Sistem Pendidikan Kejar Target, yang Penting Lulus!

iim maya sofa
Sistem Pendidikan Kejar Target, yang Penting Lulus!
Potret siswi Indonesia sedang menunjukkan karyanya

Bicara tentang pendidikan, tidak akan membuat saya bosan untuk membahasnya. Bagi saya, pendidikan merupakan fondasi utama untuk membangun karakter yang terdidik guna kebaikan bangsa dan negara. Sistem pendidikan akan terus mendapat komentar dari mereka yang terus peduli dengan pendidikan.

Pendidikan merupakan landasan bagi kemajuan sebuah bangsa. Namun, apakah kita benar-benar memberikan pendidikan yang berkualitas ketika sistemnya lebih mementingkan pencapaian target daripada pemahaman yang mendalam? Inilah pertanyaan yang harus kita pertimbangkan saat melihat dampak dari pendidikan dengan sistem kejar target, di mana yang terpenting hanyalah lulus.

Maksud sistem kerja target itu apa?

Sistem kejar target sering kali  fokus pada angka-angka, seperti nilai ujian dan jumlah siswa yang lulus atau naik kelas. Sistem ini tanpa memperhatikan apakah siswa benar-benar memahami materi dan bagaimana proses seorang siswa mendapatkan nilai tersebut.

Pendidikan seharusnya lebih dari sekadar mencetak lulusan dengan kumpulan nilai tinggi dan jumlah siswa yang naik kelas. melainkan menciptakan individu yang memiliki pemahaman yang kuat dan keterampilan yang relevan.

Coba kita menilik nama kementerian pendidikan kita, Kementerian Pendidikan dan Budaya. Artinya, bukan hanya pendidikan saja, melainkan mencetak sebuah budaya. Jadi, jika seorang siswa sejak duduk di bangku sekolah dasar ia tidak dibentuk budaya yang baik, maka ini akan melahirkan generasi yang terbiasa dengan budaya yang tidak baik.

Yang saya maksud dengan budaya tidak baik ini adalah, budaya instan. Karena sistem pendidikan kejar target, yang penting jumlah siswa yang naik kelas dan yang lulus banyak, sudah dapat dipastikan bahwa sistem pendidikan seperti ini tidak begitu peduli bagaimana seorang siswa bisa mencapai nilai itu.

Sederhananya, ini akan menjadikan budaya instan, menghalalkan berbagai cara dan budaya-budaya kurang bermoral lainnya. Jika demikian, artinya pendidikan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan jabatan para petinggi saja. Karena, filosofis dalam mendidik sudah hilang.

Apa dampaknya?

Salah satu dampak negatif yang dapat timbul adalah kehilangan motivasi intrinsik siswa. Saat siswa hanya dihargai berdasarkan pada seberapa baik mereka mencapai target dan mendapatkan nilai tinggi, proses belajar yang seharusnya menjadi suatu petualangan penemuan diri menjadi terkikis. Mereka mungkin belajar hanya untuk “lulus” bukan karena rasa ingin tahu atau hasrat untuk memahami.

Selain itu, sistem ini bisa menghasilkan lulusan yang kurang siap untuk menghadapi dunia kerja yang kompleks. Mereka mungkin memiliki sejumlah nilai bagus, tetapi apakah mereka memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh industri? Apakah mereka dapat menghadapi tantangan nyata di luar dunia akademis? Fokus pada target belaka mungkin mengakibatkan kelulusan yang hampa dari pemahaman yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana?

Sebagai alternatif, kita dapat mempertimbangkan pendekatan pendidikan holistik yang menekankan pemahaman mendalam, pengembangan keterampilan, dan motivasi intrinsik. Guru dapat menjadi fasilitator yang memandu siswa menuju pemahaman, bukan hanya pemberi nilai.

Pendidikan seharusnya menciptakan lingkungan yang merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas, bukan hanya menjadi perlombaan mencapai target. Dengan memperbaiki pendekatan ini, kita dapat menciptakan lulusan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Mestinya, pendidikan seharusnya bukan sekadar tentang memenuhi target atau meraih predikat lulus dengan nilai tinggi, melainkan tentang membangun dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan membawa manfaat jangka panjang bagi individu dan masyarakat.

Jadi, apakah kita ingin sistem pendidikan yang hanya mencetak lulusan dengan kumpulan nilai tinggi atau kita ingin menciptakan lingkungan belajar yang memberdayakan dan menginspirasi generasi mendatang?

Saatnya untuk merefleksikan kembali pendekatan kita dalam mendidik anak-anak kita dan merancang sistem pendidikan yang lebih holistik, peduli pada pemahaman, dan mempersiapkan mereka untuk masa depan yang lebih kompleks.

Kesimpulan

Kesimpulannya, opini ini menyuarakan keprihatinan terhadap sistem pendidikan yang terlalu fokus pada mencapai target dan kelulusan, tanpa memperhatikan pemahaman mendalam yang dimiliki oleh siswa. Ini sama halnya menjadikan tumpul kreativitas seorang siswa.

Saya berpendapat demikian, karena jika dilihat dalam jangka panjang, ini akan berpotensi menciptakan budaya instan dan menghilangkan nilai filosofis dalam pendidikan. Dampaknya mencakup kehilangan motivasi belajar siswa, kurangnya keterampilan praktis, dan kelulusan tanpa pemahaman yang nyata.

Sebagai refleksi diri saja, mungkin bisa dilakukannya pendekatan holistik pada pendidikan. Yaitu, sebuah pemahaman yang menyeluruh, tidak setengah-setengah hingga mencapai pemahaman teori juga ingin mempraktikkan di dunia nyata.

Guru dianggap sebagai fasilitator yang membimbing siswa, dan lingkungan pendidikan harus merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas. Sederhananya perlu adanya refleksi kembali terhadap sistem pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang mempersiapkan generasi mendatang dengan lebih baik untuk menghadapi masa depan yang kompleks.

Sekian artikel opini tentang sistem pendidikan kejar target dari saya. Sampai jumpa di opini selanjutnya!

 

Sumber:

Youtube [Kok Bisa]

Instagram [kiki-kong20]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *