Dunia Kerja: Beda Generasi Beda Gaya

admin
Beda Generasi Beda Gaya
Ilustrasi Generasi Bekerja (Foto: Creative vix/Pexels)

Kali ini Suara Kreatif akan membahas artikel tentang ‘Dunia Kerja: Beda Generasi Beda Gaya’. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengeluarkan data hasil sensus tahun 2020. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia berjumlah 270,20 juta jiwa. Jika dikelompokan berdasarkan generasi adalah sebagai berikut: 25,87% kelompok generasi Millenial, 21.88% kelompok Generasi X, 11,56% kelompok generasi Baby Boomer, dan Generasi Z berjumlah 27,94%.

 

Dunia Kerja: Generasi Masa Kini

Berdasarakan data tersebut di atas jumlah generasi Z cenderung lebih banyak dari generasi lainnya. Saat ini generasi Z yang memasuki dunia kerja masih minor, sebagian besar dari mereka masih dalam usia sekolah. Namun berdasarkan data BPS sebagian besar tempat kerja diisi oleh generasi Millenial kemudian Generasi X. Sementara, Baby Boomer saat ini telah memasuki usia pensiun.

Memperhatikan perkembangan generasi dari waktu ke waktu sangat menarik. Hal ini tentunya berpengaruh dalam dunia kerja, karena perbedaan generasi tersebut nyatanya selain berdampak positif ada saja permasalahan yang muncul karena disebabkan perbedan gap tersebut. Berikut adalah gaya dan sifat masing-masing generasi.

 

Dunia Kerja: Baby Boomers (1946-1964)

Baby Boomers atau dalam pergaulan sehari-hari kita kenal dengan Angkatan Babe Gue (ABG), dalam perkantoran saat ini biasanya sudah berada pada level pimpinan. Karakter mereka cenderung kaku, kuno dan kolot dalam memimpin, hal ini tentunya juga berpengaruh ketika mereka membuat aturan.

Karakter ini tentunya disebabkan karena mereka masih dipengaruhi oleh didikan orang tua dan tradisi leluhur. Meskipun karakter baby boomers seperti itu namun di mata para generasi X, Y dan Z mereka merupakan generasi yang optimis, disiplin dan pekerja keras meskipun telah mendekati masa pensiun.

Generasi baby boomers belum sepenuhnya bisa move on ke dunia digital, mereka masih senang melakukan pekerjaan secara manual.

Contohnya dalam hal mengirim surat ke luar, pimpinan masih sering menanyakan bukti faximile atau resi pengiriman. Meskipun surat undangan sudah di kirim via email atau whatsapp, pimpinan tetap menginginkan semua undangan di kirim  dengan cara email atau manual. Dengan demikian pimpinan lebih merasa tenang dan yakin.

 

Dunia Kerja: Generasi X (1965-1980)

Mengutip buku Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu serta media online yang menyatakan bahwa generasi X saat ini telah menempati posisi senior dalam sebuah perusahaan/kantor, mereka memiliki kecenderungan menjalani sesuatu dengan serius namun santai. Mereka sangat berbeda dengan baby boomers.

Berdasarkan kutipan dari liputan6.com, gen X punya karakteristik yang mampu beradaptasi, menerima perubahan dengan baik, dan tangguh karena cenderung mandiri, loyal, dan pekerja keras.

Mengutip dari kompas.com ternyata generasi ini memiliki sisi buruk, yakni mengutamakan work-life balance. Generasi ini tidak ambisius untuk urusan karier, namun tidak menyepelekan pekerjaan. Generasi ini berusaha untuk selalu meluangkan waktu dalam membahagiakan diri di sela kesibukan kerja.

Generasi ini lebih fokus pada kebahagiaan atau kesuksesan dirinya sendiri, sehingga mereka tidak segan menunda menikah atau punya anak jika dipandang perlu. Selain itu mereka cenderung skeptis dan tidak ingin terlibat dalam kegiatan yang dinilai tidak menguntungkan mereka.

 

Dunia Kerja: Generasi Millennial (1981-1996)

Dalam artikel Dewi Rachmawati mengatakan, para ahli telah mengungkap bahwa generasi Z sangat melek teknologi, karena mereka sejak lahir telah mengenal internet dan komputer. Generasi Millenial  memiliki harapan yang tinggi terhadap kecanggihan teknologi dalam kehidupannya, demikin pula dalam dunia kerja. Generasi Millenial memiliki impian bekerja pada perusahaan yang memiliki teknologi canggih dan besar.

Mengutip dari laman Pusat Riset Masyarakat dan Budaya-BRIN  dalam artikel yang berjudul Baby Boomer, Generasi X dan Millenial: Perbedaan Karakteristik dan Perilaku di Dunia Kerja, serta hasil penelitian yang di lakukan oleh Ngotngamwong (2019) dari Thailand mengungkapkan bahwa Baby Boomer dan Generasi X melihat generasi millenial dalam bekerja adalah sosok yang memiliki kreativitas, ketegasan, kaya akan ide yang segar, dan kehadirannya memberikan warna di tempat dia bekerja.

Sayangnya mereka memiliki loyalitas dan komitmen yang rendah pada organisasi, masa kerja yang cenderung singkat, tidak bertanggung jawab, keras kepala, tidak sabaran, terlalu percaya diri, sibuk dengan gadgetnya dan tidak mau mendengar nasehat dari atasannya.

Menurut Becky dan Erwin dalam bukunya yang berjudul “Generation Gap(less): Seni Menjalin Relasi Antar Generasi”,  generasi millenial ketika bekerja cenderung lebih playful. Apabila memungkinkan  bekerja dan bermain bisa dilakulan bersamaan.  Prinsip generasi ini adalah YOLO (You Only Life Once), dimana ingin menikmati hidup. Sehingga mereka tidak suka sesuatu hal yang kaku.

 

Dunia Kerja: Generasi Z (1997-2012)

Investopedia menyatakan bahwa generasi Z lahir di tahun 1997-2012. Sementara menurut Bencsik, Csikos & Juhaz, 2016 generasi Z lahir antara tahun 1995 -2010, artinya generasi ini sudah mulai memasuki dunia bekerja meskipun jumlahnya masih minor.

Bisa jadi di beberapa organisasi dan tempat bekerja ada 4 generasi dalam satu lingkungan. Diantaranya: generasi baby boomer yang mulai memasuki masa pensiun, generasi X, generasi Y dan generasi Z yang jumlahnya masih minoritas.

Becky dan Erwin mengatakan bahwa meskipun generasi Z sangat dekat dengan generasi millennial,  karakteristik  mereka cenderung bertolak belakang. Z cenderung lebih ‘rapi’ sedangkan millennial senang mencampur aduk antara kerja dan main.

Genenerasi Z dalam melihat dunia luar selalu pesimis akan tetapi merasa optimis dan nyaman saat mereka sendiri. Generasi ini melihat dunia sudah dalam keadaan kacau sehingga membuat mereka lebih self-centered walaupun tidak semua berprilaku demikian.

 

Perlunya Rasa Tepa Selira dalam Dunia Kerja

Tepa selira menurut KKBI adalah dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain, tidak menyinggung perasaan, dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi: kita harus mempunyai rasa – terhadap sesuatu yang dirasakan orang lain. Beda generasi beda karakter.

Dalam artikel ini penulis mengambil kutipan dari berbagai sumber untuk mengingatkan diri sendiri dan juga para pembaca, bahwa tepa selira itu penting di setiap aspek kehidupan.

 

Baca juga: Inspirasi Outfit ke Kantor ala Dessy

Responses (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *