Sastra  

Di Balik Sebuah Kegagalan Masa Lalu

Kebahagiaan keluarga mereka hilang setelah kegagalan di masa lalu. Semua yang terjadi bukanlah akhir dari perjalanan karena banyak hikmah yang terpancar tanpa disadari.

Dwi Yulianti
Kebahagiaan Keluarga Penyemangat Saat Kegagalan Masa Lalu (Foto: Freepik)
Kebahagiaan Keluarga Penyemangat Saat Kegagalan Masa Lalu (Foto: Freepik)

Di balik sebuah kegagalan masa lalu – “Pak, bisakah kita meminta bantuan Hendra?” tanya ibu saat didapatinya bapak terdiam. Bapak menoleh dan menggelengkan kepala setelah membaca surat pemberitahuan yang kubawa tadi siang.

“Jangan Bu, kita sudah sering merepotkannya. Hendra pasti akan membantu kita, tapi bapak juga ingin berusaha sendiri. Kolam ikan sebentar lagi akan panen bersabar ya,” jawab bapak menenangkan hati ibu.

Sebenarnya ibu tidak ingin merepotkan Om Hendra. Adik satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi pimpinan di perusahaan milik almarhum papa mereka, dua tahun yang lalu. Namun jika sudah tidak ada solusi, ibu akan menahan rasa malunya dan tetap meminta bantuan pada Om Hendra.

Semenjak bapak mengalami kegagalan bisnis di masa lalu, bapak tak bisa lagi bekerja. Stroke ringan yang dialami bapak membuatnya tak dapat melakukan pekerjaan yang menguras tenaga maupun pikiran. Walau demikian, hingga saat ini bapak tidak pernah menyalahkan sahabatnya walaupun tak ada kabar sama sekali hingga tiga tahun berselang.

“Satu hal yang pasti semua sudah ada yang mengatur. Kita hanya bisa menjalankan dengan sebaik-baiknya,” pesan yang selalu bapak katakan pada ibu dan kami anak-anaknya.

Untungnya ibu memiliki penghasilan dari membantu pemilik toko kelontong yang dikejar penagih utang dahulu. Saat itu pemiliknya meminta bantuan untuk melunasi utangnya, tanpa pikir panjang ibu langsung memberikan uangnya. Hingga akhirnya pemilik toko menjanjikan bagi hasil keuntungan untuk mengembalian uang ibu.

Setiap bulan setelah pemilik toko menghitung keuntungan bersihnya, ibu akan akan mendapatkan separuhnya. Dengan uang itulah ibu membiayai sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu harus mengatur uang yang di dapat agar cukup untuk digunakan selama satu bulan.

***

“Pak bagaimana? Besok batas akhir pembayarannya?” tanyaku saat mereka selesai makan malam. Mas Andi belum pulang dari tempatnya bekerja. Walaupun hanya lulusan SMK, Mas Andi dapat melanjutkan bekerja pada kantor tempatnya magang dahulu. Bapak berharap Mas Andi bisa membantu biaya sekolahku.

“Kita tunggu Mas Andi ya, kemarin bapak sudah memintanya meminjam uang di kantor. Nanti pembayarannya akan dibagi dua dengan uang ibu dari toko kelontong,” jelas ibu mendengar pertanyaan yang kulontarkan.

Ibu tidak ingin bapak berpikir keras hingga nanti memperburuk kondisi kesehatannya. Aku mencoba tersenyum dan meminta maaf pada ibu dan bapak jika sudah merepotkan. Aku juga ingin segera lulus agar bisa membantu bapak dan ibu dengan bekerja seperti Mas Andi.

“Nis, jika sudah waktunya kamu pasti bisa membantu ibu dan bapak, saat ini fokusmu hanya sekolah. Jika mendapatkan beasiswa untuk kuliah lanjutkan. Mas mau kamu memiliki masa depan yang lebih baik,” suara Mas Andi terdengar dan menyejukkan hatiku.

“Mas …! Maafkan Nisa sudah merepotkan Mas Andi juga,” sesalku sambil menatap Mas Andi yang baru pulang bekerja. Jika bukan keinginan keras Mas Andi bekerja setelah lulus SMK, mungkin aku tak akan merasakan bangku SMA seperti saat ini.

“Bapak, alhamdulillah bos memberikan pinjaman yang cukup untuk semuanya. Biaya ujian Nisa dan untuk terapi bapak,” ujar Mas Andi sambil tersenyum sumringah. “Untuk pengembaliannya, nanti langsung dipotong dari gaji di kantor, bapak tidak perlu khawatir semua bisa ditangani. Uang ibu gunakan saja untuk keperluan seperti biasanya,” jelas Mas Andi yang membuat aku dan Ibu tersenyum bahagia.

***

“Pak Hendra, sebenarnya kerjasama ini bukan dengan perusahaan yang saya miliki. Perusahann ini adalah milik sahabatku. Aku hanya berusaha menjalankannya dan mengembangkannya hingga aku menemukannya,” ucap Abimanyu setelah mereka menandatangani kontrak kerjasama.

“Sudah tiga tahun, Pak Abi belum menemukannya dan masih berusaha mencarinya? Biasanya kegagalan di masa lalu akan dilupakan. Keberhasilan saat ini akan dijadikan miliknya” ucap Hendra kagum dengan rekan bisnisnya. Suara paggilan telepon membuat percakapan mereka berhenti. “Mba Lastri,” gumamnya pelan.

Abimanyu memberikan tanda untuk mengangkat panggilan telepon lebih dahulu, Hendra mengikuti keinginan Pak Abimanyu. Suara percakapan walau pelan dan sepihak, mau tak mau di dengarnya.

“Mba, maaf aku lupa transfer. Bagaimana dengan biaya ujian Nisa?” tanyanya berusaha tenang.

Alhamdulillah, maafkan aku mba. Aku tetap kirimkan uang takut nanti mba perlu dan aku kelupaan seperti saat ini,” ucapnya mencoba menebus kesalaannya.

“Salam untuk Mas Damar, semoga panen ikan perdananya berkah dan melimpah,” ucap Hendra yang diaamiinkan Mba Lastri kakaknya. Hendra meletakkan kembali ponselnya di atas meja, tersenyum senang karena semua sudah teratasi. Kontrak kerja yang ditunggunya, juga biaya ujian keponakannya Nisa.

“Hendra, boleh tahu siapa Pak Damar? Sepertinya aku mengenalnya. Dulu aku memiliki sahabat dengan nama yang sama,” tanya Pak Abimanyu setelah Hendra meminum kopi dari atas meja.

***

“Wah Pak Damar, sepertinya kita akan jadi pengusaha ikan. Benar yang Pak Damar katakan jika ini akan memberikan keuntungan yang besar,” ucap Pak Ihsan memuji bapak. Pak Ihsan adalah pemilik modal kolam ikan dan pujian itu membuat aku dan ibu tersenyum.

“Jiwa bisnis bapak sepertinya tidak akan mati,” batinku melihat senyum yang mengembang disudut bibir bapak. Setelah hampir satu tahun berusaha menjalankan dengan penuh kesabaran. Kini usaha bapak membuahkan hasil.

Alhamdulillah, panen perdana ini tepat sekali waktunya. Lusa kita sudah memasuki Ramadhan, ibu tidak perlu khawatir dengan sedekah dan zakat kita,” ucap ibu senang. Ibu tak pernah melupakan kebiasaan bersedekah, apalagi di bulan Ramadhan. Aku ingat dulu setiap hari di bulan Ramadhan ibu akan memberikan takjil dan kotak nasi beserta lauknya  untuk yang membutuhkan.

“Pak Damar kemarin ada pengusaha yang datang dan dia sudah membeli semua hasil panen hari ini. Sepertinya bukan Pak Damar dan keluarga yang akan mendapat keuntungan saya pasti kebagian juga. Benar kan, Pak,” ucap pemilik lahan yang digunakan Pak Damar untuk membuat kolam ikan.

“Iya pak kita akan membaginya sesuai kesepakatan, saya hanya memberikan ide saja. Kalian berdua yang memiliki modal dan lahannya,” ucap Pak Damar penuh wibawa.

“Tapi semua perawatan dan cara membiakkannya dilakukan Pak Damar. Kami juga disemangati saat kegagalan bibit ikan pertama kita banyak yang mati di masa lalu, benar kan Pak,” ucapnya kemudian.

“Semua sudah Allah ganti dengan yang terbaik. Jangan lupa bersedekah sebagai rasa syukur,” pesan Pak Damar yang di ikuti anggukan kepala yang mendenar ucapan bapak.

“Pak Damar, pembelinya akan datang nanti siang. Ikannya kita siapkan saja, mereka juga sudah menyiapkan kendaraan dan box untuk membawanya ke kota,” ucap Pak Ihsan kemudian. Kini mereka bergotong-royong menimbang dan memasukkan ikan-ikan dalam box yang berisi air.

***

“Hendra …!”

Bapak terkejut saat Hendra yang menemuinya untuk menerima pembayaran ikan yang sudah di bawa menggunakan mobil box siang tadi. Hendra tersenyum melihat Kakak iparnya dan menyerahkan titipan Pak Abimanyu.

“Mas, Pak Abimanyu tadinya ingin datang, namun kabar dari keluarganya membuatnya harus segera kembali. Bapaknya saat ini kritis. Ada surat yang dititipkan di dalam,” ucap Hendra sesaat sebelum duduk di kursi tepat di hadapan bapak.

Bapak membuka surat yang dititipkan sahabatnya, Abimanyu. Sebuah foto usang terjatuh, bapak mengambilnya perlahan. Dipandanginya foto saat keluarganya piknik di pantai, Abimanyu yang mengambil gambarnya saat itu. Senyum bahagia terpancar di sana, namun Abimanyu juga yang mengambil senyuman dari keluarganya.

Dibukanya perlahan surat dengan tulisan yang sangat dikenalnya. Bapak mencoba tersenyum membayangkan wajah Abimanyu di hadapannya.

Damar aku seharusnya ada dihadapanmu saat ini memohon pengampunan atas semua kesalahan yang kulakukan tiga tahun lalu. Tapi semua karena aku tidak mau kegagalan dalam operasi ayah yang telah membesarkanku di masa lalu. Saat itu hanya modal usaha kita yang kumiliki. Maafkan jika aku harus menukarnya dengan kesembuhan ayahku.

Foto keluargamulah yang membuat aku selalu bersemangat untuk mengembalikan semua kebahagiaan yang pernah aku renggut dulu. Kini, semua ku kembalikan. Dua perusahaan seperti impian kita di kota sudah kubuatkan atas nama putramu, Andi tanpa sepengetahuannya.

Bisnis kolam ikanmu seterusnya akan menjadi pemasok di restoran dan hotel ku. Semoga kita bisa bekerjasama kembali dan menjalin persahabatan yang pernah terputus. Aku ucapkan terima kasih untuk waktu tiga tahun membahagiakan ayahku. Kini sepertinya sudah waktunya ayah mendapatkan kebahagiaan yang lain. Aku harus mendampinginya saat ini.

Sahabatmu,

Abimanyu

 ***

“Hendra, bisakah mengantarkanku menemui sahabatku, Abimanyu?” tanya bapak sambil melipat surat dan meletakkannya di atas meja. Dia tak pernah merasa dikhianati, karena dia telah mengenal Abimanyu sejak kecil. Persahabatan mereka lebih dari hubungan saudara, tidak akan ada rasa kesal atau marah di hatinya.

Hendra mengangguk dan bangun diikuti bapak yang melangkah di belakangnya. Hendra akan mengantar Pak Damar ke rumah duka. Satu jam yang lalu dia mendapat pesan jika ayah dari Pak Abimanyu telah meninggal.

Oleh: Oase_biru

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *