Otoko Meshi: Laki yang Bisa Masak itu Keren!

Putri Rizky Rahmadina
Otoko Meshi: Laki yang Bisa Masak itu Keren!
Otoko Meshi: Laki yang Bisa Masak itu Keren! (IMDb)

Lagi cari-cari bahan tontonan, malah bertemu dengan drama Jepang keluaran tahun 2016 ini. “Otoko Meshi” merupakan food drama berisi 10 episode yang disutradarai oleh Sakaki Hideo dan Yamaguchi Yuya, serta penulis naskah Nemoto Nonji. Ternyata, drama ini juga ada dalam bentuk novel dengan judul yang sama oleh Tetsuzô Fukuzawa pada tahun 2019 silam. 

Drama bertema memasak ini menceritakan tentang Ryota Wakamizu, seorang mahasiswa yang sedang bersusah payah mencari kerja. Setelah ditolak secara kasar oleh satu perusahaan yang ia lamar, Ryota malah tidak sengaja terjebak di tengah perkelahian antar geng. Bos dari Yanagiba Ryuichi dan bawahannya, Hino, dari Yanagiba-Gumi bertarung melawan dari komplotan Yamamori.

Di tengah perseteruan ini, Ryota diselamatkan oleh Yanagiba, dan sebagai gantinya harus mau membantu menyembunyikan Yanagiba dari kepolisian sementara waktu. Selama itu, Ryota senantiasa dikejutkan oleh Bos yakuza yang rupanya sangat pandai memasak. Hal ini didasari oleh kesadaran Yanagiba yang tahu bahwa ia fapat mati sewaktu-waktu karena pekerjaannya. Karenanya, ia tidak mau makan makanan yang tidak enak dalam sisa hidupnya. 

Mulai dari saat itu, kehidupan Ryota beserta kulkas dan meja makannya yang awalnya terlihat ngenes kini menjadi lebih berwarna dengan keberadaan Bos Yanagiba dan Hino. 

Setelah mengetahui inti dari “Otoko Meshi”, yuk bahas inti-inti yang membuat acara ini menarik dan cocok ditonton kala senggang.

MAKANAN DALAM OTOKO MESHI.

Ketika membayangkan yakuza, kita mungkin akan mencoba membayangkan makanan seperti apa yang biasa disantap oleh organisasi ini. Mungkin kita malah akan terbayang makanan kelas atas yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. 

Pembaca mungkin akan terkejut kalau mengetahui bahwa ramen merupakan salah satu makanan yang dipopulerkan oleh yakuza. Padahal di Jepang, ramen merupakan salah satu makanan yang populer di kalangan masyarakat menengah alih-alih atas. Mengapa?

Karena pada sekitar tahun 1945-1952, penjual jalanan dilarang untuk berjualan demi mengatur jatah makanan yang dialokasikan pasca perang. Akan tetapi karena pembagian jatah makanan yang terlambat, warga Jepang akhirnya bergantung pada kedai-kedai illegal yang memenuhi pasar gelap pada waktu itu. Pasar gelap ini dijalankan dan dilindungi oleh yakuza, dan mi ramen menjadi komoditas utama dari kedai-kedai yang ada di sini. Ternyata tidak disangka makanan sesederhana ramen ada sangkut pautnya dengan yakuza, ya!

Lantas hubungannya apa ya…


Mungkin mengakar dari pengetahuan tersebut, drama Otoko Meshi juga berfokus pada bahan-bahan makanan rumahan, yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat Jepang. Ikan kalengan, sayuran sisa, daging sapi murah, daging kornet, kari siap saji, dan lain sebagainya. Bahan-bahan yang bahkan Ryota yang jomblo ngenes dan belum bekerja pun dapat membelinya. Meskipun sederhana, Yanagiba ternyata mampu memasak hidangan-hidangan rumahan yang lezat hanya dengan bahan seadanya. Tentu, kadang-kadang ada pula bahan tak terduga lainnya yang menjadi bumbu baru dalam makan malam mereka. 

Fokus dari Otoko Meshi bukanlah mewah atau tidaknya hidangan, secara makanan rumahan pastinya tidak bersembunyi dibalik prestis atau bahan-bahan mahal. Karenanya kemampuan memasak Yanagiba menjadi sangat kentara dalam setiap episode. Ia menunjukkan bahwa bukan bahan-bahan mahal yang penting dalam memasak, tetapi bagaimana kemampuan, pengalaman, dan pemahaman dalam memasak itulah yang membuah bahan sederhana menjadi makanan yang lezat. 

Lewat masakannya, Yanagiba juga secara tidak langsung memberikan petuah-petuah hidup melalui masakannya kepada Ryota dan penonton. Latar belakang bukanlah masalah, tetapi kecakapan, usaha, dan pengalaman kita lah yang akan menentukan kesuksesan kita dalam hidup.

LAKI-LAKI YANG BISA MEMASAK ITU KEREN!

 “Otoko” (男 おとこ) berarti pria sedangkan “Meshi” (飯) berarti makanan, sehingga ketika digabung kita dapat menyimpulkan bahwa drama ini bercerita tentang makanan bagi dan oleh pria. Drama ini memang memiliki tema yang lumayan maskulin. Selain dari judul, karakter yakuza yang ada dalam cerita ini juga merujuk pada esensi maskulinitas ini, karena profesi yakuza merupakan profesi yang lebih didominasi oleh pria.

Apa hubungannya dengan memasak? 

Bila kita lihat, memasak merupakan sesuatu yang lebih identik dengan peran perempuan. Akan tetapi di dalam dapur professional, keberadaan laki-laki justru lebih mendominasi di dunia kuliner. Sebaliknya, pekerja kuliner  perempuan justru lebih sedikit. Mengapa demikian? 

Karena memasak pada laki-laki umumnya dikaitkan dengan profesi dan seni, sedangkan memasak bagi perempuan lebih dikaitkan sebatas pada urusan rumah tangga saja. Masakan rumahan laki-laki banyak pula direpresentasikan sebagai aktivitas waktu senggang yang dilakukan pada acara-acara khusus, berkebalikan dengan perempuan yang wajib memasak untuk keluarga. Maka dari itu tentu saja laki-laki lebih terlihat ‘keren’, karena memasak dianggap sesuatu yang ‘spesial’ ketika dikerjakan oleh laki-laki. Laki-laki juga lebih sering muncul di ranah kuliner publik.

Namun dewasa ini sudah ada beberapa media yang mempopulerkan imej laki-laki yang memasak dalam skala rumahan, bahkan justru turut mengurus kesibukan rumah tangga. Contoh paling populer tentu saja “The Way of The Househusband.”, yang menceritakan bagaimana mantan yakuza menjadi bapak rumah tangga sementara istrinya menjadi pekerja sukses. Disusul dengan karakter Souma dalam “Food Wars” yang memiliki latar belakang sederhana sebagai juru masak rumahan. Kini, “Otoko Meshi” yang berfokus pada masakan rumahan pun dapat menjadi contoh lain dalam pembangunan imej tersebut. 

 

Akhir Review Otoko Meshi.

Drama ini cocok ditonton untuk hiburan singkat yang ringan. Tapi di sisi lain, Otoko Meshi juga memberikan insight untuk banyak hal. Masakan rumahan yang sekilas terlihat sederhana, ternyata menunjukkan kualitas dari pria yang memasaknya. Selain Ryota, kita sebagai penonton juga dapat mengambil nilai-nilainya. Mulai dari tips dan trik memasak yang bisa diterapkan, juga bagaimana maskulinitas dipandang dalam drama yang ternyata begitu manly ini.

 

REFERENSI

Temizkan, R., & Uslu, A. N. (2023). The number of women in the cooking profession is low: Is it just because of gender discrimination?. International Journal of Gastronomy and Food Science32, 100711. Dapat diakses di https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1878450X23000537#:~:text=This%20is%20because%20the%20cooking,%C3%87elik%20ve%20%C5%9Eahing%C3%B6z%2C%202018).

Andersson, H., & Eriksson, G. (2022). The masculinization of domestic cooking: a historical study of Swedish cookbooks for men. Norma17(4), 252-269.

Lu Hunter. (2018). The Illegal Ramen Vendors of Postwar Tokyo. Atlas Obscura. Dapat diakses di https://www.atlasobscura.com/articles/how-did-ramen-become-popular

Response (1)

  1. This blog is definitely rather handy since I’m at the moment creating an internet floral website – although I am only starting out therefore it’s really fairly small, nothing like this site. Can link to a few of the posts here as they are quite. Thanks much. Zoey Olsen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *