5 Fakta Terkait Fenomena Rojali dan Rohana Serbu Mal

Jalan-jalan ke mal (foto: pinterest.com)
Jalan-jalan ke mal (foto: pinterest.com)

5 Fakta Terkait Fenomena Rojali dan Rohana ke Mal- Belakangan ini, suasana mal di Indonesia mendadak ramai. Bukan hanya oleh pengunjung yang berbelanja atau karena adanya diskon besar-besaran, tapi oleh istilah baru yang terdengar unik dan menggelitik: Rojali dan Rohana.

Fenomena ini menyebar cepat dari media sosial, grup WhatsApp hingga meja rapat pengelola pusat perbelanjaan. Mereka yang mendengarnya untuk pertama kali mungkin tertawa, bingung, atau malah merasa tersindir. Tapi dibalik nama yang terdengar lucu itu, ternyata ada kenyataan yang lebih serius. Kenyataan tentang pola konsumsi masyarakat, tekanan ekonomi, hingga perubahan fungsi mal itu sendiri.

Jadi, siapa sebenarnya Rojali dan Rohana? Dan mengapa mereka tiba-tiba jadi topik yang viral?

1. Apa itu Rojali dan Rohana?

Rojali singkatan dari “Rombongan Jarang Beli”, dan Rohana adalah pasangan dari Rojali, yang artinya masih dalam tahap pengembangan karena belum jelas. Ada sumber yang menyebut Rohana sebagai singkatan dari Rombongan Hanya Nanya, Rombongan Hanya Narsis, atau Rombongan Hanya Nongkrong Saja. Belum ada yang pasti, tapi semua terasa cocok dengan kenyataan di lapangan. (Antaranews, 2025)

Julukan tersebut digunakan untuk menggambarkan perilaku pengunjung mal yang datang beramai-ramai. Namun hanya sekadar melihat-lihat, bertanya harga, berfoto, hingga menikmati fasilitas tanpa melakukan pembelian apapun.

Menurut laporan dari Antaranews, istilah ini awalnya jadi candaan warganet, tapi kini ramai diperbincangkan di berbagai kanal media dan forum ekonomi sebagai fenomena sosial yang nyata.

2. Mal Ramai Tapi Toko Sepi

Meskipun kunjungan masyarakat ke mal terus meningkat, didukung dengan data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) melaporkan bahwa jumlah pengunjung mal mengalami kenaikan sekitar 5 sampai 10 persen di beberapa daerah. Tapi ironisnya, banyak tenant justru mengeluhkan penurunan transaksi. (CNBC, 2025)

“Rojali dan Rohana datang, lalu pergi, tanpa belanja.”

CNBC Indonesia, mencatat bahwa tenant sektor fashion, elektronik, hingga peralatan rumah tangga mengalami stagnasi penjualan. Sementara tenant kuliner relatif stabil karena tetap jadi tempat “nongkrong” favorit.

3. Daya Beli Menurun, Mall Jadi Tempat Hiburan Gratis

Bukan tanpa sebab pengunjung hanya ‘lihat-lihat’. Para Ekonom menilai, menurunnya daya beli masyarakat jadi akar masalah utama. Situasi ekonomi yang tak menentu. Mulai dari naiknya harga sembako, gelombang pemutusan kerja, hingga beban cicilan yang menumpuk, mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam menggunakan uang mereka. (Tempo, 2025)

Menurut BPS dan BI, Meski pertumbuhan ekonomi nasional berada di angka 5 %, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,8 % di kuartal I 2025—angka yang masih tertinggal dari rata-rata sebelum pandemi yang sempat menyentuh 5,2 hingga 5,4 %. Ini menunjukkan, bahwa daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya seiring laju inflasi yang tidak seimbang dengan pendapatan. (UIN JKT, 2025)

Karena itu, kegiatan “main ke mal” sekarang lebih dianggap sebagai hiburan murah. Sekadar jalan-jalan, duduk di food court, atau foto-foto jadi alternatif healing yang bisa dilakukan tanpa menguras dompet.

4. Bukan Ancaman, Tapi Peluang yang Perlu Disiasati

Menariknya, tak semua pihak melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang merugikan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut, bahwa Rojali dari dulu memang sudah ada, dan menurutnya itu termasuk wajar karena masyarakat bebas memilih belanja online atau offline. Kegiatan ‘melihat-lihat’ sebelum membeli sebagai bagian alami dari perilaku konsumen. Konsumen masa kini lebih selektif, dan itu bukan hal yang harus dipandang negatif. (Kompas, 2025)

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah mengatakan bahwa Rojali tidak sepenuhnya merugikan. Berkat mereka, sektor food and beverage (F&B) naik 5-10 persen per bulan.

Menurutnya, kini peran mal sudah berubah. Ia bukan lagi semata tempat jual-beli. Tapi juga ruang publik dan hiburan sosial. Maka, agar bisa survive, konsepnya harus diubah. Saat ini, sudah banyak mal yang mulai menyiapkan spot-spot terkait dengan rekreasi, hiburan, hingga interaksi sosial. (CNBC, 2025)

5. Rojali dan Sultan di Atap yang Sama

Ada satu hal yang menarik dari fenomena ini adalah bagaimana mal bisa menyatukan dua dunia: mereka yang datang untuk “lihat-lihat” dan mereka yang datang untuk belanja habis-habisan. Di tengah tenant butik mewah, bisa jadi duduk sekelompok anak muda dengan totebag berisi botol minum sendiri. Mereka tak beli, tapi tetap menikmati. Dan uniknya, keduanya bisa eksis di ruang yang sama, saling melihat tanpa gangguan. Sebuah potret masyarakat urban yang semakin cair dan penuh toleransi kelas.

Penutup

Rojali dan Rohana menggambarkan cara masyarakat beradaptasi di tengah tekanan ekonomi dan minimnya ruang publik yang inklusif. Aktivitas jalan-jalan ke mal tanpa belanja tak lagi bisa dilihat semata sebagai tren iseng. Fenomena ini menjelma jadi strategi bertahan hidup—cara untuk tetap waras, eksis, dan terhubung.

Di balik deretan foto estetik di eskalator dan konten media sosial, tersembunyi narasi tentang daya juang. Tentang bagaimana mal hari ini bukan lagi sekadar pusat belanja, melainkan ruang bernapas bagi mereka yang butuh hiburan murah tapi elegan.

Sumber

https://m.antaranews.com/berita/4989441/arti-rojali-dan-rohana-istilah-yang-viral-jadi-sorotan-di-medsos

https://www.cnbcindonesia.com/news/20250724125800-4-651890/mal-ri-dikepung-rohana-dan-rojali-cuan-pedagang-ini-meledak

https://www.tempo.co/ekonomi/ekonom-fenomena-rojali-dan-rohana-didorong-tren-phk-dan-lesunya-daya-beli-2050855#goog_rewarded

https://www.kompas.com/jawa-tengah/read/2025/07/24/142735688/rojali-dan-rohana-bikin-mal-ramai-tapi-sepi-transaksi-ekonom-hiburan?page=all

https://www.uinjkt.ac.id/id/rojali-dan-krisis-dompet-rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *