Siapa yang tidak mengenal Eduard Douwes Dekker yang populer dengan nama pena nya, yaitu Multatuli. Ia merupakan sosok kontroversial yang meninggalkan warisan pemikiran yang masih memicu perdebatan hingga hari ini.
Seiring berjalannya waktu, beberapa aspek pemikiran Dekker mungkin dianggap ketinggalan zaman. Namun, menurut saya sebagian besar argumentasinya tetap memiliki daya ungkit terhadap pertanyaan kritis terkait hak asasi manusia, keadilan sosial, dan pluralisme budaya.
Melalui telaah mendalam terhadap pemikiran Dekker, artikel ini bertujuan untuk merangsang pemikiran kritis pembaca tentang relevansi ide-ide kontroversial Multatuli di era modern saat ini.
Eduard Douwes Dekker mungkin telah meninggalkan kita, tetapi pertanyaannya tetap: Apakah warisannya hanya nostalgia sejarah atau ia bisa menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan masa depan yang lebih adil?
Kenalan dulu yuk
Eduard Douwes Dekker, yang lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, lahir pada 2 Maret 1820 di Amsterdam, Belanda. Ia meninggal pada 19 Februari 1887 di Nieder-Ingelheim, Jerman. Ia adalah seorang penulis dan pejabat kolonial Belanda yang terkenal karena karyanya yang paling berpengaruh, “Max Havelaar,” yang diterbitkan pada tahun 1860.
Dekker menghabiskan sebagian besar kariernya di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sebagai pegawai kolonial. Pada awalnya, ia berkarier sebagai asisten residen di Pulau Jawa, tetapi pada akhirnya, ia menyadari ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di bawah sistem kolonial Belanda. “Max Havelaar” adalah hasil dari kekecewaannya terhadap ketidakadilan tersebut.
Sekeren apa sih Eduard Douwes Dekker?
Dekker mencetuskan kritik tajam terhadap penjajahan, kebijakan kolonial, dan ketidakadilan di Hindia Belanda dengan menuliskan sebuah karya yang telah diterjemahkan sebanyak 40 lebih dari berbagai bahasa asing.
Ini membuktikan, bahwa karya yang ia tuliskan pada tahun 1860 telah mampu abadi hingga saat ini. Karyanya benar-benar menjadi refleksi nyata bagi setiap manusia agar tetap mempertahankan sikap manusiawinya.
Max Havelaar memuat sebagian besar kisah nya saat menjabat sebagai asisten residen Lebak yang hanya bertahan selama 84 hari dan ia memutuskan untuk kembali ke Belanda dan menuliskan kisahnya dalam buku Max Havelaar.

Pada saat ia menjadi asisten residen di Lebak, ia melihat sebuah praktik yang tidak semestinya dilakukan kepada sesama manusia. Penindasan, kekerasan, perampasan dan tindakan kolonialisme yang ia lihat membuatnya geram dan melaporkan kepada pejabat lokal maupun pejabat dari negaranya.
Namun, nyatanya ia tidak mendapatkan respons yang serius dari keduanya. Justru yang mengherankan adalah fakta bahwa pejabat lokal yang memilih untuk bersekongkol dan bekerja sama dengan pejabat Belanda untuk melakukan praktik yang tidak manusiawi itu.
Banyak sekali upaya yang ia lakukan untuk menyadarkan masyarakat bahwa praktik tidak manusiawi, mengambil keuntungan sepihak, kesewenangan para pejabat bumi putera membuat ia geram dan justru dianggap musuh oleh para pejabat Hindia Belanda pada saat itu.
Ini membuktikan, bahwa praktik kolonialisme ini tidak hanya dilakukan oleh pendatang, Belanda. Tetapi juga dilakukan dan disetujui oleh pejabat Bumi putera yang seharusnya memberi perlindungan dan tidak ikut mengambil keuntungan dari rakyatnya sendiri.
Bayangkan, praktik pemimpin kita sejak dulu sudah seperti itu. Apakah bisa dikatakan bahwa kita sebenarnya belum benar-benar merdeka dan menerima hak yang adil sebenarnya sebagai warga negara?
Tantangan kita saat ini
Pada zamannya, Dekker memprotes sistem kolonialisme Belanda melalui karyanya yang terkenal, ‘Max Havelaar.’ Namun, sejauh mana pemikirannya masih relevan dalam dunia yang terus berubah?
Sebenarnya, istilah kolonialisme di era modern mungkin sudah tidak akan dirasakan lagi praktiknya. Namun, esensi pemikiran Multatuli tidak hanya sebatas menghilangkan kolonialisme. Tapi jauh lebih dari itu.
Esensi pemikirannya adalah memberikan hak kepada setiap manusia, tidak pandang suku, budaya, agama dan warna kulitnya. Ia hanya menyuarakan sikap manusiawinya. Maka, menurut saya sikap kemanusiaan masih harus kita suarakan hingga saat ini.
Kata manusiawi di sini tidak serta merta pada menghilangkan perbudakan dan pemerasan fisik oleh para pejabat negara kepada rakyatnya. Saya memaknai kata manusiawi jauh lebih luas dari itu semua. Manusiawi menurut saya, termasuk dengan menyalurkan hak yang seharusnya diterima oleh rakyat.
Bisa berupa bantuan yang tersalurkan, aspirasi masyarakat yang benar-benar dianggap, pejabat yang tidak memanfaatkan posisinya untuk berbuat semena-mena, tidak menyediakan lapangan nepotisme yang itu-itu saja. Namun nyatanya masih banyak praktik perampasan hak manusiawi rakyat yang terjadi hingga saat ini.
Artinya, kita harus menghidupkan Multatuli generasi baru di era modern yang apa-apa mudah dinilai sebagai pemberontakan. Nyatanya, negara kita belum benar-benar merdeka dari pikiran, hak, keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan yang dirasakan oleh kalangan itu-itu saja.
Siapa tokoh yang terpengaruh olehnya?
Pemikiran kritis dan keberanian Multatuli untuk berpendapat, mempengaruhi cara pandang para tokoh besar di Indonesia. Di antaranya, RA Kartini, Ir.Soekarno, Raden Ahmad Soebardjo, Jose Rizal dan yang terakhir yaitu Pramoedya Ananta Toer.
Kelima tokoh tersebut hanya sebagian kecil dari para tokoh besar yang berhasil dipengaruhi oleh pemikiran Eduard Duowes Dekker. Selebihnya saya tidak bisa menyebutkan satu-satu. Namun dari sini, kita tahu bahwa orang-orang hebat lahir dari pemikiran orang hebat juga.
Kesimpulan
Setelah mengenal siapa Eduard Douwes Dekker, kemudian karirnya hingga pemikirannya menjadikan paham bahwa keadilan itu akan tercipta bukan dari siapa ia. Melainkan bagaimana ia berpikir dan bertindak. Menurut saya, memang sudah seharusnya yang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran.
Di era saat ini, jumlah SDM yang terpelajar jauh lebih banyak dibanding pada masa Hindia Belanda. Maka sudah semestinya, SDM kita, dan para pemimpin kita ini sudah harus terpelajar dan adil sejak dalam pikiran. Jika dalam pikiran saja tidak bisa adil, maka ia akan melakukan sebuah tindakan yang tidak terpelajar.
Kata Pramoedya Ananta Toer tentang buku Max Havelaar:
“Buku Max Havelaar ini membunuh kolonialisme, jika politikus tidak pernah membaca buku Max Havelaar bisa dipastikan dia akan menjadi politikus yang kejam. Karena tidak memahami sejarah Indonesia”.
Saya sedang tidak menulis resensi buku Max Havelaar kepada sekalian pembaca. Saya hanya menyarankan untuk banyak membaca bacaan yang membuat anda sedikit tahu tentang sisi lain dari kepemimpinan negara kita yang mana dalam sejarah sekolah tidak pernah diajarkan.
Ini sebuah refleksi bagi kita semua, Multatuli tetap hidup abadi bagi mereka yang sudah adil sejak dalam pikiran. Jika kamu menolaknya, boleh saja. Ini hanyalah opini yang saya tulis setelah sarapan pagi hari.
Sekian tulisan tentang Eduard Douwes Dekker dari saya. Sampai jumpa di artikel opini selanjutnya! Salam kreatif dan bersuara di Suara Kreatif!
Sumber:
Youtube (Historia.id) (Festival Seni Multatuli)