Sastra  

Kekuatan Doa

Doa Istri Sholehah

Dwi Yulianti
Kekuatan Doa (foto: pexels.com)
Kekuatan Doa (foto: pexels.com)

“Pak, bagaimana cara ibu menjawab? Kita tidak bisa mengandalkan hasil dari ojek online saja, dua bulan pak belum bayar kontrakan. Ibu tahu kekuatan tenaga bapak sudah tidak seperti dulu, tapi ibu selalu memanjatkan doa meminta rejeki yang cukup untuk keluarga kita,” keluh ibu saat bapak akan berangkat bekerja menjadi ojek online seperti biasanya.

Bapak tak menjawab keluhannya, percuma karena saat ini dia tak bisa memberikan solusi. Uang kontrakan untuk dua bulan belum bisa dibayarkan pada pemiliknya. Bapak mencoba tersenyum dan berucap, “Bu percayalah, kekuatan doa ibu nanti akan merubah keadaan keluarga kita. Jangan pernah berhenti mendoakan bapak juga.”

Didekati istrinya dan membiarkan dia mencium punggung tangannya. Dikecup keningnya sambil berdoa dalam hati, “Semoga aku bisa membahagiakanmu dan Ahmad.” Bapak kemudian melangkah menuju Ahmad yang masih sarapan.

***

Semalam Ahmad menemuinya dan menceritakan kejadian di kelas. Aji meledeknya dengan mengatakan jika pekerjaan bapaknya hanyalah ojek online bukan seperti papanya Arya yang pekerja kantoran. Bapak mencoba tersenyum. Dinasehatinya jika semua pekerjaan adalah baik.

Diberikannya contoh dengan bertanya pada Ahmad, bagaimana jika tidak ada tukang pengangkut sampah?Β “Sampah akan menumpuk di mana-mana,” jawab Ahmad cepat, kemudian langsung mendapat pertanyaan lain dari bapak. “Apakah anaknya malu dengan pekerjaan ayahnya?” tanyanya pelan pada Ahmad.

Ahmad hanya menggelengkan kepalanya. Penjelasan yang disampaikan bapak sudah menjawab keresahan hatinya, walaupun hati kecil Ahmad masih belum bisa menerimanya. Setidaknya saat nanti di sekolah dan teman-temannya meledek kembali, Ahmad bisa memberikan jawaban yang sama pada mereka.

***

Dilihatnya Ahmad yang makan dengan semangat walau hanya berlaukkan telur ceplok dan kecap. Diusap kepalanya untuk memberikan kekuatan dan doa untuknya, berpamitan sambil berujar, “Ahmad ingat pesan bapak, ya!” Ahmad mengangguk cepat saat mendengar suara bapak.

Setelah dirasakan cukup aman meninggalkan keluarganya, bapak melangkah menuju motor yang sudah dipanaskannya. Tak lama setelah bapak berangkat, Ahmad berangkat ke sekolah bersama ibu. Jika Ahmad langsung masuk ke dalam gerbang sekolah, maka ibu akan melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Indri.

Pekerjaan ibu saat ini menjaga anak Bu Indri yang masih berusia 1 tahun. Ibu Indri adalah guru di sekolah yang sama dengan Ahmad. Saat itu mereka belum bisa membayar uang kontrakan. Bu Indri yang mendengar dari tetangganya, akhirnya membantu.

Dibayarkannya uang kontrakan mereka dan untuk menggantinya ibu diminta menjaga anaknya saat Bu Indri bekerja. Sejak saat itulah ibu bekerja sebagai pengasuh putranya. Bapak juga baru saja di PHK dari tempatnya bekerja.

Awalnya bapak dan ibu ingin membuka warung kecil dari uang PHK, namun saat bapak pulang dari kantornya bapak mengalami musibah. Bapak hanya berkata, “Ternyata kita belum diizinkan memiliki warung, bu.” Meskipun begitu bapak tak pernah menyerah. Dicarinya pekerjaan yang masih bisa dilakukannya. akhirnya bapak menjadi ojek online.

***

“Sudah dua kali saya ke sini, masih saja belum bisa membayar! Dua bulan bu, jumlahnya tidak sedikit. Jika sampai ketiga kali saya datang masih dengan alasan yang sama, keluarga kalian harus pindah! Saya akan kembali tiga hari lagi!” teriak pemilik rumah yang kesal karena belum mendapatkan uang kontrakan yang sudah terlambat.

Pemilik kontrakan sudah meninggalkan ibu yang baru saja sampai dari bekerja. Saat akan dibukanya pintu, didengarnya suara bentakan yang menyebut nama Ahmad. Diurungkan niatnya membuka pintu dan membalikkan badannya.

Seorang ibu menjewer telinga Ahmad yang diikuti seorang anak laki-laki yang menangis. Setelah melihatku barulah dilepaskan jewerannya pada Ahmad. Ahmad langsung berlari memeluk kakinya, dan mulai terdengar isak kecilnya.

“Punya anak diajarin sopan santun dong bu, masa anak saya dipukuli!” bentaknya melihat aku memeriksa telinga Ahmad sambil berjongkok. Kulihat Ahmad berusaha keras menghentikan isaknya sambil menggeleng. Tak lama isaknya berhenti dia pun berujar, “Dia yang selalu mengatai pekerjaan bapak hanya ojek online, bu.”

Ibu mengangguk dan bangun menghampiri mereka yang masih menahan emosi. “Aji, ibu minta maaf ya Ahmad sudah memukul. Apakah Aji mau membalas memukulnya?” tanya ibu pelan.

Aji menggeleng, disadarinya jika semua adalah salahnya. Dia ikut mengejek bapak Ahmad saat Hendy meledeknya. Di sekolah Hendy selalu meledek bapak Ahmad, padahal Aji sering dibantu Ahmad jika ada PR yang sulit.

“Aji yang minta maaf, sudah ikut-ikutan mengatai Ahmad bu. Padahal Ahmad baik pada Aji. Maafkan aku ya Ahmad,” ucap Aji yang sudah mengulurkan tangannya pada Ahmad yang berdiri di sampingku.

Ahmad mengangguk pelan. Aku tersenyum melihat masalah ini tidak berlarut-larut. Ibu Aji hanya memperhatikan, dengan wajah kesal dia berseru, “Ayo pulang! ngapain kita di sini?”

***

Aji pamit padaku dan Ahmad, ibunya hanya menunggu hingga Aji ada disampingnya. Mereka melangkah meninggalkan halaman kontrakan dengan beberapa orang yang mengintip dari jendela. Setelah mereka berbelok dan tak terlihat lagi, ibu berjalan pelan ke arah pintu. Membukanya dan masuk beriringan dengan Ahmad.

Diperiksanya kembali telinga Ahmad, khawatir ada luka yang tadi tidak dilihatnya. Setelah yakin semuanya baik-baik saja, dimintanya Ahmad mandi. Ibu kemudian memasak untuk makan malam mereka.

***

Sudah pukul depalan malam, bapak belum juga pulang. Ibu menyuruh Ahmad makan sendiri karena dia yang akan menunggu bapak pulang. Biasanya selepas magrib bapak sudah pulang, tapi hari ini mengapa sampai pukul delapan malam lewat belum juga terdengar suara motornya datang.

Diliriknya Ahmad yang mulai mengantuk kemudian ibu berujar, “Tidurlah Ahmad, ibu saja yang menunggu bapak. Besok harus berangkat pagi ke sekolah.” Ahmad mengangguk dan beranjak masuk ke kamar satu-satunya yang ada di rumah mereka.

Hingga pukul 02.00 pagi ibu masih terjaga, walau sesekali tertidur di kursi namun pikirannya mengenai bapak membuatnya gelisah. Diperiksanya Ahmad yang tidur sendiri di kamar dan masih terlihat pulas. Sebuah senyum di sudut bibirnya terbit saat melihat anak satu-satunya tidur dengan posisi kaki yang menjuntai.

Dihampirinya Ahmad dengan perlahan dirapikan posisi tidurnya. Mengangkat naik kakinya agar tidak sakit saat bangun nanti. Ibu meletakkan sebuah guling untuk menjaga agar kejadian tadi tidak terulang. Setelah dilihatnya aman, ibu berencana ke dapur untuk memasak air. Khawatir bapak datang dan minta dibuatkan kopi.

***

Tok…tok…tok.

Ketukan di pintu menghentikan langkahnya. Dilangkahkan kakinya cepat ke arah pintu kemudian berseru, “Siapa?” Keheningan sesaat tercipta. Tak lama sebuah suara menjawab pertanyaan dengan berujar, “Pak Rt dan pak polisi.”Β  Ibu yang mendengar jika yang datang pak polisi, bergegas membuka pintu.

“Istri Pak Imam?” tanya pak polisi saat pintu terbuka.

Ditatapnya wajah di hadapannya dengan bingung karena tak mengerti apa yang terjadi. “Ibu bisa ikut kami ke rumah sakit untuk memastikan korban kecelakaan sore tadi?” tanya pak polisi pelan. Ibu mengangguk, sesaat dilangkahkan kakinya keluar pintu, diingatnya Ahmad yang sedang tidur.

“Biar kami saja yang menjaga Ahmad,” ujar ibu RT dan tetangga kontrakan sebelah yang sudah ada di hadapannya. Ibu dan Pak RT mengikuti pak polisi masuk ke dalam mobil patroli.

***

“Bapak, benar yang bapak katakan. Kekuatan doa tak akan pernah bisa mengalahkan pikiran dan keinginan kita,” desah ibu berjongkok bersama Ahmad di samping makam bapak.

Setelah bapak dimakamkan kemarin seorang lelaki paruh baya datang, menceritakan jika bapak telah menyelamatkan istrinya untuk kedua kalinya. Dahulu saat istrinya akan melahirkan dan mereka kehilangan uang yang sudah dipersiapkan, bapak memberikan uang PHK yang akan digunakan sebagai modal membuka warung.

Kemarin istrinya membawa kendaraan dan mengantuk. Saat sebuah truk bergerak cepat ke arah mobilnya, bapak yang melihatnya langsung membunyikan klakson di samping mobil hingga membuat istrinya tersadar. Namun bapak tidak bisa menghindari truk hingga tersenggol dan mengalami kecelakaan karena truk tersebut bergerak cepat.

***

“Ini adalah kepemilikan mini market yang kami buat untuk almarhum. Setelah kelahiran putra kami, usaha yang kami lakukan selalu menguntungkan. Kami berniat membayarkan kembali uang yang kami pakai. Namun kami tidak tahu harus ke mana mencarinya, maka kami buatkan usaha ini,” jelasnya.

Bapak, semua jerih payah bapak ternyata tak pernah hilang, semuanya sudah diganti menjadi yang lebih baik dan banyak. Semoga bapak tenang di sana. Kami akan selalu memberikan kekuatan doa kami untuk bapak selamanya. Terima kasih, bapak sudah menjadi suami dan bapak terbaik untuk kami.

Oleh:Oase_biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *