Makan bergizi gratis atau MBG digagas oleh Presiden Prabowo yang disampaikan saat kampanye dulu. Pasangan Prabowo-Gibran yang memenangkan kontes pilpres 2024 lalu, akhirnya melaksanakan janji kampanyenya yakni memberikan makan bergizi gratis bagi siswa-siswi sekolah dari tingkat SD/MI hingga SMA/SMK/MA.
Sejak bulan Juli hingga Oktober program makan bergizi gratis telah berjalan dari kota-kota besar seperti Jakarta hingga daerah pelosok. Namun, dalam pelaksanaannya terjadi banyak permasalahan dan yang terjadi yakni banyaknya siswa penerima manfaat mengalami keracunan.
Siswa yang keracunan ada diberbagai kota baik di Jakarta, Bandung, Rembang dan Yogyakarta. Mengapa terjadi hal seperti itu sehingga beberapa elemen masyarakat berdemo menolak makan bergizi gratis. Jangan sampai program yang baik ini justru menjadi program Masuk Bangsa IGD.
Melihat permasalahan program MBG, penulis membuat sebuah catatan kecil tentang program yang bisa dinikmati rakyat. Apa saja catatan penulis berkaitan MBG, simak penjelasan berikut.
1. Keuntungan pelaksanaan makan bergizi gratis
Program pemerintah ini memiliki banyak manfaat dan keuntungan. Penerima manfaat program makan bergizi gratis yakni seluruh siswa dari tingkat SD/MI hingga SMA/SMK/MA di Indonesia. Keuntungan yang diperoleh yakni dapat jatah makan siang gratis bagi siswa setingkat SMP dan SMA. Sementara siswa SD/MI dapat jatah sarapan bergizi gratis. Menu makanan yang disajikan pun memenuhi kebutuhan gizi seperti nasi, sayur, buah dan lauk.
Pemenuhan makanan bagi siswa ternyata mengurangi jatah uang buat jajan makan. Secara ekonomi pun lebih irit dalam pengelolaan keuangan. Karena uang buat jajan makan tidak dibelanjakan sehingga bisa ditabung atau untuk kebutuhan lain seperti membeli buku dan alat tulis.
Namun, sayangnya banyaknya kasus makanan basi dan siswa keracunan membuat tidak semua sekolah mau menerima manfaat. Baik ditolak oleh orang tua murid atau pengelola sekolah seperti kepala sekolah dan guru.
2. Kerugian pelaksanaan makan bergizi gratis
Program yang dilaksanakan pemerintah ini jika dihentikan karena ditolak masyarakat justru menimbulkan kerugian yang besar. Meskipun dilaksanakan dan memberi manfaat baik bagi generasi muda Indonesia, pelaksanaan MBG perlu didanai dengan uang yang besar. Pelaksana MBG harus modal terlebih dulu baik dalam penyiapan dapur, tempat penyimpanan, tenaga masak dan proses distribusi. Modal yang digunakan cukup besar. Tiap SPPG mendapatkan tiga ribu porsi. Tiap porsi dihargai 10 ribu. Berarti dalam sehari modalnya 30 juta dan jika seminggu berarti 180 juta. Jika sebulan berarti 720 juta dan dana pemerintah belum tentu cair di awal atau diakhir bulan. Artinya pelaksana MBG harus menyediakan dana awal dulu.
Dana yang besar tersebut berasal dari pemerintah dan itu sangat rawan dikorupsi. Itu untuk satu SPPG dengan kuota tiga ribu porsi. Bayangkan di satu kecamatan saja, ada berapa siswa dari SD/MI hingga SMA/SMK/MA. Nah, banyaknya dana pemerintah tersedot ke program MBG ini. Untuk itu perlu pengawasan khusus agar program berjalan lancar dan dana tidak dikorupsi.
3. Permasalahan Program MBG
Selain keuntungan dan kerugian MBG, pelaksanaan program unggulan Presiden Prabowo Subiyanto dan wapres Gibran Rakabuming Raka muncul berberapa permasalahan. Banyak korban keracunan akibat menyantap MBG. Beberapa wilayah mengalami keracunan seperti di Bandung Barat, Jakarta, Rembang, Yogyakarta dan Purworejo. Bahkan juga di berbagai wilayah lain di Indonesia. Masalah keracunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti proses memasak dan penyimpanan masakan. Bahan-bahan yang digunakan perlu yang fres dan segar. Penyimpanan bahan juga harus benar sehingga alat dan bahan tidak menimbulkan permasalahan. Proses memasak bahan harus benar dan sesuai dengan pemenuhan gizi yang diawasi oleh ahli gizi.
Proses pengemasan makanan yang sudah dimasak juga harus pas. Jangan sampai masakan yang masih panas dan dikemas. Jika demikian, justru mempercepat pembusukan dan menjadi racun. Selanjutnya, proses distribusi MBG harus tepat waktu. Jatah untuk pagi jangan sampai salah untuk siang. Sebab kesalahan distribusi mempengaruhi masakan sampai ke penerima manfaat. Ketika sampai di sekolah, juga harus segera dibagikan sesuai jadwal dan jangan sampai terlambat ke penerima manfaat. Dengan demikian, keracunan siswa karena MBG bisa diminimalisasi. Termasuk kebersihan proses memasak, kebersihan pencucian alat masak dan tempat makanan.
Kesimpulan
Membahas dilema program makan bergizi gratis yang digagas Presiden Prabowo, penulis menyimpulkan bahwa MBG perlu dilanjutkan dengan mengacu pada manfaat dan transparansi pengelolaan keuangan. Perlu proses pengawasan mulai dari proses mulai dari menyiapkan bahan, proses memasak, hingga pendistribusian ke penerima manfaat. Program MBG ini membantu siswa yang berkantong tipis alias siswa kurang mampu dan dapat makan gratis yang bergizi. Demikian catatan kecil tentang makan bergizi gratis dan semoga bermanfaat. Salam literasi.
Referensi:
https://www. daerah.sindonews.com/newsread/1629105/174/aktivis-papua-pegunungan-program-mbg-tingkatkan-kualitas-kesehatan-generasi-muda-1759723828










