Opini  

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sentuh 5,11% di Kuartal I 2024

Prestasi dan Tantangan Menuju Pemulihan Berkelanjutan

Untung Sudrajad
Ilustrasi Pertumbuhan ekonomi yang kurang diikuti perbaikan kesejahteraan
Ilustrasi Pertumbuhan ekonomi yang kurang diikuti perbaikan kesejahteraan

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,11 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I tahun 2024.

Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2015 dan melebihi ekspektasi pasar.

Meskipun demikian, di balik capaian positif tersebut, terdapat berbagai dinamika dan tantangan yang perlu dianalisis secara mendalam untuk memastikan keberlanjutan pemulihan ekonomi di masa mendatang.

Analisis Sektoral dan Kontribusi Lapangan Usaha

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 didorong oleh berbagai sektor, dengan administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 18,88 persen (yoy).

Sektor ini didukung oleh meningkatnya aktivitas pemerintah terkait penyelenggaraan Pemilu 2024 serta kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN).

Selain itu, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh signifikan sebesar 11,64 persen (yoy), mencerminkan peningkatan permintaan dan aktivitas di bidang kesehatan.

Sektor jasa perusahaan juga mencatat pertumbuhan solid sebesar 9,63 persen (yoy), yang dapat dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas bisnis dan investasi.

Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami kontraksi sebesar 3,54 persen (yoy), yang disebabkan oleh dampak El Nino terhadap produksi pertanian.

Kontraksi ini tentu menjadi perhatian khusus, mengingat sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dan memberikan lapangan kerja bagi banyak masyarakat Indonesia.

Kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I 2024 berasal dari sektor industri pengolahan dengan sumber pertumbuhan sebesar 0,86 persen.

Sektor ini didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan permintaan luar negeri, terutama untuk produk makanan dan minuman, logam dasar, serta produk kimia dan farmasi.

Analisis Sisi Pengeluaran dan Kontribusi Komponen

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), yang masing-masing tumbuh sebesar 4,91 persen (yoy) dan 24,29 persen (yoy).

Peningkatan konsumsi rumah tangga ini didukung oleh terkendalinya inflasi, meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadan, kenaikan gaji ASN, pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), serta aktivitas terkait Pemilu 2024.


Sementara itu, konsumsi LNPRT juga meningkat signifikan, mencerminkan peran penting sektor nirlaba dalam mendukung kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Selain konsumsi, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 3,79 persen (yoy).

Meskipun pertumbuhan PMTB masih moderat, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan investor dalam melakukan ekspansi dan pembangunan kapasitas produksi.

Di sisi eksternal, ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar 0,50 persen (yoy), yang mencerminkan permintaan global yang masih belum sepenuhnya pulih.

Namun, impor barang dan jasa juga tumbuh sebesar 1,77 persen (yoy), menunjukkan bahwa permintaan domestik masih cukup kuat.

Tantangan dan Isu Strategis

Meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 tergolong solid, terdapat beberapa tantangan dan isu strategis yang perlu diperhatikan untuk memastikan keberlanjutan pemulihan ekonomi.

Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu digarisbawahi:

1. Ketimpangan Distribusi Manfaat Pertumbuhan

Meskipun angka pertumbuhan ekonomi terlihat menggembirakan, beberapa ekonom mengkritik bahwa manfaat dari pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Hal ini tercermin dari masih tingginya angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan BPS pada Februari 2024, angka pengangguran di Indonesia tercatat mencapai 7,2 juta jiwa.

Sementara itu, angka kemiskinan nasional pada tahun 2023 masih mencapai 9,36 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat belum sepenuhnya ditransmisikan ke dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

2. Kualitas Pertumbuhan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Selain masalah distribusi manfaat pertumbuhan, kualitas pertumbuhan ekonomi juga menjadi perhatian utama.

Data BPS mengungkapkan bahwa pada Februari 2024, sebanyak 84,13 juta orang (59,17 persen) bekerja pada kegiatan informal, sedangkan hanya 58,05 juta orang (40,83 persen) yang bekerja pada kegiatan formal.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun terjadi penciptaan lapangan kerja baru, sebagian besar masih berada di sektor informal yang rentan terhadap guncangan ekonomi dan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor formal.

3. Ketahanan Pangan dan Dampak El Nino

Kontraksi yang terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan akibat dampak El Nino menjadi perhatian khusus.

Hal ini dapat mempengaruhi ketahanan pangan nasional dan berdampak pada inflasi harga pangan.

Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak El Nino dan menjaga stabilitas pasokan pangan.

4. Keberlanjutan Pemulihan Ekonomi Global

Pemulihan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi perekonomian global yang masih belum sepenuhnya pulih.

Pertumbuhan ekspor yang hanya sebesar 0,50 persen (yoy) menunjukkan bahwa permintaan global masih belum kuat.

Oleh karena itu, kebijakan fiskal dan moneter yang tepat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Reformasi Struktural dan Peningkatan Daya Saing

Untuk memastikan keberl anjutan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Indonesia perlu melakukan reformasi struktural dan meningkatkan daya saing.
Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

1. Perbaikan Iklim Investasi

Salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi adalah dengan meningkatkan investasi, baik dari dalam negeri maupun asing.

Untuk menarik lebih banyak investasi, pemerintah perlu melanjutkan upaya perbaikan iklim investasi, seperti menyederhanakan regulasi, meningkatkan perlindungan hak kekayaan intelektual, memperkuat penegakan hukum, dan memperbaiki infrastruktur pendukung.

2. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi.

Pemerintah perlu meningkatkan investasi dalam pendidikan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan kapasitas tenaga kerja agar dapat menghadapi tantangan ekonomi modern dan memanfaatkan peluang dari revolusi industri 4.0.

3. Diversifikasi Ekonomi

Untuk mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tertentu dan meningkatkan ketahanan ekonomi, Indonesia perlu mendorong diversifikasi ekonomi.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan sektor-sektor baru yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti industri kreatif, ekonomi digital, dan sektor jasa modern.

4. Peningkatan Produktivitas dan Inovasi

Peningkatan produktivitas dan inovasi merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

Pemerintah dapat mendorong investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), mempromosikan kemitraan antara industri dan akademisi, serta memberikan insentif bagi perusahaan yang berinovasi.

5. Penguatan Konektivitas dan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti jalan, pelabuhan, bandara, dan jaringan komunikasi, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pemerintah perlu melanjutkan upaya penguatan konektivitas dan infrastruktur untuk mempermudah arus barang, jasa, dan investasi di seluruh wilayah Indonesia.

Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2024 sebesar 5,11 persen (yoy) merupakan pencapaian yang positif dan menggembirakan.

Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan dan isu strategis yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis, seperti memperbaiki iklim investasi, mengembangkan sumber daya manusia, mendorong diversifikasi ekonomi, meningkatkan produktivitas dan inovasi, serta memperkuat konektivitas dan infrastruktur.

Selain itu, penanganan dampak El Nino terhadap sektor pertanian dan upaya untuk memitigasi ketimpangan distribusi manfaat pertumbuhan juga harus menjadi prioritas utama.

Dengan menghadapi tantangan tersebut secara komprehensif dan mengambil langkah-langkah tepat, Indonesia dapat mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat dan memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Keberhasilan ini akan menjadi pondasi yang kuat bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Referensi:

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sentuh 5,11% per Kuartal I 2024
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/05/06/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-sentuh-511-per-kuartal-i-2024

Ekonomi Indonesia Triwulan I-2024 Tumbuh 5,11 Persen (Y-on-Y) dan Ekonomi Indonesia Triwulan I-2024 Terkontraksi 0,83 Persen (Q-to-Q).
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2024/05/06/2380/indonesia-s-gdp-growth-in-q1-2024-was-5-11-percent–y-on-y–and-indonesia-s-gdp-growth-in-q1-2024-was–0-83-percent–q-to-q–.html

Pertumbuhan Semu di Balik Capaian Ekonomi RI di Kuartal I-2024
https://tirto.id/pertumbuhan-semu-di-balik-capaian-ekonomi-ri-di-kuartal-i-2024-gYre

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,11% di Kuartal I 2024, Ini Pendorongnya
https://www.liputan6.com/bisnis/read/5589365/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-511-di-kuartal-i-2024-ini-pendorongnya?page=2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *