News, Opini  

Ketika FOMO Dianggap Sebagai Jalan Untuk Menjadi Keren dan Gaul

Fear of missing out. Foto: freepik

Sahabat pernahkah anda mendengar istilah FOMO? Istilah ini mendadak trending di media sosial beberapa waktu yang lalu bersamaan dengan adanya konser Blackpink yang digelar di stadion GBK pada 11-12 Maret yang lalu.

Kehebohan konser Blackpink dan antusiame yang  tinggi dari penonton serta fans  menyebabkan sebagian orang melontarkan komentar tentang kondisi tersebut.

Ih FOMO banget sih.” Begitulah komentar salah satu warganet menanggapi kehebohan penonton dan fans yang sangat heboh dalam konser Blackpink kemarin.

Lalu Apa Itu FOMO

Mengutip kompas.com, FOMO adalah adalah salah satu istilah gaul dalam bahasa Inggris. FOMO bukan merupakan kata tunggal melainkan akronim dari “Fear OF Missing Out” yang secara harfiah diartikan sebagai ketakutan atas kehilangan atau ketinggalan dalam suatu hal.

Dalam artian lebih spesifik, FOMO adalah perasaan ketakutan atau kecemasan khusus yang muncul ketika seseorang menganggap dirinya bakal kehilangan beberapa interaksi sosial yang penting.

Jadi saat FOMO atau kecemasan akibat anggapan kehilangan interaksi sosial itu muncul, seseorang bakal terdorong untuk memantau interaksi sosial yang sedang terjadi secara terus menerus. Bisa juga berupaya agar terlibat dalam interaksi sosial itu.

Singkatnya, tidak mau ketinggalan trend. Sehingga ikut-ikutan, mudah terbawa arus dan takut di cap tidak gaul hal tersebut merupakan perasaan-perasaan yang menghinggapi orang-orang yang mengidap FOMO.

Ada yang berpendapat FOMO terjadi karena media sosial yang semakin hari semakin masif dan teknologi digital yang memudahkan orang dalam mengakses informasi. Itulah sebabnya orang-orang berubah menjadi FOMO dan selalu mengikuti trend yang sedang terjadi.

Saya pribadi gak setuju dengan pendapat itu. Menurut saya fenomena ini sudah ada sejak dulu, jauh sebelum media sosial masif seperti sekarang. Sehingga media sosial dan teknologi digital bukanlah penyebab utama seseorang menjadi FOMO. Penyebab yang paling kuat  adalah karena adanya tekanan sosial. Orang biasanya mengikuti trend. Ikut dalam interaksi sosial tertentu bukan karena benar-benar suka melainkan karena takut dianggap tidak gaul, tidak update, kuno, atau ketinggalan zaman.

Fenomena Viking Vs The Jack

Saya masih ingat saat masih SMP, tren atau fenomena Viking Vs The Jack sangat heboh. Beberapa teman saya bahkan sampai membawa syal berwarna oranye bertuliskan Persija Jakarta kedalam kelas, lalu menginjakinya beramai-ramai.

Banyak teman-teman saya mendadak menjadi pendukung Persib (Viking) dan membeli segala atribut berwarna biru bertuliskan Persib atau Viking. Saat itu keadaanya memang heboh. Bahkan beberapa teman saya bisa dikategorikan fanatik berlebihan dalam mendukung jagoannya itu.

Diantara banyaknya suporter Viking, saya melihat tidak semuanya adalah pendukung Viking sejati dan menggemari sepak bola melainkan hanya ikut-ikutan saja. Hanya senang menjadi bagian dari komunitas Viking dan tidak mengetahui tentang klub sepak bola yang didukungnya itu. Singkat kata, mereka telah menjadi FOMO.

Beruntung saya tidak terjerumus dan menjadi FOMO pada waktu itu. Saya tidak memperdulikan persaingan yang begitu ketat dan panas antara Viking Vs The Jack. Karena jagoan saya pada waktu itu adalah Persipura Jayapura.

Kita ini Harus Punya Kedaulatan Selera

Seseorang yang memiliki prinsip independen serta memiliki selera tersendiri pasti tak akan terjerumus ke dalam kondisi tersebut. Tak selamanya mengikuti trend itu gaul dan keren. Apabila dilakukan secara berlebihan justru akan terlihat norak dan tak punya pendirian.

FOMO akan menjadikan kita sebagai manusia yang tak berselera. Karena hanya sekadar ikut-ikutan dan ngefans. Bukan murni karena suka dan mengidolakan  akan sesuatu hal.

Menanggapi fenomena ini, saya sangat setuju dengan pendapat Ahmad Dhani, “Kita ini harus punya kedaulatan selera” sehingga kita tidak mudah terpengaruh dengan arus tren global yang kadang tak selamanya baik dan memberdayakan untuk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *