Opini  

Pancasila: Ketuhanan Sebagai Realitas Objektif

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Associate Professor Universitas Al Azhar Indonesia)

admin
Pancasila (foto: freepik.com)
Pancasila (foto: freepik.com)

Pancasila: Ketuhanan Sebagai Realitas ObjektifPancasila merupakan sebuah sistem filsafat yang paling mendasar, ia dinyatakan sebagai philosophische grondslag. Pancasila sendiri memiliki gagasan idealisme dan ide matafisika berupa Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai urat tunggangnya menurut Buya Hamka. Sila ini tertuang sebagai Sila Pertama dan sekaligus menjiwai sila-sila lainnya dalam sistem Filsafat Pancasila (Hamka, 1953).

Ketuhanan Yang Maha Esa adalah proses epistemologi bertuhan yang melampaui ide beragama manusia. Beragama adalah tindakan sadar manusia dalam memeluk dan menjalankan ritualitas serta hukum-hukum agama.

Baca juga: Pancasila Sebagai Nilai Universal Untuk Perdamaian di Dunia

Beragama Belum Tentu Bertuhan

Bertuhan adalah suatu realitas kesadaran bahwa Tuhan tidak pernah lepas dari alam berfikir serta jiwa manusia yang menyatakan pengakuan atas eksistensi Tuhan itu sendiri. Seseorang yang beragama belum tentu bertuhan, karena seseorang yang menjalankan prosesi peribadatan belum tentu bertindak secara moral dan etik atas dasar keyakinan kepada Tuhan. Kejahatan dapat saja dilakukan oleh orang yang beragama, tetapi saat itu ia tengah kehilangan kesadaran atas hadirnya Tuhan dalam akal dan jiwanya.

Pancasila meletakkan idealisme bertuhan dibandingkan beragama, karena menitikberatkan pada konsep kesadaran atas kehadiran Tuhan dalam diri manusia Indonesia. Dalam aliran filsafat idealisme kondisi kesadaran jiwa mendahului materi, bahwa ide tentang jiwa menentukan segala yang bersifat materi: kekayaan, kemiskinan, segala kebendaan materi.

Rasionalitas

Ketuhanan selalu dinyatakan sebagai kesadaran atas hadirnya Tuhan dalam jiwa manusia. Rasionalitas tindakan manusia akan ditentukan oleh rasa dan kesadaran bertuhan. Kesadaran bertuhan akan menjadi landasan penuntun dalam setiap tindakan yang ia pilih.
Seseorang bertindak atas kesadaran dan tindakan yang dihasilkan adalah berdasarkan pada idealisme Ketuhanan.

Pemahaman ini kemudian mengarah pada pertanyaan fundamental mengenai sifat Tuhan itu sendiri, sebab Tuhan adalah realitas objektif yang selalu difikirkan oleh manusia sejak terciptanya peradaban. Tuhan menurut St. Anselmus (1093-1109) adalah objek terbesar yang terfikirkan dalam akal manusia yang dengannya Dia tak dapat dibandingkan dengan apapun. Ketika sebuah objek masih dapat dibandingkan oleh akal dengan objek lainnya sebagai pembanding, maka dia bukanlah Tuhan. Ketika objek tertinggi dan terbesar yang tak lagi ditemukan pembandingnya dengan objek apapun maka Dialah Tuhan (Nnaeme, 2015).

Ketuhanan Yang Maha Esa

Idealisme Ketuhanan sekaligus merupakan sebuah kesadaran metafisis, bahwa segenap wujud yang hadir secara fisik ditentukan oleh kehadiran objek yang berada dibaliknya (meta), Dia (Tuhan) berada dibalik segenap yang tampak, yang menentukan segenap yang tampak. Bagi Ibn Arabi (1165-1240), kehadiran alam semesta hanyalah bentuk tanda (sign) dari kehadiran yang sesungguhnya hadir, yaitu Allah. Alam semesta baik makrokosmos maupun manusia selaku mikrokosmos hanyalah fenomena dari hadirnya Allah itu sendiri. Segenap fenomen yang ada menjadi tanda (sign) dari kehadiran Tuhan sebagai realitas wujud, sedangkan lainnya alam semesta dan manusia hanyalah realitas semu (A. Afandi, 2022).

Dalam konteks ini, Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sebuah bentuk kesadaran jiwa akan hadirnya Tuhan dalam jiwa manusia Indonesia dan menjadi potensi penggerak utama dari segenap rasionalitas tindakan yang diambil secara objektif. Bahwa kesadaran atas kehadiran Tuhan dalam jiwa menentukan bagaimana ia bekerja, berbuat, dan bertindak dalam ruang Keindonesiaan kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *