Sastra  

Galian Terakhir

Kematian adalah misteri bagi semua makhluk yang bernyawa. Setiap manusia tidak tahu menahu kapan dirinya akan dijemput oleh Sang Pencipta.

Ressy Octaviani
Kematian (Foto : Freepik.com)
Kematian (Foto : Freepik.com)

KEMATIAN adalah misteri bagi semua makhluk yang bernyawa. Setiap manusia tidak tahu menahu kapan dirinya akan dijemput oleh Sang Pencipta. Mungkin hari ini, esok, atau lusa, tidak ada yang tahu. Manusia juga tidak akan pernah tahu dengan cara apa ia akan berpulang. Meninggal karena sakit, kecelakaan, tertidur lelap atau bahkan pergi ketika sedang bersujud kepada-Nya.

Namun bagi Ahmad kematianlah yang mampu memberinya kehidupan. Kehidupan yang mungkin tak semewah gaya hidup para pejabat, atau semudah orang kaya yang ingin membeli apapun tanpa memikirkan harga. Baginya, sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan dasar istri dan kedua buah hatinya sudah cukup menjadi pencapaian terbesar dalam hidupnya. Inilah kisah Ahmad, si tukang gali kubur.

***

“Mie lagi.. mie lagi.. telur lagi.. telur lagi.. huuh kalo tiap hari makannya gini terus gimana aku bisa jadi dokter? Bisa-bisa aku yang dibawa ke dokter karena usus buntu dan bisulan.” keluh Andi, si anak sulung.

“Kita kan cuma punya ini ndi, itu pun dapet ngambil dari warung, bapakmu kan belum ngasih uang belanja.” ujar Siti, sang ibu. Keluarga Ahmad memang membuka warung kecil-kecilan, warung itu selalu jadi sandaran untuk menutupi saat Ahmad tak ada pesanan gali kubur. 

“Kata guru ngaji ade, kita harus banyak bersyukur kak. Mau makan apapun yang penting kenyang. Lagian mie sama telur kan enak. Hehe.” Ucap Dito, si bungsu yang masih berusia lima tahun. Sepertinya si adik lebih mengerti keadaan keluarganya, dibanding sang kakak yang tujuh tahun lebih tua darinya.

“Itu kan karena kamu suka mie dit.”

“Oh iya pak, kemarin Andi dikasih surat dari Sekolah, katanya suruh kasih ke Bapak.” ucap Andi sambil memberikan amplop putih bertuliskan nama dan logo sekolahnya itu. 

“Gimana kamu ini, Bapakmu itukan buta huruf, sekolah cuma sampai kelas empat SD. Udah kamu bacain aja.” tegas Siti. 

Andi membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalamnya, ia membaca dengan seksama. “Jadi pak, bu, intinya Andi harus secepatnya bayar tunggakan SPP selama tiga bulan, kalau mau ikut ujian.” Jelas Andi. 

“Aduh gimana ini bu, uang simpanan kita sudah menipis, gak mungkin cukup buat bayar sekolahnya Andi, apa lagi sampai tiga bulan.” keluh Ahmad kepada istrinya.

“Yaudah pak, jual aja cincin kawin kita. Insya Allah cukup buat lunasin SPP selama tiga bulan, kalau ada sisanya kan bisa kita pake buat nambahin modal warung.” jawab Siti menawarkan solusi. 

“Tapi bu, itukan barang termahal yang pernah Bapak kasih, kita udah janji gak akan pernah jual.” 

“Justru karena itu barang termahal yang kita punya Pak, makanya ibu usulin untuk dijual.”

“Lagian pendidikan anak kita lebih penting pak. Insya Allah suatu saat nanti kita bisa dapetin yang lebih baik.” Sambung Siti dengan bijak. 

“Aamiin..” Ahmad dan kedua anaknya mengamini. 

***

Sepoi-sepoi angin sore menyapu wajah keriput Ahmad yang sedari tadi duduk di atas kursi kayu di depan rumahnya. Sambil menyeruput kopi panas, matanya asyik memperhatikan dedaunan yang sedang menari tertiup angin. Namun pikirannya tak tenang, sudah tiga bulan terakhir, ia tak kunjung mendapat pesanan menggali kubur. Biasanya meskipun tak banyak pasti selalu ada saja orang yang meninggal di desa itu.

Memang sebagai manusia seharusnya Ahmad bersyukur, karena tidak ada duka dan kesedihan yang melanda para tetangganya. Tapi di sisi lain, ada istri dan kedua anak yang harus ia hidupi, bergantung pada seberapa banyak dirinya menggali. 

“Bu, persediaan beras masih ada kan buat makan nanti malam?” tanya Ahmad kepada sang istri. 

“Alhamdulillah, beras masih cukup kok pak, palingan untuk lauknya nanti ibu ngambil mie sama telur lagi aja di warung.” jawabnya. 

“Kalo gini terus, lama-lama bangkrut dong bu warung kita.” Ucap Ahmad sambil menghela napas panjang.

Tiba-tiba Ahmad terdiam. Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga, karena saat ini dirinya tak mampu memberi kebutuhan dasar bagi istri dan anak-anaknya. Sementara itu, penantiannya akan kematian seseorang, kini berubah menjadi beban yang terus menghantui pikirannya.

“Ya Allah. Dosakah aku mengharapkan kematian seseorang, demi kelangsungan hidup keluargaku?” lirih suara hati Ahmad.

***

Malam itu, Ahmad tak bisa tidur. Di atas ranjang kayu yang sudah reyot, dengan kasur tipis dilapisi sprei usang, ia berbaring, matanya menatap langit-langit kamar. 

“Bagaimana, kalau aku yang harus pergi?” gumamnya dalam hati. Ia berpikir, mungkin dengan kematiannya istri dan kedua anaknya bisa mendapat belas kasihan orang-orang.

Setidaknya Andi dan Dito bisa mendapatkan tunjangan anak yatim jika dirinya berpulang. 

***

Keesokan harinya, Ahmad pergi ke pemakaman desa lebih awal dari biasanya. Dia berniat bersih-bersih pemakaman, dari pada diam di rumah pikirnya. Di tengah aktivitasnya itu, tiba-tiba ia berpikir untuk menggali sebuah liang lahat tepat di bawah pohon besar, tempat biasa ia berteduh.

Selesai menggali kubur, Ahmad duduk dan bersandar di bawah pohon besar seraya memandangi liang yang baru saja ia gali. Tepat di depannya terlihat pemandangan gundukan-gundukan tanah dengan nisan yang ditanam di atasnya. Ya, hasil kerja kerasnya selama ini. 

Setiap kuburan memiliki cerita, dan semuanya menyimpan kepedihan yang sama dari orang-orang yang ditinggalkan. Ada tangis dan kenangan di dalamnya, terekam jelas jejak kesedihan mendalam sehabis almarhum dan almarhumah dikebumikan. 

Ahmad merenungkan nasibnya sendiri, sembari membayangkan apakah istri dan kedua anaknya akan baik-baik saja jika dirinya meninggalkan dunia ini?

***

Siti yang merasa suaminya bersikap aneh belakangan ini, berniat untuk menyusul ke pemakaman. Sesampainya disana, ia mendapati Ahmad tengah duduk bersandar di bawah pohon dengan mata terpejam.

“Pak, sedang apa? Kerjaan bukannya masih libur?.” Tanya Siti heran. 

Ahmad membuka matanya perlahan, dengan sedikit terkejut ia menatap istrinya. “Bapak lelah bu, menunggu kematian orang yang tak kunjung datang. Sudah tiga bulan kita gak punya pemasukan, tabungan menipis, dagangan abis tapi gak ada uangnya. Kalau begini terus bisa-bisa kita yang mati kelaparan.”

“Astagfirullah pak, sabar. Kita harus percaya rezeki itu sudah Allah tentukan. Jangan terlalu berharap dengan kematian orang lain, pasti ada cara lain untuk menjemput rezeki kita.” ujar Siti dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar perkataan istrinya, Ahmad pun termenung.

“Lalu itu lubang kubur siapa pak?” tanya Siti

“Gak ada bu, Bapak cuma iseng.”

“Bapak nih ada-ada aja. Yaudah lebih baik ditutup lagi, terus kita pulang. Cari solusi di rumah, kasian si adek sendirian.” ajak Siti sambil memegang tangan suaminya.

***

Hari demi hari berlalu. Di suatu Malam, Ahmad tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhnya. Jelas tergambar dari basahnya kaos oblong yang ia kenakan malam itu. Ahmad terbaring lemah dengan kedua tangannya memegangi dada, Siti dan anak-anak panik bukan main. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan, dengan tatapan heran karena selama ini Ahmad tidak ada riwayat penyakit apa pun.

Sambil menahan kesakitan, Ahmad menyadari sesuatu, sambil berkata dalam hati. “Ya Allah, apakah ini jawaban dari doa-doaku? Bukan orang lain yang meninggal, melainkan aku sendiri?”

“Bu, Andi, Dito, Ba.. Ba.. Bapak minta maaf. Mu.. mungkin ini sudah waktunya Bapak pergi” ucapnya dengan nafas tersengal.

“Jangan ngomong gitu, pak. Bapak akan baik-baik saja.” ucap Siti sembari menyeka keringat suaminya dengan handuk kecil. 

Ahmad tersenyum menatap istri dan kedua anaknya yang mungkin untuk terakhir kalinya itu. Kedua anaknya menuntun sang ayah untuk mengucapkan lafaz Allah terus-menerus, dengan air mata yang terus berjatuhan. 

“Jaga anak-anak ya bu.. Bapak pamit.” Itu kata-kata terakhir yang terucap dari mulut Ahmad.

Tangis Siti dan anak-anaknya pecah. Malam itu, gubuk yang selama ini menyimpan kenangan manis mereka, kini diliputi kesedihan yang mendalam. Ahmad “si penanti kematian” itu akhirnya menemukan kematiannya sendiri. 

***

Keesokan paginya, para tetangga berbondong-bondong melayat ke rumah duka. Mereka menatap pilu tubuh Ahmad yang terbujur kaku. Mereka tak menyangka, orang yang berjasa membantu pemakaman desa selama ini akan pergi secepat itu.

Siti dan anak-anak hanya bisa menangis sambil membacakan surah yasin, mengantarkan kepergian sang kepala keluarga. 

Sebelum jenazah Ahmad dimasukkan ke keranda, Siti berbisik pelan tepat di telinga almarhum. “Pak terima kasih untuk segalanya. Kami akan baik-baik saja. Istirahatlah dengan tenang.”

Akhirnya, waktu itu pun tiba. Liang lahat terakhir yang digali Pak Ahmad tempo hari, ternyata menjadi tempat peristirahatan terakhir untuknya sendiri.

Baca juga: Pohon-Pohon Berbisik di Ibu Kota

***

Setelah pemakaman selesai, Pak Kades memberikan santunan kepada Siti dan kedua anaknya atas dedikasi yang selama ini diberikan oleh sang suami. 

“Bu, ini ada sedikit bantuan. Saya kagum sama Pak Ahmad, bahkan di akhir hidupnya dia gak mau nyusahin orang, sampai-sampai sudah menyiapkan liang lahatnya sendiri.” Ujar Pak Kades sambil memberikan amplop kepada Siti. 

“Terima kasih pak. Saya juga gak nyangka kalo liang lahat itu akan jadi tempat suami saya dikuburkan.” Ucap Siti menahan tangis. 

Malamnya, setelah pengajian selesai. Siti dan anak-anak duduk merenung, mereka mengingat kenangan-kenangan manis bersama almarhum. Siti terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya, ia memikirkan bagaimana harus melanjutkan hidup tanpa suaminya, menjadi orang tua tunggal untuk anak-anaknya. Namun, ia bertekad untuk tetap kuat dan bertahan demi Andi dan Dito. 

***

Siti memulai perjalanan baru dengan lebih memperbesar warung kecilnya menggunakan uang santunan dari Pak Kades, ditambah hasil sumbangan dari para tetangga. Sementara Andi melanjutkan sekolahnya dengan biaya bantuan pendidikan dari Desa, khusus anak yatim. Sedangkan Dito, karena belum cukup umur untuk sekolah, ia sibuk belajar di rumah dan menghafal Al-Qur’an.

Begitulah hidup harus tetap berjalan. Dari keluarga Ahmad dan Siti kita belajar bahwa bersyukur adalah kunci utama kebahagiaan, dan mengikhlaskan bukan berarti melupakan, tetapi belajar untuk hidup dengan perubahan. 

“Hingga liang lahat terakhir itu tertutup dengan gundukan, kita diingatkan bahwa yang terpenting bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana hidup kita bisa meninggalkan jejak kebaikan bagi mereka yang kita cintai.” 

 

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *