Opini  

Politik Dimulai dari Rumah: Mengapa Keluarga Jadi “Sekolah Pertama” dalam Membentuk Sikap Politik

Oleh: Savira Ardhia (Mahasiswi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman)

admin
Politik dimulai dari rumah (Gambar By GPT)
Politik dimulai dari rumah (Gambar By GPT)

Ketika mendengar kata politik, banyak orang langsung membayangkan partai, pemilu, atau debat para politisi di televisi. Padahal, sebelum seseorang mengenal semua itu, ia terlebih dahulu belajar tentang kekuasaan, aturan, dan cara mengambil keputusan dari tempat yang sangat dekat: keluarga.

Di rumah, seorang anak mulai memahami siapa yang mengambil keputusan, bagaimana perbedaan pendapat disikapi, dan apakah seseorang boleh mempertanyakan suatu aturan. Hal-hal sederhana ini sebenarnya adalah dasar dari pemahaman politik.

Itulah sebabnya banyak peneliti menyebut keluarga sebagai agen sosialisasi politik pertama. Nilai-nilai yang tertanam sejak kecil sering kali memengaruhi cara seseorang melihat pemimpin, aturan negara, bahkan cara memilih dalam pemilu.

Namun pengaruh keluarga tidak selalu sama. Ada keluarga yang mendorong diskusi dan berpikir kritis, tetapi ada juga yang menanamkan pilihan politik secara sepihak. Di sinilah muncul pertanyaan menarik: apakah keluarga mendidik secara politik, atau justru memengaruhi secara manipulatif?

Belajar Politik Tanpa Disadari

Banyak orang merasa tidak pernah diajarkan politik oleh keluarganya. Tetapi sebenarnya, proses itu sering terjadi tanpa disadari.

Misalnya, ketika orang tua berdiskusi tentang berita di meja makan, mengajak anak melihat proses pemilu, atau menjelaskan mengapa seseorang harus menggunakan hak pilihnya. Tanpa terasa, anak mulai belajar tentang bagaimana dunia politik bekerja.

Dalam keluarga yang terbuka terhadap dialog, anak akan terbiasa melihat bahwa keputusan bisa didiskusikan. Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Sebaliknya, jika keluarga sangat menekankan kepatuhan tanpa penjelasan, anak cenderung melihat otoritas sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Cara pandang ini bisa terbawa hingga dewasa ketika mereka melihat pemimpin atau pemerintah.

Dengan kata lain, pola hubungan dalam keluarga sering menjadi cermin cara seseorang memahami kekuasaan dalam masyarakat.

Keteladanan Orang Tua Lebih Kuat dari Nasihat

Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan.

Jika orang tua rajin mengikuti berita, berdiskusi tentang isu publik, dan menggunakan hak pilih dengan sadar, anak akan melihat bahwa politik adalah bagian penting dari kehidupan warga negara.

Namun jika orang tua sering berkata bahwa politik itu kotor, tidak penting, atau bahkan memperlihatkan sikap apatis terhadap pemilu, anak bisa saja menyerap pandangan yang sama.

Karena hubungan emosional antara orang tua dan anak sangat kuat, keteladanan ini sering kali lebih berpengaruh daripada pelajaran formal di sekolah.

Keluarga sebagai Penyaring Informasi Politik

Di era digital seperti sekarang, informasi politik datang dari berbagai arah: media sosial, berita online, komentar publik figur, hingga propaganda politik.

Banjir informasi ini bisa membingungkan, terutama bagi generasi muda yang baru mulai mengenal dunia politik.

Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Orang tua dapat membantu anak memahami informasi yang benar, membedakan fakta dan hoaks, serta melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang.

Keluarga akhirnya berfungsi sebagai “filter pertama” dalam memahami informasi politik.

Jika komunikasi dalam keluarga berjalan terbuka, anak akan lebih siap menghadapi berbagai informasi yang beredar di ruang publik.

Mengapa Keluarga Berpengaruh pada Partisipasi Politik

Penelitian menunjukkan bahwa keluarga memiliki pengaruh besar terhadap partisipasi politik generasi muda.

Beberapa studi menemukan bahwa latar belakang keluarga dan sosialisasi politik di rumah dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk ikut serta dalam pemilu, mengikuti isu publik, bahkan terlibat dalam kegiatan politik.

Artinya, keputusan seseorang untuk datang ke tempat pemungutan suara atau tidak sering kali berakar dari kebiasaan yang terbentuk di rumah.

Jika sejak kecil anak melihat bahwa memilih adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara, mereka cenderung membawa kebiasaan itu hingga dewasa.

Pendidikan Politik atau Manipulasi?

Pengaruh keluarga terhadap sikap politik sebenarnya memiliki dua sisi.

Ketika Bersifat Edukatif

Pengaruh keluarga disebut edukatif ketika orang tua mendorong anak untuk berpikir, berdiskusi, dan memahami alasan di balik suatu pilihan politik.

Dalam situasi ini, anak diberi ruang untuk bertanya bahkan berbeda pendapat. Mereka belajar menilai informasi secara rasional dan membuat keputusan sendiri.

Keluarga seperti ini cenderung menghasilkan warga negara yang kritis, terbuka, dan mampu menghargai perbedaan.

Ketika Menjadi Manipulatif

Sebaliknya, pengaruh keluarga bisa menjadi manipulatif ketika anak diarahkan untuk memilih atau berpihak pada tokoh tertentu tanpa kesempatan untuk berpikir sendiri.

Hal ini tidak selalu dilakukan secara kasar. Kadang muncul dalam bentuk kalimat seperti:

“Di keluarga kita selalu memilih calon ini.”

Atau,

“Kalau memilih yang lain berarti tidak menghormati orang tua.”

Dalam situasi seperti ini, anak memang ikut terlibat dalam politik, tetapi bukan karena pemahaman yang matang, melainkan karena mengikuti preferensi keluarga.

Realitas di Indonesia: Politik Dimulai dari Rumah

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa keluarga memang memiliki peran nyata dalam membentuk sikap politik generasi muda.

Beberapa studi menemukan bahwa orang tua sering memperkenalkan politik kepada anak melalui diskusi, pemberian informasi tentang pemilu, hingga motivasi untuk menggunakan hak pilih.

Di sisi lain, ada juga keluarga yang secara tidak langsung mengarahkan pilihan politik anak melalui nasihat atau preferensi keluarga terhadap kandidat tertentu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa garis antara pendidikan politik dan pengarahan politik sering kali sangat tipis.

Rumah yang Demokratis, Masyarakat yang Demokratis

Pada akhirnya, kualitas demokrasi dalam suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh sistem politik atau lembaga negara. Ia juga dipengaruhi oleh bagaimana nilai-nilai politik ditanamkan di dalam keluarga.

Keluarga yang terbiasa berdialog, menghargai perbedaan, dan mendorong anak berpikir kritis cenderung melahirkan masyarakat yang lebih partisipatif dan rasional.

Sebaliknya, keluarga yang menekankan kepatuhan tanpa ruang diskusi dapat melahirkan sikap politik yang pasif atau mudah dipengaruhi.

Karena itu, jika ingin membangun demokrasi yang sehat, salah satu tempat terbaik untuk memulainya adalah rumah.

Di sanalah generasi baru pertama kali belajar tentang kekuasaan, tanggung jawab, dan arti menjadi warga negara.

Referensi:

  • Anggraini, G. O., & Sari, M. M. (2019). PENDIDIKAN POLITIK OLEH KELUARGA BAGI PEMILIH PEMULA
    DI DESA NGARES KECAMATAN TRENGGALEK. Kajian Moral dan Kewarganegaraan, 1038-1052.
  • Haryanto. (2023). KELUARGA: SUATU SARANA SOSIALISASI POLITIK. Analisis CSIS, 33-43.
  • Indramayu, K. K. (2025, November 14). KPU KAB-INDRAMAYU. Retrieved from KPU BLOG:
    https://kab-indramayu.kpu.go.id/blog/read/10139_keluarga-sebagai-sekolah-pertama
    dalam-pendidikan-pemilih
  • Martani, S., & Suharno. (2022). Pengaruh Keluarga Terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula
    Kalurahan Bugel Kabupaten Kulon Progo. AGORA: Journal Student UNY, 225-235.
  • Tyas, F. S. (2014). PERAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN KESADARAN POLITIK PADA ANAKNYA
    SEBAGAI PEMILIH PEMULA DI KELURAHAN TAMBAKREJO KECAMATAN SIMOKERTO SURABAYA.
    Kajian Moral dan Kewarganegaraan, 273-289.
  • Wardaniah, R., Susilo, R. K., & Kumalasari, L. D. (2025). Peran Keluarga dalam Sosialisasi Politik
    terhadap Pemilih Pemula pada Pemilihan Presiden 2024 di Desa Weru Kecamatan Paciran
    Kabupaten Lamongan. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 1432–1446.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *