Pendidikan Karakter Pondasi Penting dalam Membangun SDM

Penulis: Yetti Rochadiningsih

Pendidikan Karakter Pondasi Penting dalam Membangun SDM
Ilustrasi Pendidikan Karakter Pondasi Penting dalam Membangun SDM (Foto: Pexels/Teguh Dewanto)

Pendidikan Karakter Pondasi Penting dalam Membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Kini lembaga pendidikan formal dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi mulai memperhatikan pendidikan karakter dan berupaya mengintegrasikannya ke dalam kurikulum. Permasalahan karakter menjadi sorotan masyarakat Indonesia dalam dua dekade terakhir. Hal ini disebabkan banyaknya permasalahan seputar korupsi, kerusuhan, kekerasan, konflik etnis dan masalah lainnya.

Mengutip dari artikel Ruli Maryani yang berjudul Pendidikan Karakter di Sekolah Sebagai Pondasi Masa Depan, terdapat tujuh bentuk dekadensi moral generasi muda bangsa. Dekadensi tersebut setidaknya menggambarkan begitu rapuhnya karakter diri generasi muda Indonesia.

Dekadensi Moral Generasi Muda di Indonesia

Pertama, penyalahgunaan narkoba. Ada 3,8 hingga 4,2 juta pengguna narkoba di Indonesia yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. 48% pengguna narkoba adalah pecandu sedangkan 52% sekadar coba-coba atau pemakai (BNN, 2012).

Kedua, masalah pornografi. 64% pelajar dan mahasiswa belajar seks melalui film porno dan DVD bajakan. Akibatnya, sebanyak 39% responden rentang usia 15-19 tahun dan  25% responden rentang usia 20-25 tahun sudah pernah berhubungan seksual (KPAI, 2016).

Ketiga, masalah seks bebas. Terdapat 800 jenis video porno produksi dalam negeri, 90 % dari video tersebut diperankan oleh kalangan pelajar dan mahasiswa (KPAI, 2016).

Keempat, kasus aborsi. di Indonesia kasus aborsi mencapai 2,4 juta kasus setiap tahunnya atau (700-800 ribu). Mirisnya pelakunya adalah kalangan remaja (Komnas HAM. 2016).

Kelima, permasalahan prostitusi. Ada 150.000 anak di bawah usia 18 tahun  dipaksa menjadi pekerja seks. Setengah populasi pekerja seks tersebut, berusia di bawah 18 tahun. Sedangkan 50.000 di antaranya belum mencapai usia 16 tahun (KPAI, 2016).

Keenam, tawuran pelajar dan mahasiswa. Pada tahun 2012 terdapat 139 tawuran kasus tawuran. Bahkan 12 kasus yang ada telah menyebabkan kematian. pada tahun 2011 terdapat 339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 anak meninggal dunia (KPAI, 2016).

Ketujuh, balapan liar antara geng motor. Balapan liar tersebut mencetuskan taruhan atau judi diantara geng motor tersebut. Taruhan yang dipasang berkisar antara 5 juta rupiah hingga 25 juta rupiah per balapan. Akibatnya terdapat 60 orang meninggal setiap tahunnya yang disebabkan oleh balapan liar (KPAI, 2016).

Jangan Tunggu Sampai Kronis

Kesadaran mengenai permasalahan ini, sayangnya muncul ketika sudah kronis. Akibatnya penanganan masalah yang ada jauh lebih sulit. Karakter manusia adalah pembawaan pribadi serta hal yang mendasar. Pembentukan karakter seseorang membutuhkan waktu yang lama serta proses yang panjang. Mengubah karakter seseorang menjadi karakter yang berbeda tidaklah gampang. Walaupun begitu, sesulit apapun perubahan yang akan dihadapi dapapun harus terus berlanjut dan diatasi jika kita tidak mau bangsa Indonesia hancur.

 

Pria Jepang saling membungkuk satu sama lain. Foto: Getty Images/ StockstudioX

Pendidikan Karakter di Jepang

Dalam hal pendidikan karakter, penulis mengambil contoh negara Jepang. Sistem pendidikan di Jepang tidak mengedepankan pendidikan akademik. Negeri tersebut  lebih mengedepankan kedisiplinan dan kemandirian sejak usia dini. Hasilnya, penduduk yang masih berusia dini  hidup sangat disiplin, tertib, sopan dan cerdas.

Untuk membangun karakter seseorang perlu dibangun sejak usia dini, sebab akan selalu diingat hinggabesar nanti. Anak-anak di Jepang diajarkan nilai kemandirian, disiplin, sopan santun, sehingga diharapkan mereka dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Mereka pun memahami dampak yang ditimbulkan ketika akan melakukan sesuatu sehingga mereka akan menjaga hal tersebut menjadi suatu kebiasaan.

Peran Sekolah, Rumah dan Masyarakat

Dengan pendidikan karakter seperti itu tak heran jika anak-anak di Jepang di ajari menghormati orang yang lebih tua, sebaya, dan juga dibawah usianya sekalipun. Karena ajaran tuk saling menghormati tertanam sejak mereka di usia dini.

Penulis sangat mengapresiasi para ibu yang menerapkan ajaran ini sejak dini kepada anak-anaknya. Jadi, pendidikan karakter ini bukan hanya di sekolah saja, tetapi juga di rumah dan masyarakat. Artinya, kita semua ikut bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak atau generasi muda bangsa ini.

Sumber:

Ruli Maryani, 2019, Pendidikan Karakter di Sekolah Sebagai Pondasi Masa Depan

Budi Mulyadi, 2014, Model Pendidikan Karakter Dalam Masyarakat Jepang, Jurnal IZUMI, Volume 3, No. 1

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *