Pendidikan bela negara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Al Azhar kini menjadi instrumen krusial dalam menghadapi dinamika geopolitik Asia-Pasifik yang kian memanas. Menyadari pentingnya cinta tanah air sejak dini, Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan tersebut melalui kegiatan STUPA 2025. Bekerja sama dengan Dodik Belneg Rindam Jaya, program ini bertujuan mencetak generasi hukum yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dalam menjaga keutuhan NKRI dari ancaman ekstremisme modern.

Kegiatan Studi Praktik dan Asimilasi (STUPA) Mahasiswa Baru
Untuk membangun kesadaran bela negara, maka Fakultas Hukum UAI mengemas kegiatan penerimaan mahasiswa baru (STUPA) dalam konsep bela negara. Kegiatan Studi Praktik dan Asimilasi (STUPA) bagi Mahasiswa Baru Angkatan 2025 sendiri sudah diselenggarakan sejak lama sebagai sebuah tradisi penerimaan bagi mahasiswa baru di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia.
Pada penyelenggaraan STUPA kali ini diadakan sedikit berbeda, karena untuk pertama kalinya melibatkan Depo Pendidikan Bela Negara (Dodik Belneg) Rindam Jaya. Pelibatan Rindam Jaya khususnya Dodik Belneg dalam kegiatan kali ini dalam rangka peningkatan rasa cinta tanah air melalui Pendidikan Bela Negara khususnya bagi mahasiswa baru FH UAI.

Kegiatan ini melibatkan 22 mahasiswa baru dan 22 anggota BEM FH UAI, dan 3 dosen Fakultas Hukum UAI. Pendidikan Bela Negara bagi mahasiswa baru FH UAI merupakan sebuah hal baru dan akan dijadikan sebagai tradisi rutin setiap tahun. Kegiatan Orientasi Bela Negara bagi mahasiswa baru Fakultas Hukum UAI ini memberikan pemahaman akan arti penting bela negara bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.
Baca juga: Kerjasama Fakultas Hukum Universitas Al Azhar Indonesia & Vrije University Amsterdam Law School
Mengingat Rasa Cinta Tanah Air
Pembekalan bela negara ini dirasakan menjadi hal penting mengingat rasa cinta tanah air melalui pendidikan bela negara diperlukan menghadapi tantangan global yang penuh dengan dengan konflik dan sengketa antar negara akhir-akhir ini. Pendidikan dasar bela negara bagi mahasiswa baru FH UAI ini juga menyertakan kesadaran atas kehadiran gerakan ekstremisme/radikalisme yang juga ikut mengancam keutuhan berbangsa dana bernegara.

Seiring dengan perkembangan teknologi, bentuk ancaman pun turut berevolusi. Jika secara tradisional ancaman kehadiran ekstremisme beragama dan ekstremisme komunisme menjadi ancaman, kini di era artificial intelegence hadir pula gerakan ekstremisme berbentuk gerakan neo-nazi dan white supremacy yang menggejala di kalangan kaum muda dan pelajar. Beragam ancaman yang berpotensi mengganggu keutuhan berbangsa harus diwaspadai melalui kesadaran kebangsaan dan bela negara.






