurut aku, novel ini telak sekali untuk menggambarkan bagaimana lika-liku hidup perempuan dalam suatu kultur dan era tertentu. Melalui The Seven Tastes of Love, Kak Toko Koyanaga bisa mengajarkan kita pentingnya beberapa hal berikut:
Menyanyangi dan menghargai diri sendiri
Tokoh Kiriko merupakan pribadi yang minder dan tidak percaya diri. Karenanya ia tidak mampu bergaul dan menderita di bawah keinginan suaminya. Dengan lebih menyayangi dan menghargai diri sendiri, kita dapat merasa lebih percaya diri dan mengambil keputusan-keputusan bagi diri kita sendiri. Ini juga termasuk menetapkan batasan dalam kehidupan rumah tangga.
Tidak mudah tertipu dengan konten-konten media sosial
Seperti pepatah, ‘rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau’. Kehidupan orang lain yang kita lihat melalui media sosial, mungkin seringkali membuat kita kagum bahkan iri. Namun dalam novel ini, kita melihat bahwa kenyataan dalam hidup Kiriko tidak seindah itu. Intinya, mungkin sekali apa yang kita lihat di media sosial itu hanyalah settingan belaka.
Berani memutus pengaruh negatif dalam hidup kita
Seperti dalam kehidupan Kiriko, kita pun akan bertemu dengan orang-orang yang memberi pengaruh buruk, bahkan mengekang kita. Novel ini menunjukkan ciri-ciri orang-orang yang hanya akan menarik kita jatuh. Berhubungan dengan poin pertama, bila kita lebih menghargai diri sendiri, kita pun juga akan memiliki pendirian teguh untuk berani memutus mereka dari kehidupan kita.
Kak Toko Koyanaga juga berhasil membawakan nuasansa yang menyentuh, hangat, maupun menyayat yang dibawakan beserta hidangan-hidangan yang menemani perjalanan Kiriko yang kompleks. Hangat dikala Kiriko disuguhkan makanan-makanan sederhana namun nikmat khas Yabu Hebi, dan dingin ketika Kiriko berjalan menuju rumah yang dihuninya bersama sosok suami. Hangat ketika ia berbagi dengan orang-orang baru dalam hidupnya, dan dingin dalam foto-foto ‘sempurna’ yang selalu diunggah suaminya. Pokoknya, perasaan pembaca sukses diaduk-aduk oleh penulis dalam setiap lembarnya.
Novel ini juga cocok untuk teman-teman yang suka jejepangan, apalagi makanannya. Varietas makanan tradisional Jepang yang disajikan dalam novel ini juga disertai catatan kaki dari penulis, sehingga kita bisa belajar lebih banyak tentang makanan rumahan Jepang yang lebih dari sebatas sushi dan ramen.
Tapi, untuk pribadi saja sih, aku kurang setuju dengan ending Seven Tastes of Love yang berhubungan dengan perasaan Kiriko di akhir cerita.
Lah, kenapa kok nggak setuju nih??
Duhh, maaf, kalau ini sih, aku nggak bisa spoiler. Mending baca bukunya deh biar paham!







