Tragedi Mei 1998: Hilangnya Sejarah Atas Nama Rekonsiliasi

Tragedi Mei 1998: Hilangnya Sejarah Atas Nama Rekonsiliasi
pics from: pinterest- edit by: iim maya sofa

Tragedi Mei 1998. Dalam unsur sejarah suatu negara, sudah sewajarnya jika sebuah negara memiliki sejarah yang kelam dan tidak pantas untuk ditiru. Namun, justru dengan menghilangkan jejak tersebut menjadikan kita, generasi muda akan tetapi sejarah negara yang tidak kalah pentingnya untuk dipelajari. 

Mungkin bagi saya, sebagai pelajar modern yang lahir pada awal tahun 2000-an. Tragedi Mei 1998 adalah hal asing bagi kami yang tidak begitu mencari tahu tentang muatan sejarah nasional. Bukankah ini akan menjadikan generasi kita tidak mengenal jejak bangsanya sendiri? atau mungkin ini masuk dalam misi menghilangkan jejak buruk suatu bangsa? 

Dalam opini kali ini, saya ingin bertanya-tanya mengapa sejarah politik yang penting ini tidak pernah dimuat dalam buku sejarah di sekolah? ya, kalau logikanya adalah ketidaksesuaian usia untuk mempelajari perlawanan terhadap negara, apa mungkin negara takut melahirkan anak bangsa yang kritis? 

Apa yang terjadi pada Mei 1998?

Dalam beberapa tahun terakhir, minat saya terfokus pada membaca karya-karya sastra penulis senior kita, yang tidak hanya berkisah tentang politik, tetapi juga mencerminkan kondisi politik negara kita pada masa orde baru. Buku politik mungkin tidak sepenuhnya merangkum tragedi ini, melainkan menyoroti sisi gelap yang dihasilkan oleh politik pada masa orde baru.

Dalam buku-buku sastra yang saya baca, menjadikan saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada masa orde baru. Puncaknya pada Mei 1998. Tragedi Mei 1998 ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya krisis moneter, ketidakpuasan terhadap politik, media masa yang menjadi bahan bakar mahasiswa, konflik etnis, reformasi politik, hingga huru hara di dalamnya yang melibatkan gerakan mahasiswa melawan hingga masyarakat yang mendukung perlawanan. 

Tragedi dan tekanan yang disebabkan oleh politik dan kepemimpinan otoriter, mestinya pemerintah tidak bisa mengelakkan diri dan menghilangkan tragedi ini dari lini sejarah bangsa. Jika memang tujuan menghilangkan tragedi Mei 1998 dari sejarah untuk menghilangkan rasa traumatis, sepertinya usaha itu tidak berhasil.

Nyatanya, hingga saat ini para aktivis aktivis kemanusiaan terus berupaya untuk mencapai tujuan mereka. Yakni, pengusutan tuntas, kejelasan para korban yang meninggal, hak-hak manusia yang dirampas, atau paling tidak pengakuan pemerintah terhadap masa kelam yang pernah dilakukan oleh bangsa kita sendiri terhadap rakyat sendiri. 

Apa upaya pemerintah?

Tidak bisa dipungkiri atas upaya pemerintah menengahi kasus Mei 1998 ini, salah satunya yaitu upaya Rekonsiliasi. Yaitu upaya untuk mendamaikan, menyatukan, atau memulihkan hubungan yang terganggu antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, ketegangan, atau peristiwa traumatis.

Tujuan dari rekonsiliasi adalah menciptakan kesepahaman, mengatasi perbedaan, dan membangun kembali kepercayaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Penting untuk diakui bahwa rekonsiliasi bukanlah sekedar tentang mengenang atau mengenang kenangan yang tidak menyenangkan, namun lebih tentang memahami, menghargai, dan membuka dialog terbuka tentang masa lalu.

Rekonsiliasi seringkali menjadi langkah penting setelah masa konflik atau trauma untuk mencapai perdamaian, stabilitas, dan keharmonisan di masyarakat. Proses ini dapat mencakup dialog antar kelompok, pembentukan komisi kebenaran, dan langkah-langkah lainnya yang bertujuan untuk mengungkap kebenaran, memahami berbagai perspektif, dan menciptakan landasan untuk kehidupan bersama yang lebih baik.

Apakah upaya pemerintah sudah bisa dikatakan sebagai upaya rekonsiliasi? 

Apa urgensi pembahasan ini di era sekarang?

Saya pernah membaca sebuah kalimat dari penulis senior di Indonesia, begini kata Pramoedya Ananta Toer:

“Seorang pemimpin yang tidak mengetahui sejarah Indonesia, sudah bisa dipastikan ia akan menjadi pemimpin yang jahat”. 

Saya setuju dengan pandangan tersebut. Seorang pemimpin perlu memahami sejarah bangsanya untuk mencintai negaranya. Pengetahuan terhadap sejarah bukan sekadar tahu, tetapi juga memahami, menyadari, mengakui, dan menerima masa lalu yang penuh tantangan.

Jika seorang pemimpin ini tidak menjadikan sejarah kelam sebagai pembelajaran, lalu ia akan belajar dan mengalirkan dari segi mana untuk menjadikan bangsa ini yang lebih baik? Pertanyaan selanjutnya yang perlu direnungi adalah, siapa pemimpin itu? 

Tentu saja, generasi muda yang akan menjadi pemimpin selanjutnya. Bagaimana jika generasi mudah juga tidak mengetahui sejarah politik Indonesia? ini hanya akan berputar sesuai poros yang sama tanpa melakukan perubahan apapun. Oleh karena itu, inilah yang menjadi urgensi bahwa pembahasan ini masih perlu kita angkat terus meskipun tidak diajarkan di sekolah formal. 

Apa upaya yang bisa dilakukan?

Meski saya bukan anggota resmi relawan kemanusiaan dan gerakan HAM, sebagai manusia modern saya sering memanfaatkan kesempatan modernisasi ini mencari tahu dan paling tidak mengenal negara kita. Bukan berarti saya menyuarakan diri untuk menjadi politikus, saya hanya menyarankan kepada kalian semua, untuk mengenal negara melalui sejarah.

Mengapa demikian? Menurut saya pribadi, dengan mengenal sejarah pemimpin negara kita, sistem pemerintahan, politik, dan masa-masa terdahulu akan menjadikan kita sedikit berisi untuk menentukan pemilihan pemimpin ke depannya.Jadi, tidak mudah tertipu daya oleh visi misi yang tidak masuk akal dan mustahil tercapai.    

Dengan mengetahui perjalanan sistem pemerintah, tentu muatan penting sejarah lokal telah dibahas secara menyeluruh, lugas oleh setiap orang yang ahli dibidangnya.Saat ini kita tidak perlu berspekulasi untuk mengetahui apa yang terjadi pada bangsa kita. Media masa sudah lebih canggih dan menyediakan ribuan data, fakta bagi mereka yang mencarinya. 

Berhentilah masyarakat menjadi yang lambat dengan sistem kepemimpinan.Bukankah era generasi kita ini jauh lebih melek digital, maka sudah bukan saatnya menuntut pemerintah untuk memasukkan buku-buku bagus untuk bacaan wajib di sekolah.Kita semua sudah bisa dengan bebas membaca buku-buku yang bagus di luar sekolah. Maka cari tahu dan menjadi warga negara yang terpelajar.

Kesimpulan Tragedi Mei 1998

Peristiwa Mei 1998 seharusnya tidak hanya dianggap sebagai bagian dari latar belakang sejarah, tetapi sebagai landasan yang harus diletakkan di depan untuk memastikan pembelajaran dan perubahan yang berkelanjutan.Untuk mencapai rekonsiliasi yang sejati, maka langkah-langkah konkrit perlu diambil.

Pertama, pemerintah dan masyarakat perlu bersedia menghadapi kebenaran, meskipun pahit, dengan melakukan pengakuan terbuka terkait kesalahan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama peristiwa tersebut.

Kedua, memastikan bahwa narasi sejarah yang akurat dan terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah, sehingga generasi muda memahami sejarah mereka secara lengkap.

Rekonsiliasi juga harus mencakup pengakuan terhadap korban dan keluarga mereka, serta upaya untuk menghormati dan mengenang mereka yang kehilangan nyawa mereka pada peristiwa tersebut.

Selain itu, masyarakat sipil, termasuk kelompok mahasiswa dan aktivis, memiliki peran penting dalam memastikan bahwa suara mereka terdengar dan bahwa hak-hak dasar dihormati.

Tragedi Mei 1998 tidak boleh dianggap sebagai beban berat yang harus dihindari, tetapi sebagai panggilan untuk menyelesaikan ketidaksetaraan dan konflik yang tersembunyi.Rekonsiliasi seharusnya menjadi jembatan yang membawa bangsa ini bersama-sama menuju masa depan yang lebih inklusif dan adil.

Mencari kebenaran, memahami perspektif yang berbeda, dan membangun dasar kesepahaman bersama harus menjadi misi bersama kita untuk mencapai rekonsiliasi sejati demi kesejahteraan Indonesia. Sekian artikel opini tentang Tragedi Mei 1998 dari saya, sampai jumpa di artikel opini selanjutnya!

 

Sumber Youtube:

  1. MetroTV 
  2. Menjadi Manusia (Leila Chudori)
  3. Mejadi Manusia (Sandyawan Sumardi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *