Kisah Masa Depan Bumi Karena Perubahan Iklim

Climate Change

Agung Rivan

Kisah Masa Depan Bumi Karena Perubahan Iklim – Bagaimana perspektif kita terhadap perubahan iklim dan peradaban? lebih buruk, jauh lebih buruk dari apa yang anda pikirkan. Perubahan iklim yang terlihat lamban itu hanya dongeng yang sama melenakannya dengan perspektif yang mengatakan perubahan iklim tidak terjadi sama sekali, dan seperti terikat dengan dongeng bunga rampai delusi yang membius: bahwa pemanasan global adalah masalah yang terjadi di Artika, lebih jauh dari itu, bahwa pemanasan global hanya terjadi di permukaan laut dan daerah pantai, bukan sebuah krisis yang melingkupi seluruh aspek kehidupan tanpa terlewat satupun; bahwa perubahan iklim adalah krisis dunia yang alami, bahwa kekayaan bisa menjadi perisai yang melindungi terhadap kerusakan akibat pemanasan global, bahwa pembakaran fosil adalah harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan ekonomi terus-menerus, dan teknologi memperkenankan kita merekayasa jalan keluar dari bencana lingkungan hidup; bahwa pernah ada ancaman yang sebesar atau seluas dalam sejarah manusia sehingga kita berpengalaman menghadapinya.

Rentetan

Semua itu tidak ada yang benar. Namun mari kita memulainya dengan kecepatan perubahan. Bumi pernah mengalami lima peristiwa kepunahan massal sebelum yang sedang kita alami sekarang, sebagian memusnahkan kehidupan sehingga berfungsi mengosongkan ajang evolusi, pohon silsilah kehdupan diplanet ini tumbuh lalu mengalami kerontokan tiap berapa lama; 86% spesies punah, 450 juta tahun lalu; 70 juta tahun kemudian, 75%; 100 juta tahun kemudian, 96%; 50 juta tahun kemudian, 80%; 150 juta tahun sesudahnya. 75% lagi. Kondisi yang paling parah adalah 252 juta tahun lalu; awalnya karbon dioksida menaikkan suhu bumi ini sampai lima derajat celcius,yang di percepat ketika pemanasan itu memicu lepasnya metana, gas rumah kaca lain, dan berakhir sesudah kehidupan di bumi tewas.

Baca juga: Thrifting: Tren Kontroversial Impor Sampah ke Indonesia

Pemanasan Global Merupakan Utang Moral dan Ekonomi

Banyak yang merasa bahwa pemanasan global merupakan utang moral dan ekonomi, yang sudah menumpuk sejak awal Revolusi Industri, dan sekarang sudah jatuh tempo sesudah beberapa abad. Namun separuh lebih karbon lepas ke atmosfer karena pembakaran bahan bakar fosil baru dilepas dalam tiga dasawarsa belakangan. Artinya kerusakan yang sudah kita buat terhadap planet ini dan kemampuannya menopang kehidupan dan peradaban menusia sejak AI Gore merbitkan buku pertamanya mengenai iklim sama besar dengan yang terjadi selama semua abad-semua milenium-yang sudah berlalu.

Peran PBB

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan kerangka perubahan iklim pada 1992, menunjukkan kesepakatan sains kepada dunia;  artinya kita berbuat kerusakan ketika kita sudah tahu, sama banyak ketika kita belum tahu.  Pemanasan global boleh jadi tampak seperti kisah moralitas panjang yang berlangsung selama berabad-abad dan menjadi semacam azab gaya Perjanjian Lama terhadap cucu-cucu orang-orang yang bersalah, karena pembakaran karbon di Inggris pada abad ke-18 lah yang menyalakan sumbu untuk segala yang terjadi sesudahnya. Namun, seringkali itu dijadikan dongeng-dongeng mengenai kesalahan lama yang membuat kita semua yang hidup sekarang bisa cuci tangan. Para ilmuwan sudah mengerti efek rumah kaca, sudah paham cara karbon yang dihasilkan pembakaran kayu dan batu bara dan minyak dapat memanaskan planet ini dan membuat tidak seimbang segala di atasnya, selama tiga perempat abad.

Panas Maut

Seperti layaknya semua hewan, manusia adalah mesin yang menghasilkan panas; untuk bertahan hidup kita harus terus-menerus mendingnkan diri; seperti anjing yang terengah-engah. Jadi suhu harus pada tingkat rendah supaya udara bisa berfungsi sebagai pendingin, menarik panas dari kulit supaya mesin bisa terus berjalan. Dalam kenaikan suhu sebelas atau dua belas derajat Celcius, separuh lebih penduduk dunia, sebagaimana penyebarannya sekarang, akan mati kepanasan.

Dengan kenaikan suhu enam derajat, orang bakal mustahil bekerja fisik diluar ruangan pada musim panas di Lembah Mississipi hulu, dan semua orang di Amerika Serikat sebelah timur pegunungan Rocky bakal lebih menderita karena panas di banding siapapun dan dimanapun di dunia sekarang. Newyork City akan lebih panas dari pada Bahrain hari ini, salah satu tempat terpanas di planet ini, dan suhu di Bahrain akan memicu hipertermia bahkan pada manusia yang sedang tidur.

Suhu lima atau enam derajat kecil kemungkinannya akan terjadi pada 2100. IPCC memberi kita prediksi median di atas empat derajat, andai kita menempuh jalur emisi sekarang, itu bakal menyebabkan dampak yang tampak tak terpikirkan. Dalam hal panas secara langsung, faktor pentingnya adalah sesuatu yang disebut “suhu bola basah”, yang mengukur kelembapan gabungan yang bisa dilakukan dirumah. Kini, sebagian besar daerah mencapai suhu bola basah maksimum 26 atau 27 derajat Celcius; batas atasnya adalah 35 derajat Celcius, dan di atasnya manusia mati kepanasan. Artinya ada jarak 8 derajat. Yang disebut ‘stress panas’ datang jauh lebih cepat.

Bencana Tak Lagi Dengan Alami

Manusia dulu mengamati cuaca untuk meramalkan masa depan, kita akan melihat balas dendam atas masa lalu dalam amukan cuaca. Dalam dunia yang empat derajat lebih hangat, ekosistem Bumi akan dipenuhi banyak sekali bencana alam sehingga kita akan menyebutnya “cuaca”; topan dan tornado tak terkendali, banjir dan kekeringan, planet yang terus diserang oleh bencana iklim yang dulu bisa menghancurkan peradaban. Badai terkuat akan datang lebih sering, dan kita akan perlu menciptakan kategori baru untuk menjabarkannya; tornado akan menyerang jauh lebih sering, dan kehancuran yang disebabkannya lebih luas dan lebih lama. Batu es yang jatuh dalam hujan es akan berlipat empat ukurannya.

Para naturalis za,am dulu sering berkata mengenai “waktu mendalam”, persepsi yang mereka dapat ketika merenungkan megahnya suatu lembah atau cekungan, dan memikirkan lambatnya laju alam. Namun sudut pandang itu berubah ketika sejarah mengalami percepatan. Yang akan kita hadapi sepeerti apa yang orang Aborigin Australia, sebagaimana mereka katakan ke ahli antropologi zaman Ratu Victoria, sebut “kala mimpi” atau “setiap kala”, pengalaman semi-mitis bertemu masa lalu yang salah zaman pada masa kini, ketika para leluhur, dewa, dan setengah dewa memenuhi panggung epos.

Memang demikan adanya. Pada musim panas 2017, dibelahan Bumi Utara, terjadi cuaca ekstrem yang belum pernah ada, tiga badai besar muncul secara berentetan di Atlantik, hujan “500.000 tahun sekali”, badai Harvey, di Houston menjatuhkan air pergalon per setiap orang diseluruh negara bagian Texas, lalu sembilan ribu kebakaran hutan California, membakar hutan seluas lebih dari empat ratus ribu hektar, dan kebakaran di Tanah Hijau yang dingin, sepuluh kali lipat yang terjadi pada 2014, banjir Asia Selatan menenggelamkan rumah 45 juta orang.

Kekurangan Air

Tuju puluh satu persen planet ini tertutup air. Yang berupa air tawar hanya sedikit di atas 2 persen, dan yang mudah diakses hanya 1 persen, sisanya sebagian besar terjebak dalam es. Artinya seperti dihitung National Geographic, hanya 0,007 persen air di planet ini tersedia untuk tujuh miliar manusia.

Pikirkan kekurangan air tawar dan anda barangkali merasa kerongkongan anda gatal, tapi air minum sebenarnya hanya sebagian kecil kebutuhan air kita. Di seluruh dunia, antara 70 sampai 80 persen air tawar digunakan untuk produksi pangan dan pertanian, dengan tambahan 10 sampai 20 persen untuk industri. Dan krisisnya terutama tidak di dorong oleh perubahan iklim, 0,007 persen itu, percaya atau tidak, seharusnya cukup bukan hanya untuk tujuh miliar orang yang hidup sekarang, melainkan sampai sembilan miliar orang, barangkali lebih.

Laut Sekarat

Kita cenderung memandang laut sebagai tak terbayangkan, sedekat-dekatnya planet ini dengan antariksa; gelap, menggentarkan, dan di kedalamannya cukup aneh serta misterius, “siapa yang telah mengenal laut?”, dipublikaskan dua pukuh lima tahun sebelum dia mujlai menghadapi pencemaran tanah oleh tangan manusia dan “obat serba bisa” industri di silent spring; “anda dan daya, dengan indra terikat  daratan, tak mengenal buih dan ombak yang melanda kepiting di bawah ganggang dirumahnya di kolam pasang surut; atau gelora lamban air tengah laut, di mana kawanan ikan memangsa dan dimangsa, dan lumba-lumba menerobos gelombang untuk menghirup udara.”

Kini seperempat lebih karbon yang dihasilkan manusia diserap laut, yang dalam lima puluh tahun belakangan juga menyerap 90 persen panas berlebih akibat pemanasan global. Separuh panas itu diserap sejak 1997, dan laut hari ini mengandung setidaknya 15 persen lebih banyak energi dari pada tahun 2000, menyerap tiga kali lebih banyak energi, dalam dua dasawarsa saja, dibanding yang terkandung dalam semua cadangan bahan bakar fosil di planet ini. Namun hasil peneyerapan karbon dioksida itu adalah yang disebut “pengasaman laut”, artinya memang seperti yang tertulis, dan itu sudah melanda beberapa perairan planet ini, bisa anda ingat sebagai tempat asal-usul kehidupan.

Referensi:

David Wallace-Wells, “Bumi Yang Tak Dapat Di huni”, (Gramed, 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *