Sastra  

Malam yang Mengubah Segalanya

Malam yang Mengubah Segalanya
Tukang Ojek (Sumber: dibuat dengan Ideogram AI)

Malam yang Mengubah Segalanya-   Jam menunjukkan pukul 23.47 ketika ponsel saya berbunyi, menandakan ada orderan masuk. Suara mesin Suara mesin Honda Beat yang sudah berumur lima tahun ini masih setia menderu di tengah hiruk-pikuk Jalan Gajah Mada yang tak pernah sepi, bahkan di penghujung malam seperti ini. Lampu neon dari ruko-ruko penjual spare part motor dan bengkel masih menyala, menciptakan bayangan panjang di aspal yang basah oleh hujan sebentar tadi.

Saya, Bambang, 43 tahun, sudah lima tahun jadi driver ojek online. Bukan pilihan hidup yang saya impikan dulu waktu masih kerja di pabrik tekstil di Bekasi. Tapi setelah PHK massal tahun 2019, mau gimana lagi? Istri saya, Sari, jualan gorengan di depan rumah kontrakan di Cengkareng. Anak saya, Dinda, kelas 3 SMA, masih butuh biaya sekolah yang nggak sedikit.

“Pak, ke Kemang ya,” suara dari balik helm integralnya terdengar lirih. Saya menoleh, melihat sosok perempuan berusia sekitar 30-an, berpakaian hitam dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan ada bekas luka di sudut bibirnya yang sudah mulai mengering.

“Baik, Bu. Alamat lengkapnya di mana?” saya bertanya sambil memasukkan koordinat di aplikasi GPS.

“Jalan Kemang Raya, nanti saya kasih tau detailnya.” Dia naik ke motor dengan gerakan yang terlihat kaku, seolah menahan sakit.

Kami melaju menembus jalanan Jakarta yang masih ramai. Dari Gajah Mada, saya ambil jalan ke arah Harmoni, terus ke Monas, lalu menuju Kemang. Sepanjang perjalanan, penumpang saya diam saja. Sesekali saya lihat lewat spion, dia kayak orang yang lagi mikir berat, pandangannya kosong menatap jalanan.

“Bu, nggak apa-apa? Sepertinya Ibu kurang sehat,” saya coba buka percakapan sambil berhenti di lampu merah Bundaran Senayan.

“Nggak apa-apa, Pak. Buru-buru aja.”

Suaranya bergetar. Ada sesuatu yang nggak beres. Pengalaman jadi driver ojek selama ini bikin saya peka sama penumpang. Ada yang lagi senang, sedih, marah, atau bahkan takut. Perempuan ini masuk kategori yang terakhir.


“Pak, tolong jangan lewat jalan utama. Lewat gang-gang kecil aja,” dia tiba-tiba bilang ketika kami hampir sampai di Kemang.

“Tapi Bu, kalau lewat gang nanti malah jauh. Lagian jalanan sepi, bisa bahaya.”

“Nggak apa-apa. Saya bayar dobel. Please, Pak.”

Nada suaranya semakin putus asa. Saya mulai curiga. Jangan-jangan dia pelarian dari suami yang suka main tangan? Atau mungkin dia baru jadi korban kejahatan? Tapi saya nggak mau terlalu ikut campur. Prinsip saya, antar penumpang dengan selamat, dapat duit, pulang ke rumah. Sesimpel itu.

“Oke, Bu. Tapi hati-hati ya, jalanan gelap.”

Saya belok ke gang-gang kecil di sekitar Kemang. Jalanan makin sepi, cuma ada beberapa warung kopi yang masih buka dan suara musik dari cafe-cafe yang lagi tutup. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Nomor yang nggak saya kenal.

“Angkat, Pak. Tapi jangan bilang saya di sini,” bisik perempuan itu dengan nada panik.

Saya angkat telepon dengan speaker.

“Halo, Pak. Bapak driver ojek online yang baru aja ngangkut penumpang dari Gajah Mada?”

“Iya, ada apa ya?”

“Penumpang Bapak itu istri saya. Dia baru aja nyuri uang perusahaan saya 500 juta. Tolong jangan bawa dia ke mana-mana. Saya sudah lapor ke polisi.”

Deg!
Jantung saya berdetak kencang. Saya lihat lewat spion, perempuan itu wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca.

“Jangan percaya dia, Pak. Saya nggak nyuri. Justru dia yang nyuri uang kantor, terus mau nyalahin saya. Dia mau bunuh saya, Pak. Please, tolong saya.”

Saya bingung setengah mati. Siapa yang harus saya percaya? Suami yang nelpon tadi kedengeran panik dan marah, tapi penumpang saya ini juga keliatan ketakutan setengah mati. Luka di wajahnya itu gimana? Apa dia bener-bener korban KDRT?

“Pak, saya mohon. Anter saya ke stasiun aja. Saya mau lapor nanti. Suami saya sudah nyiksa saya bertahun-tahun. Kemarin dia pukul saya gara-gara tau saya udah kumpulin bukti kalau dia yang korupsi di kantornya.”

Air matanya mulai jatuh. Saya berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin motor.

“Bu, saya nggak mau ikut campur masalah rumah tangga orang. Tapi kalau memang ada yang nggak beres, lebih baik kita ke polisi.”

“Nggak bisa, Pak. Suami saya kenal sama polisi di sini. Dia punya koneksi. Saya takut nanti malah saya yang dipenjara.”

Ponsel saya berdering lagi. Nomor yang sama.

“Pak, di mana sekarang? Saya sudah kirim orang-orang saya buat nyari. Kalau Bapak bantu dia kabur, Bapak juga ikut tersangkut.”

Nada suaranya mengancam. Saya makin bingung. Ini ujian apa sih buat saya? Saya cuma driver ojek biasa yang mau cari nafkah buat keluarga. Kok bisa terseret masalah kayak gini?

“Pak, please, saya nggak minta banyak. Anter saya ke stasiun Gambir aja. Saya mau pulang ke kampung, ke rumah ortu saya di Yogya, saya janji nggak akan nyerepotin Bapak lagi.”

Saya lihat jam di ponsel. Hampir tengah malam. Kalau saya pulang sekarang, Sari pasti masih bangun nungguin. Dia pasti khawatir kalau saya pulang terlambat. Tapi kalau saya tinggalin perempuan ini di sini, gimana nasibnya?

“Bu, saya tanya jujur. Apa bener Ibu nyuri uang?”

“Nggak, Pak. Saya kerja sebagai accounting di perusahaan suami saya. Saya nemu dia ngambil uang perusahaan buat judi dan hutang-hutangnya. Waktu saya mau lapor ke direksi, dia malah nyuruh saya diam. Pas saya nolak, dia pukul saya. Kemarin saya foto semua bukti korupsinya, eh malah ketahuan.”

Ceritanya konsisten. Luka di wajahnya juga nggak mungkin palsu. Tapi bagaimana kalau dia bohong? Bagaimana kalau saya membantu pelarian kriminal?

Tiba-tiba saya ingat Dinda, anak perempuan saya. Kalau suatu saat nanti dia ada di posisi seperti ini, saya pasti berharap ada orang yang mau nolong dia. Saya ingat juga Sari, istri saya yang selalu bilang “Mas, kita hidup di dunia ini harus saling tolong. Kebaikan pasti dibalas kebaikan.”

“Oke, Bu. Saya anter ke Gambir. Tapi saya nggak mau tau masalah selanjutnya.”

“Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak.”

Saya hidupkan motor dan mulai melaju ke arah Gambir. Sepanjang jalan, saya deg-degan. Bagaimana kalau benar dia pencuri? Atau kalau polisi ngejar saya? Lebih parah lagi, kalau suaminya nemu saya?

Sesampainya di Gambir, perempuan itu turun dan kasih saya uang 500 ribu. “Pak, ini uang transportasi. Lebih dari cukup kan?”

“Bu, ini terlalu banyak. Ongkos biasa cuma 50 ribu.”

“Nggak apa-apa, Pak. Bapak udah nolong saya. Ini nggak seberapa. Doain saya ya, Pak, biar selamat sampai rumah.”

Saya lihat dia masuk ke dalam stasiun dengan langkah terburu-buru. Entah kenapa, hati saya lega. Saya merasa udah melakukan hal yang benar.

Dua minggu kemudian, saya baca berita di koran. “Direktur Perusahaan Konstruksi Ditangkap karena Korupsi 2 Miliar.” Fotonya orang yang sama yang nelpon saya malam itu. Ternyata perempuan itu nggak bohong. Dia memang korban.

Malam itu mengubah cara pandang saya tentang hidup. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus berani mengambil keputusan sulit, meski nggak tau konsekuensinya. Kadang-kadang kebaikan hati lebih penting daripada rasa takut.

Sejak saat itu, saya nggak cuma jadi driver ojek biasa. Saya jadi driver yang selalu siap nolong penumpang yang butuh bantuan. Saya bahkan ikut komunitas driver ojek yang suka bantu korban KDRT. Uang 500 ribu dari perempuan itu saya pakai buat beli helm baru buat Dinda.

Hidup memang penuh pilihan. Malam itu saya memilih untuk percaya pada kebaikan. Dan ternyata, kebaikan itu bener-bener ada. Kadang-kadang kita cuma perlu berani untuk melihatnya.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *