News, Opini  

Donald Trump Kembali Memimpin AS

Ressy Octaviani
3D rendering of a man in a suit and tie with a red warning sign
3D rendering of a man in a suit and tie with a red warning sign

Donald Trump Kembali Memimpin AS – Trump telah resmi memenangkan kembali Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung pada 05 November 2024. Dirinya dinyatakan unggul dengan meraup 277 suara electoral, dari Kamala Harris, lawan politiknya dari Partai Demokrat sekaligus Petahana Wakil Presiden. (cnbc, 2024)

Sebelum pilpres berlangsung dan Trump dinyatakan unggul dalam kontestasi pemilu. Beberapa pengamat politik telah memprediksi apa saja yang akan terjadi jika Trump kembali berkuasa. Tentu, periode pertama Trump menjabat akan menjadi gambaran untuk kepemimpinan ia ke depan. (bbc, 2024)

Seperti yang kita tahu, Trump terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang kontroversial dan sering membuat kebijakan yang out of the box. Bukan tak mungkin, jika dirinya kembali memimpin AS, ada kebijakan di pemerintahannya yang pertama akan kembali diterapkan. Apa lagi, masih banyak proyek-proyeknya yang belum sempat ia wujudkan di akhir masa jabatan pertamanya 2020 silam.

Baca juga: Tantangan untuk Pemerintahan Baru

Kebijakan Ekonomi dan Perdagangan Luar Negeri

Trump terkenal dengan kebijakannya yang disebut “America First”, kebijakan ini berfokus pada melindungi industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan produk impor. AS di tangan Trump dinilai akan menjadi lebih “egois” di mata dunia, karena Trump akan lebih memprioritaskan kepentingan negaranya di atas negara lain yang menurutnya “tidak penting”.

Nah, jika ia kembali berkuasa Trump mungkin akan melanjutkan kebijakan proteksionis seperti tarif tinggi untuk negara-negara yang dianggapnya tidak fair, terutama China. Hal ini akan membuat ketidakpastian ekonomi global menjadi lebih besar.

Dapat dipastikan “perang dagang” akan kembali memanas, harga barang akan naik, dan investor asing akan berpikir dua kali untuk berinvestasi di AS. Hal ini menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh negara-negara berkembang.

Profesor Ekonomi di Harvard, berpendapat bahwa kebijakan proteksionisme di negara maju seperti AS membatasi ruang pertumbuhan bagi negara berkembang. (antara, 2024)

Kebijakan Imigrasi yang Ketat

Kebijakan imigrasi menjadi salah satu janji tertulis dalam politik Trump. Dalam masa jabatannya yang pertama, ia menerapkan kebijakan yang ketat seperti larangan masuk untuk warga dari negara-negara yang mayoritas beragama Islam, serta membangun tembok di perbatasan Meksiko. Di periode kedua ini, Trump berjanji akan mengusir jutaan orang asing yang tak punya dokumen resmi dari AS. Ini disebut-sebut akan menjadi deportasi terbesar dalam sejarah AS. (bbc, 2024)

Kebijakan Lingkungan yang Berubah Arah

Trump bukan penggemar isu perubahan iklim. Berbeda dari presiden sebelumnya Joe Biden yang sangat berfokus pada energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon. Jadi, saat Trump kembali menjabat nanti bisa saja program-program keberlanjutan lingkungan akan mundur atau dipotong anggarannya. Ini dapat menjadi masalah besar bagi para ilmuwan dan aktivis lingkungan.

Bahkan dalam kabar terbaru yang dikutip dari (Reuters), Trump juga berpotensi membatalkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) dari Biden, yang memberikan subsidi dan insentif besar-besaran untuk teknologi energi bersih. Namun, semua keputusan itu akan bergantung pada Kongres nanti. (katadata, 2024)

Penyelesaian Konflik Luar Negeri

Kemenangan Trump dalam pilpres AS memiliki potensi berdampak besar pada kebijakan luar negeri AS, yang bisa memengaruhi konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan ketegangannya dengan China. Berikut adalah beberapa dampak yang mungkin terjadi di ketiga wilayah tersebut:

1. Timur Tengah

Di periode sebelumnya, Trump mengambil sikap yang sangat pro-Israel, dengan memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem dan mendukung normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dan Israel (Abraham Accords). Di periode kedua nanti, Trump mungkin akan melanjutkan kebijakan ini dengan mendukung kepentingan Israel dan meredam pengaruh Iran di wilayah tersebut.

Namun, Trump kemungkinan akan mengurangi intervensi militer langsung dan lebih menekankan pada pendekatan yang “deal-making” atau kesepakatan damai yang sudah pasti akan menguntungkan negaranya. Hal ini bisa meningkatkan ketegangan dengan Iran dan membuat situasi di Palestina semakin tidak stabil.

2. Rusia-Ukraina

Dalam pidato kemenangannya, pada Rabu (6/11/2024) dini hari, Trump sempat mengatakan bahwa di bawah pemerintahannya, AS akan memastikan tidak akan ada perang yang terjadi maupun meletus selama empat tahun mendatang. Bahkan ia mengklaim bisa menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina “dalam sehari”. (cnn, 2024)

Beberapa spekulasi menyebutkan bahwa dia mungkin mendukung negosiasi atau pendekatan damai, yang bisa meredakan ketegangan dan, secara teoritis, menghentikan konflik yang berlarut-larut. Namun, kebijakan ini juga bisa dianggap kontroversial di AS, karena akan dianggap melemahkan posisi Ukraina dan Eropa Timur. Aliansi NATO juga mungkin tidak mendapatkan dukungan penuh seperti saat pemerintahan Biden, yang bisa memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

3. China

Hubungan AS-China telah tegang selama bertahun-tahun, terutama terkait perdagangan dan keamanan, termasuk Taiwan dan Laut China Selatan. Konflik AS-China bisa mengalami eskalasi di bawah Trump. Meski saat menjabat di periode sebelumnya, Trump dan Xi Jinping sempat menunjukkan hubungan baik, kebijakannya kemudian berubah agresif dalam perang dagang, dengan memberikan sanksi terhadap perusahaan teknologi China, hingga pembatasan kerja sama ekonomi.

Donald Trump Kembali Memimpin AS, akankah kembalinya Trump berpotensi membuat ketegangan perdagangan dan teknologi meningkat, meskipun begitu China menyatakan pihaknya menghormati hasil pemilu AS dan memberi ucapan selamat kepada Donald Trump atas kemenangannya, serta pihaknya berharap China-AS harus menemukan jalan untuk akrab dan tidak ada lagi ketegangan dari kedua negara. (detiknews, 2024)

Referensi

https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckg05y8j8x7o

https://www.bbc.com/indonesia/articles/c62j8dvz4p1o

https://www.cnbcindonesia.com/news/20241106160635-4-586184/tok-resmi-donald-trump-menang-pemilu-amerika-2024

https://m.antaranews.com/berita/4449505/dampak-terpilihnya-trump-sebagai-presiden-as-bagi-ekonomi-indonesia

https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/energi-baru/672ca466ec05a/trump-bakal-cabut-subsidi-iklim-joe-biden-saham-energi-bersih-anjlok

https://news.detik.com/internasional/d-7627945/harapan-xi-jinping-agar-china-as-akrab-usai-trump-menang-pilpres

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *