Akhir Sebuah Penantian

Perjalanan panjang yang penuh liku akhirnya menemukan haluan.

Dwi Yulianti
Foto: IStock foto dan ChatGPT Image
Foto: IStock foto dan ChatGPT Image

Akhir sebuah penantian – Aliran sungai yang mengalir menuju desa menjadi saksi bisu sebuah perjalanan masa remaja Khalish dan Dean. Beningnya air seakan menghilangkan benih perdebatan dan pertengkaran saat dua isi kepala yang sama kerasnya tumpah ketika Dean membantu Khalish menyelesaikan tugas sekolahnya. Hingga akhirnya mereka akan berpisah, Dean mulai mengikuti arahan ayahnya untuk menggapai asa yang lebih tinggi.

Dean akan meninggalkan desa bersama ayahnya, Pak Anggoro mendapatkan jabatan baru di kantor pemilik pabrik  di kota. Siapa yang tak kenal Pak Anggoro? Pimpinan yang memiliki segudang kemampuan. Pak Anggoro juga dikenal dengan kebaikan hatinya. Jika ada karyawan pabrik yang kesulitan, maka orang yang akan dicari pertama kali untuk dimintai bantuan adalah Pak Anggoro. Hal itulah yang membuat pemilik pabrik menjadikannya orang kepercayaan di kota.

Sejak keluarga Khalish pindah ke desa yang sama dengan Dean, selama itu juga Khalish menemai Dean. Selain rumah mereka yang berdekatan, mereka juga  satu sekolah dasar walau berbeda kelas. Dean adalah kakak kelas yang selalu melindungi Khalish jika diganggu di sekolah. Hingga oleh warga desa, kedekatan mereka mendapatkan julukan bagaikan pohon dan ranting. Di mana ada Dean pasti ada Khalish, juga sebaliknya.

***

“Dean, apakah aku bisa ikut pindah bersamamu dan Paman?” tanya Khalish dengan raut penuh kesedihan.

“Apakah orang tuamu setuju?” tanya Dean tanpa menjawab pertanyaannya.

Khalish menatap jauh ke arah aliran sungai sambil menggelengkan kepalanya. Dia yakin tak akan mendapatkan izin dari keluarganya, apalagi dia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarganya. Ketiga kakak lelakinya sangat menjaganya, jika Dean bukan putra Pak Anggoro mungkin mereka tak akan berteman sedekat ini.

“Aku akan sering-sering pulang ke desa, kita bisa berbagi cerita seperti biasanya. Bagaimana?” ucap Dean sedikit meragu.

“Janji…!!!” seru Khalish menatap mata Dean tajam.

Dean tersenyum dan mengusap poni Khalish penuh sayang, “Aku akan berusaha memenuhinya.”

Khalish tak lagi membalas ucapan Dean, tatapannya kian jauh menembus pepohonan yang berbaris di seberang sungai. Dean pindah ke kota untuk melanjutkan sekolahnya dan ini untuk masa depan desanya juga, batin Khalish berbisik. Tarikan napas dalam Khalish membuat Dean tersenyum dan berucap, “Simpanlah gelang ini, aku pasti akan menemukanmu.”

***

“Khalish, ayo! Lihat apa di sana?” tanya Aulia sambil menarik tangan Khalish.

Tatapan mata Khalish pada cerobong pabrik seketika teralihkan saat dirasakan tangannya ditarik. “Mengapa kini Dean semakin jarang mengirimkan pesan?” batinnya bertanya. Dua tahun ini Dean tak lagi mengabarinya dan bulan depan dia akan mengikuti ujian, jika lulus dengan nilai terbaik kakak-kakaknya menjanjikan akan membiayai sekolahnya di kota.

Khalish mempercepat langkahnya agar Aulia tak lagi menarik tangannya. Mereka hampir saja terlambat, setelah melewati gerbang sekolah mereka memperlambat langkahnya. Aulia masih penasaran dengan apa yang dilihat Khalish tadi.

“Aku penasaran dengan apa yang kamu lihat di pabrik tadi?” tanyanya sambil menatap Khalish tajam.

Khalish memajukan bibirnya meledek sahabatnya kini, “Kepo ya? Rahasia.”

Khalish mulai berlari kecil menuju kelas mereka diikuti Aulia yang mengumpat tidak jelas. Penjaga sekolah yang tadi menunggu mereka masuk hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat kelakuan dua siswa pandai di sekolahnya.

***

“Khalish, ayah hanya bisa mengantarkan sampai ke terminal. Di kota nanti belajarlah sungguh-sungguh. Hubungi kakakmu jika nanti ada keperluan sekolah yang mendesak,” pesan ayah saat mengantar Khalish dan Dimas.

“Baik ayah. Khalish janji akan belajar dengan sungguh-sungguh. Ayah dan ibu jaga kesehatan ya,” ucap Khalish pelan sambil memeluk ayahnya. Tak terasa butir bening mengalir dari sudut matanya.

“Ayah, Dimas antar Khalish dahulu. Setelah pendaftaran sekolah selesai dan Khalish sudah mendapat kamar di asrama, aku baru memesan tiket untuk pulang,” jelas Dimas pada ayah yang masih tak ingin melepas pelukannya.

“Ayah, jangan lupa doakan selalu Khalish ya,” pintanya sambil melepaskan pelukannya perlahan.

Ayah hanya menganggukkan kepalanya menjawab permintaan Khalish. Saat Dimas meraih tangan adiknya untuk mengikuti langkah kakinya menuju bus, mata ayah mulai berkaca-kaca. Tak disangka dia akan melepaskan putri kecilnya sekolah di kota, padahal tiga kakaknya yang laki-laki menyelesaikan pendidikan mereka di desa.

Dimas menengok sesaat sebelum kakinya naik mengikuti Khalish yang tak lagi menoleh ke belakang. Dilihatnya ayah menghapus jejak butir bening yang mulai mengalir perlahan di pipinya. Sesaat kemudian tatapan matanya menuju Khalish, adiknya juga melakukan hal yang sama sambil membuang pandangannya jauh ke luar jendela.

Dilambaikan tangannya pada ayah yang masih menatap ke arah duduk Khalish yang tak bergeming. Dimas melemparkan senyum dan memberikan tanda jika adiknya baik-baik saja. Hingga ayahnya kembali menganggukkan kepala, Dimas melanjutkan langkahnya menuju kursi dan duduk di sebelah adiknya.

***

Khalish sudah menyelesaikan tiga tahunnya di sekolah lanjutan atas. Pekan depan adalah pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang diikutinya. Janjinya pada ayah untuk belajar sungguh-sungguh telah ditepatinya. Namun rasa kangen pada Dean selalu menghantuinya hari demi hari saat Khalish tidur. Hanya dengan mengenakan gelang pemberian Dean dia bisa beristirahat dengan tidur nyenyak.

“Khalish, selamat ya kita akan satu kampus,” ucap Aulia sambil mengulurkan tangannya.

Khalish tersenyum dan membalas jabatan tangan Aulia sambil menariknya hingga mereka berpelukan. Jika bukan karena Aulia yang menyusulnya ke kota dan mendaftar di sekolah yang sama dengannya, mungkin sudah sejak lama dia kembali ke desa. Kehidupan di kota ternyata tak seindah bayangannya, namun Aulia berhasil meyakinkannya.

Ayah, ibu dan ketiga kakak Khalish memperhatikan dengan tatapan penuh rasa bangga. Khalish dan Aulia menjadi perempuan desa yang bisa menyelesaikan sekolahnya di kota, Kedatangan mereka ke kota untuk menjemput Khalish kembali ke desa sebelum melanjutkan kuliahnya nanti.

“Khalish, kamu dan keluargamu ikut acara di rumahku yuk,” tawar Aulia setelah mereka melepaskan pelukannya.

“Acara apa?” tanya Khalish ragu. Sejak mereka sekolah di kota Khalish baru mengetahui jika Aulia adalah putri dari pemilik pabrik gula tebu di desanya.

“Papa mengundang karyawannya, papa juga ingin bertemu dengan orang-orang yang memajukan pabriknya di desa. Bapak dan keluarga, mau kan?” tanya Aulia memaksa pada ayah Khalish.

Ayah tak mungkin menolaknya, apalagi Aulia mengundang mengatas namakan papanya. Khalish melihat ayahnya mengangguk walau keraguan jelas terlihat di wajahnya.

***

Acara makan malam yang dihadiri Khalish dan keluarganya sudah dimulai setengah jam yang lalu. Rasa kekeluargaan sangat terasa, Pak Anggoro juga hadir dan sudah mengobrol dengan ayah di meja bersama ibu dan kakak-kakaknya.

Khalish masih menemani Aulia yang harus menyambut tamu di pintu masuk. Walau berdiri dekat pintu masuk, tatapan mata Khalish selalu menyapu ke dalam ruangan. Ingin sekali tatapannya mengenali sosok yang sudah lama tak dilihatnya. Rasa kangen berinteraksi dengan Dean membuat beberapa kejadian di masa lalu melintas hadir di hadapannya.

Hingga Aulia dipanggil oleh papanya, sosok yang dicarinya tak ditemui. Aulia mengucapkan terima kasih dan meminta Khalish untuk duduk bersama keluarganya. Khalish mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju meja di mana ayah dan Pak Anggoro mengobrol. “Aku akan menanyakan pada Pak Anggoro saja nanti,” ucapnya membatin.

Khalish kini duduk di samping ibu dan Kak Dimas. Gelang yang tak pernah dilepasnya dimainkan sambil berdoa penuh harap akan bertemu dengan pemberinya. Sesaat kemudian didengarnya pembawa acara memanggil tuan rumah untuk menyambut para tamu yang hadir. Semua bertepuk tangan saat Papa Aulia mengakhiri sambutannya.

“Ada sebuah pengumuman penting yang akan disampaikan. Harap tamu undangan tenang,” ujar pembawa acara untuk meredakan tepuk tangan yang mulai riuh.

Sesaat kemudian suara tepuk tangan berganti dengan keheningan. Papa Aulia kembali mendekatkan wajahnya pada mik yang berdiri di tengah panggung.

“Saya akan mengumumkan hal penting mengenai pabrik gula tebu di desa. Putri saya Aulia akan melanjutkan kepemimpinan saya. Karena keterbatasan pengalaman, maka pengelolaannya akan diberikan pada orang yang kami pilih. Saya harap semua karyawan dan pekerja pabrik nantinya dapat bekerja sama dengan baik,” ucapnya sambil memberikan tanda pada Aulia untuk naik ke panggung.

Tatapan mata Khalish mengikuti arah lampu yang menyorot, Aulia mulai melangkah menaiki anak tangga panggung dan di sampingnya terlihat sosok yang sangat dikenal Khalish. “De… an!!?”

***

Khalish tak pernah membayangkan jika Aulia dan Dean saling mengenal. Sore ini, Khalish menyusuri tepi sungai yang dulu sering dilakukannya bersama Dean. Sejak acara malam itu Khalish berjanji akan melupakannya, melupakan kenangan masa lalunya bersama Dean.

Khalish berhenti dan mulai duduk di rerumputan, dahulu disinilah Dean mengajarkan PR yang tak bisa diselesaikannya. Janji Dean untuk menemukannya saat akan ke kota juga diucapkan di sini. Mata yang berkaca kini mulai dipejamkan. Ingatannya kini tertuju pada Aulia, orang yang selalu membantunya di kota, tapi mengapa … .

Khalish mengusap matanya yang sudah basah dan mengecilkan suara isak tangisnya saat didengar suara langkah kaki menuju tempatnya duduk. Hanya Aulia dan Dean tahu tempat ini, siapa yang bisa menemukannya? Tanya Khalish dalam hati. Saat didengarnya langkah kaki berhenti tepat dibelakangnya, Khalish menarik nafas dan menahannya agar tak kentara jika dia sedang menangis.

“Aku sudah berjanji akan menemukanmu. Maaf jika membuatmu sedih,” ujar Dean yang kini duduk di samping Khalish.

Khalish diam mematung tak berani menoleh. Jantungnya berdegup kencang mendengar suara yang ingin selalu didengarnya. Dean tak lagi bersuara, keinginannya menyapa Khalish saat makan malam kemarin sirna ketika dilihatnya Khalish menghilang dari meja tempatnya duduk.

“Selamat ya. Kamu sudah buktikan keberhasilan di kota,” ucap Khalish pelan dan mulai bergerak bangun dari duduknya.

Dean tak menjawab hanya menatap punggung Khalish yang beranjak menjauh. Dia tahu tak akan mudah memberikan penjelasan pada Si Keras Kepala. Ditariknya nafas perlahan sambil berdoa dalam hati agar diberikan kesempatan untuk menjelaskan pada gadis kecilnya yang kini mulai dewasa.

***

“Jadi Dean sepupumu?” tanya Khalish menegaskan.

Aulia mengangguk sambil tersenyum. Akhirnya permintaan Dean dapat dipenuhinya. Menjelaskan hubungan mereka dan menjelaskan mengapa dia tiba-tiba bisa satu sekolah dengan Khalish di desa juga di kota. Semua karena permintaan Dean agar menjaga Khalish untuknya.

“Kenapa Dean tidak pernah menepati janjinya?” tanya Khalish penasaran.

“Coba diingat-ingat, semua keinginanmu saat ulang tahun terkabul kan? Jika bukan karena Dean yang meminta aku menyampaikannya siapa lagi?” jawab Aulia meyakinkan sambil tertawa senang bisa mengerjai sahabatnya.

“Kamu… sekongkol!!?” teriak Khalish mengejar Aulia yang sudah mendahuluinya berlari.

Khalish menghentikan kakinya dengan cepat saat dilihatnya Aulia bersembunyi di balik tubuh Dean. Aulia menjulurkan lidahnya mengejek Khalish yang tak mungkin mengejarnya kembali. Aulia berbalik dan melangkah dengan santai meninggalkan Khalish dan Dean yang masih mematung.

“Bolehkan aku mengucapkan selamat sekali lagi?” tanya Dean sambil mengulurkan tangannya.

Khalish menatap mata Dean mencari kebenaran cerita Aulia, saat dilihatnya kejujuran yang terpancar, Khalish mulai mengulurkan tangannya perlahan untuk menerima ucapan selamat dari Dean. Khalish tak lagi bisa menahan rasa kangennya pada Dean, ditubruknya tubuh Dean dan dipeluknya dengan erat hingga terdengar suara isak tangisnya. Tangis kebahagiaan untuk pertemuan mereka.

 

TAMAT

Penulis: Oase_biru

20 Juli 2025

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *