Opini  

KRITIK ISLAM ATAS MATERIALISME DIALEKTIKA MARX

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja, Associate Professor Universitas Al Azhar Indonesia

admin
Materialisme Dialektika, Karl Marx (Sumber: AI)
Karl Marx (sumber: wikipedia)

Filsafat Materialisme menjadi dasar pijak berfikir untuk memahami marxisme. Bagi Karl Marx (1818-1883) motif segenap perbuatan manusia tidak lebih dari gerak materi kebendaan semata. Setiap perbuatan yang dilakukan selalu bisa dinyatakan sebagai perilaku yang dapat dinyatakan sebagai logika ekonomi. Sebaliknya segala konsep imateri tidaklah dapat dinyatakan sebagai kebenaran.

Marx dan Materialisme Dialektika

Marx sendiri mendapatkan ide berfikir dari Hegel tentang dialektika, sebuah konsep berfikir tentang keterhubungan sekaligus kontradiksi diantara pernyataan yang saling terhubung. Dialektika merupakan cara untuk memahami realitas, dan dapat difahami sebagai hubungan: tesis-antitesis-sintesis. Bahwa setiap pernyataan (tesis) akan memunculkan kontradiksi (anti-tesis), tetapi akhirnya akan menemukan sintesis diantara keduanya. Hubungan ketiganya selalu berada dalam konsep materi.

Karena berpijak pada gagasan materi, maka agama bagi Marx hanyalah sebuah candu yang menjadikan manusia lupa akan adanya realitas penderitaan manusia (Die Religion ist das Opium das Volkes). Agama digunakan oleh kaum kapitalis dan penguasa untuk meninabobokkan kesadaran manusia atas adanya realitas penderitaan sesama manusia. Semakin manusia beragama, ia semakin asing dengan lingkungan sosialnya (Muttaqin, 2013).

Berdasarkan konsep Materialisme Dialektika yang dikembangkan oleh Marx untuk membangun gagasannya tentang Marxisme, maka tampak segala hal yang benar adalah selama perbuatan itu dapat berhubungan dengan relasi materi. Segala yang nir materi tidak dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang benar. Walau Marx tidak menyatakan gagasan ateistik dalam pemikirannya, tetapi ide agama sebagai candu dan didukung oleh filsafat materialisme sudah cukup untuk menyatakan bahwa ia sendiri menolak eksistensi agama.

Dialektika Marx ini berhadapan dengan konsep metafisika Islam. Gagasan tentang materialisme historis, bahwa segenap peristiwa dinyatakan benar sebagai perilaku dan motif materi tidak dapat diterima. Dalam epistemologi Islam dikenal konsep metafisika transendental. Bahwa kebenaran tidak selamanya atau selalu apa yang hadir tampak secara materi. Ia dapat berada dibalik fenomen yang tampak, karena Tuhan adalah eksistensi mutlak yang tak hadir dalam materinya.

Tuhan sebagai Eksistensi

Ketika materialism dialektika mengacu pada kebendaan materiil, epistemologi Islam bertolak pada entitas mutlak yang tak hadir dalam materinya yaitu Tuhan. Dia menjadi motif penggerak utama bagi manusia. Tuhan meliputi segenap eksistensi yang ada, bahwa segenap materi hakikatnya hanyalah ketiadaan.

Eksistensi manusia bukanlah eksistensi yang sejati, karena Yang Ada hanyalah Tuhan. Dia Allah Yang Maha Ada dan menjadikan segala selainNya ada. Dia yang transenden, sedangkan segenap materi hanyalah fenomen dari kehadiranNya. Segala selainNya hanyalah ketiadaan dan ketidakhadiran.

Manusia dan segenap makhluk hanya menjadi bayang-bayang kehadiran Allah. Manusia dan makhluk tunduk pada eksistensi utama yaitu Allah. Disini tampak jelas bahwa segenap materi tunduk pada Imateri Tuhan. Manusia tidak menjadi apapun, dan siapapun. Manusia yang berfikir dan makhluk selainnya hadir dan ada karena kehendak Allah. Tuhan menjadi sumber atas segenap pengetahuan manusia (Salman & Sahed, 2017).

Baca juga: Nepotisme dan Dinasti Politik: Ditilik dari Sekelumit Catatan Sejarah

Hubungan antara materi dialektika dengan metafisika transendental bertolak belakang. Ketika Bung Karno berupaya menggagas ide Nasionalis Agama dan Komunis atau NASAKOM, ia seperti hendak mencampur air dengan minyak untuk bersatu. Ketika ide persatuan digunakan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme asing, ia menjadi gagasan yang agung. Tetapi ketika ide itu dikembangkan dalam bangunan negara yang telah merdeka, ia bagai debu tak bermakna. Tuhan dan segenap kuasa adi kodrati dalam konsep metafisika tak sama, tak sebangun, dan saling tolak dengan ide materialism dialektika Marx. Manusia dalam epistemologi Islam adalah jiwa yang memiliki rasa dan nilai ketuhanan dan tentu bukan candu seperti yang pernah diutarakan oleh Marx.

Penutup

Sosialisme sebagai ide awal yang membentuk komunisme, sehingga keduanya nyaris sebangun. Dalam Islam sosialisme dimaknai sebagai relasi antar manusia yang saling tolong-menolong dalam dasar Ketuhanan. Keduanya tidak sebangun, hubungan interaksi sosial antara sesama manusia dibangun dalam semangat persaudaraan dan kerjasama antar kelas. Tuhan menjadi penggerak setiap eksistensi perilaku sosial manusia.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (Qs. al-Mâidah [5]:2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *