Kisah Seruni, Anyelir, dan Kamboja

Perjalanan kehidupan di dunia adalah langkah menuju keabadian.

Dwi Yulianti
Seruni, Anyelir, dan Kamboja (Foto: pexels)
Seruni, Anyelir, dan Kamboja (Foto: pexels)

Seruni, Anyelir, dan Kamboja – Di bawah bayangan Kamboja, Seruni dan Anyelir masih sibuk memperhatikan hiruk pikuk tukang gali dan mandornya. Entah apakah hari ini rezeki berlimpah diturunkan-Nya, hingga semenjak pagi mereka disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang berkelanjutan. Tak ada waktu beristirahat karena semua meminta segera diselesaikan.

Memang dalam agama dianjurkan untuk segera menyelesaikan segala urusan di dunia agar dapat menjalankan kehidupan selanjutnya yang lebih abadi. Seakan apa yang disampaikan oleh kalimat “Dunia adalah sementara dan akhirat adalah selamanya” menjadi kalimat dengan premis kebenaran yang hakiki. Tak ada yang bisa membantahnya kecuali orang-orang yang tak beriman.

“Mengapa hari ini begitu ramai? Sudah lebih dari tiga galian yang dibuat. Lubangnya juga berjajar. Apakah ada kejadian yang begitu menyedihkan hingga setiap orang sesibuk ini?” tanya Seruni yang selalu memancarkan kesucian warna putihnya. “Aku baru mendengar kabar burung, jika nanti sudah ada yang memberikan kepastian aku akan menceritakannya seperti biasa,” ucap Kamboja sambil meninggikan dahannya mencari tahu.

“Baiklah, kami akan menunggu kabarmu sambil mencari tahu dan mengamati,” balas Anyelir yang mengajak Seruni mencari tahu. “Ayo, kita juga akan menjadi pengamat selama menunggu,” balas Seruni pelan karena tetiba angin menghembus perlahan. Bisikan suara yang terbawa angin berhembus menghampiri, hingga mengusik Seruni dan Anyelir.

“Kecelakaan itu sangat mengerikan, tak ada yang menyangka ini akan terjadi, seharusnya keluarga mereka berbahagia dengan pernikahan ini. Tapi ternyata Allah memiliki rencana yang lain,” lirih suara yang didengar mereka.

***

“Pak, Seruni bukan anak kecil yang harus menuruti semua keinginan bapak bukan!” serunya saat bapak memaksakan kehendaknya lagi. Ini bukan pertama kalinya dia harus mengalah, demi ibu yang sangat dicintainya. “Ini demi kebaikan ibumu, Runi. Bapak sudah menyetujui kamu menikah dengan pengusaha kaya. Anyelir tak pernah mau peduli. Hanya kamu yang bisa menyembuhkan ibumu,” ucap bapak memelankan suaranya.

Bapak takut suaranya akan membangunkan istrinya yang masih tertidur setelah obat yang diminumnya. Penyakit yang diderita istrinya bukan penyakit biasa, dokter tak pernah bisa mendapatkan diagnosa yang sesuai. Dulu saat masih sehat, istrinya adalah wanita yang banyak temannya. Namun kini, saat kondisinya sudah lemah bahkan koma, tak ada satupun yang dekat dengannya.

Jika ibu tersadar dari komanya, maka ibu akan duduk di tempat tidur, meracau, berceloteh dan mengutuk. Hal ini terjadi bukan hanya sekali, tapi sudah lebih dari tiga kali. Dokterpun kini hanya bisa memberikan obat penenang saat ibu mulai meracau tak jelas seperti sore tadi. Hingga akhirnya bapak menghubungi Seruni dan dia datang, bertepatan waktunya untuk pulang sebulan sekali seperti biasanya.

“Pak, Runi akan berusaha keras mencari biaya untuk kesembuhan ibu. Tapi untuk menikahi orang yang bapak pilih, hal ini tidak akan menyelesaikan masalah,” jelasnya. Seruni ingin sekali meninggalkan kampung halamannya mengikuti kedua kakaknya yang sudah lebih dahulu pergi. Kak Anyelir selalu mengirimkan uang pada bapak untuk pengobatan ibu mereka.

Seruni ingin seperti Kak Anyelir yang bisa bekerja dan mendapatkan uang tiga kali lebih banyak dari penghasilannya setiap bulan. “Seruni, bapak hanya ingin kamu bisa berbahagia, ibu biar bapak yang mengurusnya. Jika kamu tidak menerimanya bapak akan merasa bersalah, Nak,” jelas bapak menguatkan alasannya pada Seruni. “Jangan Runi! Jangan Runi! Pergi! Jangan ambil bunga-bungaku!” hardik ibu mendengar ucapan bapak pada Seruni.

***

Suatu hari, ibu meracau seakan ada Anyelir di dekatnya, Seruni mencoba menghiburnya dan mengatakan jika dia akan mencari kedua kakaknya, Kak Anyelir dan Kamboja, “Anyelir ibu ingin memelukmu Sayang, kamu sakit ya? Maafkan ibu ya Nak,” suara ibu yang kemudian menangis meraung. Bapak lekas mendekati ibu diikuti Seruni.

“Bu, Ibu! Kenapa menangis? Seruni di sini,” ucapnya menenangkan ibunya yang kini menyisakan isak tangis. Seruni mengusap lembut kepala ibunya penuh rasa sayang. Sepertinya ibu kangen dengan Kak Anyelir, apakah dia harus menemuinya dan memohon pada kakak untuk menemui ibu? Batin Seruni bertanya sambil menatap mata bapaknya.

Semenjak kepergian Kak Kamboja meninggalkan desa, ibu mulai sakit-sakitan. Apalagi saat bapak meminta Kak Anyelir menyusul untuk mencari Kak Kamboja, sakit ibu bertambah parah. Dulu ibu masih bisa menjenguk Kak Anyelir ke kota, namun hanya satu kali dan membuat ibu sering meracau sendiri. Bapak yang sangat menyayangi ibu berhenti bekerja dan berjanji akan selalu mendampinginya dengan segala tingkah dan sikap ibu yang tak biasa.

“Ibu, apakah boleh jika Seruni ke kota menyusul Kak Anyelir dan Kak Kamboja?” tanyanya sambil menatap mata ibu meminta persetujuannya. Bagaimana pun ibu adalah orang yang telah melahirkannya. Ibu harus memberikan izin sebelum dia memutuskan meninggalkan desa.

***

Seruni sudah bertemu dengan kedua kakaknya, ternyata mereka berdua dijebloskan pada lembah hitam. Tak ada yang bisa mengeluarkan mereka dari sana hingga Seruni datang. Sebuah pilihan diberikan pada mereka bertiga. Seruni harus menjadi istri Pak Buwana, pemilik usaha hitam ini. Seruni tak ingin hal ini terjadi hingga diputuskannya untuk melarikan diri.

“Kakak maafkan Runi, malah menambah beban kakak. Runi tidak tahu jika akan di bawa ke tempat seperti ini, maafkan Runi Kak,” isak Seruni terdengar saat menyesali keinginannya menemui kedua kakaknya. Ibu berkali-kali berteriak memanggil nama Anyelir dan Kamboja juga tak mengizinkannya pergi. Sayangnya Seruni mengira teriakan itu karena ibu ingin bertemu kedua kakaknya.

“Kakak, Runi bisa menyewa mobil ini untuk menjemput Kak Anyelir pulang. Kakak beritahu Runi jalannya ya,” ucap Seruni menatap Kak Kamboja yang memejamkan matanya seakan enggan ikut ke sana. Penyesalan setelah bisa menjalani kehidupan kelamnya baru berjalan enam bulan, seorang yang membuatnya sadar hingga berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Mengubah penampilan dengan menggunakan hijab dijalaninya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta, kini dia tak lagi meninggalkan salat, dan selalu menghiasi bibirnya dengan zikir untuk meminta pengampunan atas dosa-dosanya. Seakan kini Kak Kamboja sudah siap jika suatu hari nanti diminta menghadap -Nya. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju bangsal di mana Kak Anyelir berada.

Sebelumnya Kak Kamboja menghubungi seseorang yang membantunya untuk meminta izin pihak rumah sakit membawa adiknya, Anyelir pulang ke desa. Saat mereka memasuki ruangan, Kak Anyelir sudah bersiap di kursi roda. Setelah mendapatkan beberapa informasi untuk merawatnya di rumah, Seruni mengiringi Kak Anyelir menuju mobil yang bersiap. Perjalanan ke desa memerlukan waktu hampir enam jam.

***

Sepanjang jalan tak ada yang diperbincangkan. Seruni menatap kedua kakaknya dengan tatapan sedih, ternyata ibu dan bapaknya tidak mengetahui mengenai pekerjaan yang diberikan pada kedua kakaknya. Kak Kamboja awalnya menerima semua pekerjaan yang diberikan karena merasa dia bertanggung jawab sebagai anak pertama. Kak Anyelir melakukan penolakan hingga mereka melakukan pemaksaan yang berakhir kecelakaan.

Kehilangan ingatan dan tak bisa berjalan adalah konsekuensi yang harus dijalaninya. Seruni hanya bisa mengikuti zikir yang selalu dilantunkan Kak Kamboja di sepanjang perjalanan. Sesaat memasuki desa, suara dering telepon membuat Seruni tersentak dan menatap ke arah spion sopir. Tak menunggu lama, sopir mengangkat panggilan telepon sambil terus berkonsentrasi ke arah jalanan.

“Seruni, kakak bersyukur kamu bisa lepas dari jerat hitam itu sebelum semuanya terlambat. Bapak sudah memilihkan jodoh terbaikmu di desa, sepertinya hanya kamu yang bisa membahagiakan orang tua kita. Kakak doakan kamu bahagia ya Runi,” ucap Kak Kamboja sesaat mobil memasuki jalan setapak dengan tebing di bagian kiri jalan, menuju rumah mereka.

Seruni hanya tersenyum, saat dia tahu siapa Pak Buwana, Seruni mencari bantuan dan mendapatkannya dari seorang yang ditemuinya di warung makan dekat tempat tinggal Kak Kamboja. Dialah kini yang mengantarkan mereka bertiga menuju desa. “Kami sudah hampir sampai Pak Buwana, sebentar lagi,” suara sopir membuat Seruni tertegun.

Mengapa yang dipanggilnya barusan Pak Buwana, apakah itu artinya orang yang akan dinikahinya adalah Pak Buwana? Orang yang sama yang dihindarinya saat ini? tanya Seruni bingung. Seruni kehilangan akal sehatnya, dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, hingga dia tak sadarkan diri.

***

“Seruni, Anyelir, dan Kamboja. Semoga kalian selalu bersama-sama selamanya. Maafkan bapak yang tidak mengetahui semua kejadian yang menimpa kalian. Maafkan bapak,” suara lirih diiringi isak tangis kini menghilang terbawa hembusan angin. Pernikahan yang seharusnya membawa kebahagiaan berakhir dengan berita kecelakaan yang menimpa ketiga bunga tercintanya.

Bapak baru mengetahui jika ibu mengalami depresi saat mengetahui kondisi Kak Anyelir dan Kak Kamboja, dia tak ingin Seruni mengalami hal yang sama. Hanya saja semua sudah digariskan-Nya. Pengusaha kaya yang begitu mencintai Seruni adalah pimpinan di tempat Seruni bekerja, Prabuwana, yang oleh sahabatnya sering dipanggil Buwana.

Seakan rangkaian bunga di atas gundukan tanah coklat memahaminya. Entah mengapa hanya ada seruni dan anyelir yang menghiasi ketiga makam itu. Perlahan beberapa bunga kamboja gugur ke tanah, seiring angin bertiup membawa kamboja menghampiri seruni dan anyelir yang kini berduka.

 

Oleh: Oase_biru

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *