Kafe Bersejarah Sukabumi: Menyesap Kopi di Bekas Kantor Notaris Belanda 1920-an

Winarsih
Rumah Notaris Schottel
Rumah Notaris Schottel

Bayangkan menyeruput kopi sambil duduk di kursi antik, dikelilingi lukisan tua dan jendela kayu berukir, di tempat yang lebih dari 100 tahun lalu menjadi saksi bisu sebuah kisah hidup penuh tragedi. Di Sukabumi, sebuah kafe bersejarah mengundang Anda untuk bukan sekadar minum kopi, melainkan melintasi waktu.

Saat mengunjungi Kota Sukabumi, saya merasa sangat tertarik untuk singgah di sebuah kafe yang menarik perhatian saya sejak awal. Bangunan kafe tersebut terlihat dari luar begitu memukau, menampilkan kesan klasik yang kuat dan mencerminkan arsitektur peninggalan Belanda yang sangat khas. Dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan cahaya alami masuk dengan lembut, kafe ini juga dihiasi dengan beberapa lukisan cantik dan pajangan antik yang menambah daya tariknya. Ditambah lagi, pilihan minuman dan camilan yang ditawarkan di sana sangat lezat, membuat saya merasa nyaman dan betah berlama-lama menikmati suasana yang tenang dan hangat dari kafe ini.

bangunan bersejarah bekas rumah notaris Belanda
bangunan bersejarah bekas rumah notaris Belanda

Notaris Terkenal Hendrik Schottel

Pada masa kependudukan Belanda sekitar tahun 1920-an, di kota Sukabumi terdapat seorang notaris yang sangat terkenal, bernama Hendrik Schottel. Pada masa itu, profesi notaris bersifat tunggal, yang berarti hanya ada satu notaris di setiap kota, termasuk di Sukabumi. Rumahnya yang megah dan kokoh tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga berfungsi sebagai kantor di mana Hendrik Schottel melaksanakan berbagai tugasnya sebagai seorang notaris. Ia menangani urusan kepemilikan tanah, bangunan, perkebunan, serta berbagai dokumen hukum lainnya yang penting bagi masyarakat setempat.

Kisah Hidup dan Tragedi

Hendrik Schottel dikenal sebagai sosok yang tekun dan berdedikasi dalam menjalankan profesinya. Namun, di puncak kariernya, sebuah tragedi menimpa keluarganya. Musibah kecelakaan mobil yang mengerikan terjadi di Batavia, yang merenggut nyawa sopir, istri, dan putri tercintanya. Kejadian tersebut meninggalkan luka yang mendalam di hati Hendrik. Ia sangat terpukul dan memilih untuk cuti dari pekerjaannya untuk menenangkan diri. Sayangnya, kesehatan Hendrik terus menurun akibat beban pikiran yang begitu berat, hingga akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 1932, meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi masyarakat Sukabumi.

Arsitektur yang Bercerita

Rumah Hendrik, meskipun dari luar terlihat kokoh, sebenarnya sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu. Ini karena Sukabumi merupakan daerah yang rawan gempa, sehingga konstruksi bangunan harus disesuaikan dengan kondisi geografis tersebut. Rumah ini dirancang oleh Herman Belle, seorang arsitek terkenal asal Belanda, yang menambahkan sentuhan khas kolonial pada arsitektur rumah tersebut.

interior kafe kolonial Sukabumi
interior kafe kolonial Sukabumi

Kini, beberapa kamar di rumah ini telah diubah menjadi ruang privat untuk pengunjung kafe yang ingin menikmati suasana yang lebih intim dan tenang. Saya sangat terkesan dengan bagaimana bangunan ini masih terjaga dengan baik, tanpa mengubah keaslian dari desain aslinya. Ini menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap sejarah dan budaya.

Bagian dalam museum mini

Di sebelah rumah ini, berdiri sebuah museum mini yang memamerkan barang-barang antik dan menyewakan pakaian bergaya tempo dulu untuk keperluan fotografi. Bagi Anda yang berencana mengunjungi Sukabumi, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir ke rumah yang kini telah bertransformasi menjadi kafe yang menawan ini. Tempat ini menawarkan pengalaman unik, mengajak kita melintasi waktu sambil menikmati secangkir kopi di tengah sejarah yang masih hidup.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *