Dari Bogor : Ada Kisah Dibalik Rasa Kopi

Ilustrasi Kisah Kisah Dibalik Rasa Kopi ((Foto: https://www.freepik.com)

Apakah kalian suka minum kopi ? ehm..tahukah mengenai sejarahnya ? Rasa kopi yang pahit ternyata menyimpan kisah pahit dari pekerjanya di masa lalu. Marilah kita memulai kisah ini dari Stasiun Bogor. Bangunan 2 lantai yang megah ini diresmikan pada tahun 1881.

 

Kisah berawal dari Stasiun Bogor

Pada masa lalu untuk mengangkut hasil bumi digunakan pedati dengan ditarik kuda, namun karena membutuhkan waktu yang lama maka dipikirkan cara yang lebih cepat untuk mengangkut berkarung-karung kopi dan hasil bumi lainnya ke pelabuhan, karena itulah kereta kemudian digunakan untuk mengangkut kopi.

Kantor Stasiun Kereta Api di Bogor
Kantor Stasiun Kereta Api di Bogor  (Foto: Dokumentasi Pribadi Wina)

Tahukah kalian istilah “kereta kambing” ? itu adalah masa dimana manusia bisa menaiki gerbong yang sama dengan hasil bumi dan ternak seperti kambing, namun beruntungnya sekarang kondisi kereta api kita sudah jauh lebih baik.

 

Mampir ke Museum Tanah dan Pertanian

Di salah satu galeri kita bisa menemukan koleksi berbagai komoditas ekspor seperti kopi, teh dan tebu. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membawa bibit kopi dari Malabar, India Selatan dan Yaman pada abad ke-17 namun dibudidayakan pada awal abad ke-18. Dataran tinggi seperti Priangan di Jawa Barat menjadi area pertama untuk menanam kopi.

Beberapa jenis kopi yang dipajang di museum
Beberapa jenis kopi yang dipajang di museum (Foto: Dokumen Pribadi Wina)

Sistem kerja paksa membuat rakyat yang menanam kopi tetap miskin namun memberikan keuntungan besar bagi VOC karena permintaan kopi di pasar Eropa sangat banyak. Jenis kopi yang pertama kali ditanam adalah Arabica namun karena adanya hama penyakit karat daun yang membuat daunnya berwarna kuning, maka dicarilah alternative jenis lainnya untuk ditanam  yaitu kopi Liberica yang berasal dari Liberia, Afrika.

Galeri tentang kopi di museum
Galeri tentang kopi di museum (Foto: Dokumen Pribadi Wina)

Kopi ini lebih tahan  penyakit dan perubahan iklim, namun yang membuatnya urung dikembangkan adalah keuntungan yang sedikit karena biji keringnya hanya 10% dari biji basahnya. Kemudian Liberica diganti menjadi Robusta sehingga sampai saat ini Arabica dan Robusta mendominasi  pasar internasional.

 

Destinasi akhir yang manis

Suasana Toko Kopi Bah Sipit
Suasana Toko Kopi Bah Sipit (Foto: Dokumen Pribadi Wina)

Setelah berkeliling akhirnya perjalanan kita tutup dengan mengunjungi “Toko Kopi Bah Sipit” di Bogor yang berdiri sejak 1925. Toko ini terletak di area yang mayoritas warganya keturunan Arab, kerennya toko ini masih bertahan hingga sekarang, bahkan “Bah Sipit” awalnya adalah panggilan warga sekitar untuk Yoe Hong Keng sebagai perintis toko kopi.

Selain bisa membeli kopi untuk dibawa pulang, kita juga bisa menikmati minum kopi sambil menikmati suasana toko yang vintage. Bagi kalian penyuka kopi, kalau ke Bogor mesti mampir kesini. Yuk!

Kopi Cap Kacamata Bah Sipit
Kopi Cap Kacamata Bah Sipit (Foto: Dokumen Pribadi Wina)