Batu Giok dan Interaksi Simbolik

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja (Dosen Universitas Al Azhar Indonesia)

admin
Ilustrasi Batu Giok (Foto: @ vecstock/https://www.freepik.com)
Ilustrasi Batu Giok (Foto: @ vecstock/https://www.freepik.com)

Suara Kreatif kali ini akan mengulas tentang ‘Batu Giok dan Interaksi Simbolik’. Batu sebagai perhiasan telah digunakan dalam peradaban masyarakat purba. Perhiasan berbentuk batuan dan kerang telah ditemukan dalam artefak kuburan-kuburan kuno dan diperkirakan telah ada sejak ditemukannya bentuk bercocok tanam oleh manusia purba.

Batu Giok dalam Peradaban Manusia

Kala itu, ditemukan pula bukti bahwa dalam peradaban perunggu telah adanya emas, perak dan batu-batu alam sebagai perhiasan yang dikenakan manusia saat itu (Pratiwi, 2021).

 

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Al-Araf [7]: 31-32).

 

Perhiasan Batu Bernilai Tinggi

Giok menjadi salah jenis batu perhiasan yang memiliki nilai sangat tinggi dalam budaya Tiongkok Kuno. Batu ini sebagai perhiasan masyarakat peradaban Tiongkok Kuno sudah digunakan sejak 3400 SM. Dalam budaya Tiongkok Kuno bukan semata sebagai perhiasan, tetapi memiliki nilai-nilai kultural tertentu.

Bagi masyarakat Tiongkok batu giok memiliki symbol tertentu, antara lain: kesempurnaan, keabadian, serta keteguhan. Dalam pendekatan filsafat Confucius giok memiliki makna keberanian, kebijaksanaan, kesederhanaan, keadilan, serta kasih-sayang (Ela, 2022).

Dalam pendekatan interaksionalisme simbolik, setiap benda tidaklah berdiri bebas melainkan memiliki makna-makna tertentu yang dikonstruksikan menurut latar belakang kulutral tertentu. Bahwa bagi masyarakat A sebuah objek tertentu dapat bermakna khusus yang tentunya menjadi berbeda dengan makna yang ditampilkan oleh budaya kelompok manusia lainnya.

Lebih dalam lagi bahwa objek dapat dilihat dalam pendekatan paradigm fenomenologi, dimana setiap orang secara individu dapat menentukan makna setiap objek yang dibangun dan tentunya akan berbeda makna dengan orang lain yang menatap objek tersebut.

 

Giok Dalam Budaya Tiongkok Kuno

Dalam kaitan dengan pendekatan interaksionisme simbolik tersebut, budaya Tiongkok Kuno membangun sebuah konsep-konsep kultural atas makna giok. Tentunya hal ini tidaklah sama dengan budaya lainnya dalam mempersepsi dan memberi makna atas sebuah objek.

Giok dalam budaya Tiongkok Kuno bukanlah sekedar benda melainkan ia diletakkan dalam sebuah keluhuran sifat manusia. Simbol keberanian dan kesempurnaan sebuah perilaku manusia yang dilambangkan dalam wujud Batu Giok.

Dalam budaya masyarakat Tiongkok Kuno sebuah batu giok menunjukkan kedudukan seseorang dalam budaya masyarakatnya. Pepatah Tiongkok Kuno bahkan menyatakan: “Emas memiliki nilai, tetapi Giok tidak ternilai.” Salah seorang Pangeran dari Dinasti Han Barat ketika meninggal dalam Tahun 113 SM dimakamkan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari batu giok yang terdiri dari 2.498 keping giok yang dijahit dengan benang emas (Chelioui & Mirchandani, 2022; Tempo.co, 2022).

 

Batu Giok Dalam Konsep Religi

Batu Giok dalam konsep religi baur masyarakat Tiongkok Kuno memperoleh tempat yang tinggi. Giok dalam sistem religi masyarakat Tiongkok Kuno disebut sebagai penghubung antara bumi dan langit, penghubung antara manusia yang hidup di bumi dengan para dewa yang berada di langit.

Batu ini merupakan simbol kekuasaan Dewa Langit, Kaisar, dan Negara (Febritianti, 2009). Giok bukan sekedar objek batu, melainkan memiliki nilai sakral dalam masyarakat Tiongkok kuno baik secara kultural maupun religi yang mereka anut (Silbergeld & Sullivan, t.t.).

 

Batu Giok sebagai Batu Alam Indonesia

Bagi masyarakat Asia-Afrika, khususnya Nusantara, sebuah objek tidak hanya dilihat dari sisi objek benda, tetapi juga diberi makna tertentu secara kultural. Benda seperti batu giok dan juga batuan alam sebagai sebuah perhiasan memiliki makna estetika, materi ekonomi hingga religi.

Batuan tertentu seperti Giok dapat mencapai harga puluhan hingga ratusan juta karena dilekatkannya makna-makna tersebut. Batu tersebut tidak sekedar hadir atas dirinya sendiri, melainkan hadir berdasarkan sebuah konsep yang dibangun dan dilekatkan oleh manusia terhadap benda tersebut hingga ia menjadi sangat bernilai dihadapan manusia.

 

Myanmar dan Perdagangan Batu Giok

Batu yang satu ini memiliki nilai tinggi dan menjadikan Myanmar memperoleh keuntungan tinggi dalam perdagangan batu giok dunia. Sebagai negara penghasil giok terbesar di dunia, Myanmar mampu memperoleh keuntungan dari penjualan batu ini sebesar USD 8 Milyar pertahun. Pada sisi lain pemerintah Myanmar juga menerapkan pajak bagi para penambang dan produsen batu giok di Myanmar. Dengan kondisi seperti itu seringkali memunculkan penyelundupan batu giok ke luar Myanmar (BBC.com, 2014).

Selain Myanmar salah satu pertambangan batu giok di Asia terdapat di Indonesia. Yaitu terletak di Kabupaten Nagan Raya, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Jadi, pertambangan giok yang dilakukan oleh masyarakat dan penduduk lokal mampu meningkatkan pendapatan warga asli Kabupaten Nagan Raya.

Bahkan kini batu giok menjadi asesori yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Nagan Raya sebagai identitas tersendiri. Sebelum tambangan tersebut ditemukan, mereka hidup dengan cara bertani dan berkebun, kini memiliki kegiatan baru berupa bertambang (Wali, 2016).

 

Batu Giok Asal Indonesia

Keindahan dan kualitas batu giok asal Indonesia tidak kalah dengan produk asal Myanmar tentunya. Sariat Arifia selaku Ketua Perkumpulan Penambang Pengrajin dan Pengusaha Batu Giok Aceh Indonesia (P3GAI) bahwa Batu Giok Aceh merupakan batu berstandar internasional dan siap menembus pasar internasional (timesnews.co.id, 2023).

Dalam hal ini Pemerintah Indonesia, melalui Kemenparekraf/Baparekraf RI, perlu melindungi sekaligus mendukung dan mendorong perkembangan usaha batu jenis ini di Indonesia guna menembus persaingan bisnis internasional. Pada sisi lainnya dapat mendorong pendapatan masyarakat lokal sebagai penambang dan pengusaha batu alam tanpa merusak lingkungan.

Baca juga: Museum Paling Hits di Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *