Revolusi Demokrasi dari Kota Pati – Demokrasi di Indonesia sudah berjalan sejak lama bahkan sejak negara ini berdiri di tahun 1945. Dengan segala riak dan onak, demokrasi tetap berjalan di negeri ini. Bukan hanya dilakukan di tingkat pusat, demokrasi juga dilaksanakan sejak di lingkungan terkecil seperti penentuan keputusan keluarga, pemilihan ketua RT, pemilihan kepala desa, pemilihan kepaka daerah hingga pemilihan kepala negara. Semua dilakukan secara demokrasi.
Proses berdemokrasi tersebut menghasilkan kepala daerah yang belum tentu sesuai harapan semua pihak. Hal itu karena pilihan terbanyaklah yang jadi pemenang. Celakanya, setelah menang pemimpin tersebut bisa berubah arogan, tidak mementingkan rakyat dan cenderung mementingkan ego pribadi. Kebijakan yang diambil bisa membuat masyarakat yang saat pemilihan mendukung justru berbalik menjadi penentang. Permasalahan itulah yang mendukung terjadinya anti demokrasi yang cenderung menjadi ajang demontrasi.
Sebagai pecinta demokrasi, penulis mengamati terjadinya demokrasi dan demontrasi di Kabupaten Pati yang berlangsung beberapa waktu yang lalu. Setelah lama merenung dan mengamati pemberitaan di media sosial dan media nasional, penulis menemukan beberapa hal yang terangkum dalam catatan ini. Apa sajakah hasil pengamatan penulis, simak penjelasan berikut.
1. Demontrasi diikuti masyarakat dalam jumlah besar
Ini demo di daerah yang diikuti puluhan ribu demonstran. Biasanya demo jumlah besar dilakukan di kota besar dan membahas isu-isu nasional. Ini justru terjadi di kota kabupaten dan jauh dari pemerintah pusat. Biasanya demo di daerah dilakukan oleh mahasiswa dan elemen masyarakat tertentu. Tapi demo di Pati diikuti segala lapisan masyarakat bahkan peristiwa ini seolah jadi demo nasional.
2. Ring pengamanan demontrasi luas
Demontrasi di Pati diamankan oleh polisi, tentara, dan brimob dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Hal ini berkaitan dengan jumlah demonstran yang besar. Pengamanannya juga luas sebab kota Pati berada di tengah wilayah Pati. Dari arah barat diikuti demonstran kecamatan Margorejo dan Gembong. Arah selatan kecamatan Gabus, Kayen, Tambakromo dan Sukolilo. Ke timur dari kecamatan Juwana dan Batangan. Arah tenggara ada kecamatan Jakenan, Jaken, Winong dan Pucakwangi. Ke utara ada Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Dukuhseti, Cluwak da Gunungwungkal. Jumlah demonstran yang besar dan dari berbagai arah menjadikan ring pengamanan demo sangat luas dan memerlukan aparat dalam jumlah besar.
3. Ada donasi dalam mendanai demo
Inilah hal baru dalam sejarah demonstrasi di Indonesia. Sebelum demo dilakukan pada hari H, terjadi penggalangan donasi berupa makanan, air mineral dan juga uang. Jumlah donasi pun tidak main-main besarnya. Bahkan donasi tidak hanya dari masyarakat sekitar. Ada donasi dari berbagai kota di Indonesia yang umumnya warga Pati perantauan. Sebenarnya penggalangan donasi ini menurut penulis merupakan silent demonstration atau demonstrasi diam. Sebab dalam kardus donasi terdapat tulisan tuntutan demo itu sendiri.
4. Ketertiban demonstrasi terjaga
Penulis mengamati walau ada pelemparan terhadap Bupati Pati, tembakan gas air mata dan pembakaran satu unit mobil polisi, secara umum demonstrasi di Pati tertib dan aman. Padahal masyarakat Pati terkenal sangat keras dan pemberani. Lihat saja, bendera di sepanjang jalan, toko-toko di sekitar alun-alun aman dan tidak ada kerusakan. Lampu kota dan berbagai fasilitas publik tetap aman dan tidak terjadi perusakan. Semua aman dan tertib.
5. Tuntutan jelas dan tidak ngawur
Mengikuti media sosial tentang demo di Pati, penulis menemukan bahwa demo memiliki tuntutan yang jelas dan tidak ngawur. Tuntutannya selalu disampaikan lewat spanduk, media sosial dan tulisan di kertas. Tidak seperti demo-demo yang asal demo tanpa agenda dan tuntutan jelas. Demo di Pati jelas dan bernas.
6. Terkoordinasi dengan baik
Demonstrasi di Pati yang diikuti banyak massa ternyata terkoordinasi dengan baik. Masing-masing wilayah ada koordinator lapangannya. Sebagai contoh dari wilayah utara dengan kecamatan Cluwak, Dukuhseti, Margoyoso dan Gunungwungkal dikoordinasikan satu korwil dan empat korcam. Jadi, demo di Pati terkoordinasikan dengan baik.
7. Pasca demonstrasi, para demonstran dan aparat bekerja sama bersih-bersih
Pasca demo para demosntran, aparat dan masyarakat membersihkan sisa-sisa demo. Sampah dibersihkan. Donasi air dan makanan diangkut dan diambil warga. Intinya alun-alun harus kembali bersih sama seperti sebelum ada demo. Para demonstran dan aparat pun berjabat tangan sebab aparat menjalankan tugas dan massa demonstran melakukan tuntutan. Intinya, setelah demo harua aman dan damai.
8. Menginspirasi demo lanjutan di berbagai wilayah
Demontrasi di Pati yang berlangsung damai, ternyata menginspirasi masyarakat daerah lain di Indonesia bahkan dunia. Kota-kota besar di Indonesia juga ada demo dan sayangnya tidak seperti di Pati. Banyak pembakaran gedung, mobil, bangunan dan kantor polisi. Bahkan juga terjadi penjarahan di beberapa lokasi demo. Sampah bertebaran dan terjadi perusakan fasilitas umum.
Selain menimbulkan gelombang demo di seluruh Indonesia, ternyata demo di Pati menginspirasi demo lain di dunia seperti di Belanda dan Nepal. Bahkan demo di Nepal berakhir kerusuhan dan pergantian kekuasaan di negara tersebut.
Demikian sebuah catatan kecil penulis tentang demonstrasi di Pati. Semoga jika ada demo, janganlah terjadi chaos yang mengakibatkan kerusuhan. Belajarlah dari demo di Pati. Semoga menginspirasi dan menambah wawasan kita. Salam literasj.
Baca juga: Etika Politik Saat Ini: Suara Dibeli, Demokrasi Dijual
