News, Opini  

Masih adakah tempat berlindung dari kekerasan seksual

Menyuarakan Bisu: Mengungkap Realitas Kekerasan Seksual

Di Lombok Tengah sedang gawat dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak muda yang sedang menempuh pendidikan dan menata masa depan. Kasus ini telah merusak fisik dan mental anak perempuan yang sedang mencari jati diri. Sudah banyak sekali perempuan yang menjadi korban dari perbuatan keji orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini.

Dari tahun 2024 kemarin sampai awal tahun 2025 kekerasan seksual ini masih tidak bisa ditangani oleh pemerintah setempat. Karena, dari banyaknya kasus yang terjadi belum ada tindakan pemerintah yang benar-benar memberikan efek jera kepada masyarakat. Sehingga, kasus semacam ini akan terus terjadi di kalangan masyarakat dan tidak ada lagi tempat yang nyaman bagi anak perempuan untuk berlindung dari kasus Kekerasan Seksual.

Tempat berlindung dari Kekerasan Seksual adalah lingkungan yang mampu menjaga anak perempuan secara fisik, emosional dan sosialnya dari Kekerasan Seksual. Tempat ini memberikan kenyamanan dan keamanan terhadap kehormatan dan privasi seorang anak. Sehingga anak itu tidak akan dihantui dengan rasa takut akan terjadinya kekerasan seksual kepada dirinya.

Akan tetapi, maraknya kekerasan seksual membuat tempat seperti itu sebagai barang langka bagi anak perempuan di Lombok Tengah. Hal ini menyebabkan semakin bertambahnya kasus kekerasan seksual yang terjadi. Karena anak perempuan tidak tau siapa orang yang seharusnya menjadi pelindung dan siapa yang ingin merusak martabatnya. Semua orang nampak samar, karena mereka bersembunyi dibalik topeng kebaikan untuk mendapatkan yang mereka inginkan.

Kasus seperti yang dijelaskan di atas memang benar terjadi di Lombok Tengah tidak lama dari hari ini. Dan berikut adalah beberapa kasus kekerasan seksual yang terjadi di Lombok Tengah dengan pelaku yang bertopeng kemunafikan.

KEKERASAN SEKSUAL DALAM KELUARGA

Keluarga seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi seorang anak ketika sedang menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Orang tua seharusnya menjadi pahlawan pertama yang datang menolongnya ketika seorang anak dihadapkan dengan suatu permasalahan. Tetapi, siapa yang bisa membayangkan sakit hati yang dirasakan seorang anak ketika harga dirinya dirusak oleh ayah yang menjadi pahlawannya sendiri.

Begitulah yang telah terjadi pada seorang anak perempuan di Lombok Tengah, kecamatan Praya Timur pada awal tahun 2025 kemarin. Seorang gadis yang masih muda dan perjalanan hidupnya masih panjang harus menelan pil pahit ketika dia di paksa berhubungan seksual dengan ayah kandungnya sendiri. Yang dimana kejadian itu tidak pernah dia inginkan terjadi padanya dan juga tanpa sepengetahuan dari ibunya sendiri.

Kasus kekerasan seksual yang dilakukan seorang ayah kepada anak kandungnya itu berawal ketika si pelaku sedang berada dirumah bersama anaknya. Pada kesempatan itu, si pelaku memanfaatkannya untuk melakukan hal keji itu dengan memanggil anaknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah anaknya itu masuk ke dalam kamar si pelaku, dia langsung memaksa anaknya untuk melakukan hubungan seksual. Anak yang menjadi korban sempat melakukan perlawanan, tapi si pelaku menutup mulut anaknya dengan tangan supaya tidak teriak. Begitulah kekejaman yang dilakukan seorang ayah kepada anak kandung yang dibesarkan sendiri.

Berdasarkan pada berita yang beredar, pelaku sudah berhasil melakukan hubungan seksual kepada anaknya sebanyak dua kali. Kelakuan bejat itu dilakukan pelaku ketika ibu dari korban sedang tidak ada di rumah. Pelaku juga sempat mencoba melakukannya lagi untuk yang ketiga kalinya. Tapi, si anak yang jadi korban berhasil melarikan diri dan kabur dari rumah dengan si pelaku yang terkunci di dalamnya. Dia kabur menuju rumah neneknya dengan tujuan memberitahu ibunya yang sedang berada dirumah nenek tentang tindakan ayahnya yang bejat. Dan sejak saat itulah si ibu mengetahui kelakuan suaminya dan pergi melaporkannya ke kantor polisi.

KEKERASAN SEKSUAL DI PONDOK PESANTREN

Pondok pesantren juga, merupakan rumah kedua bagi anak santri yang memilih menuntut ilmu disana. Karena, selama berada di Pondok Pesantren santri diajarkan tentang ilmu agama, ilmu pengetahuan umum, hingga ilmu sosial. Namun, beberapa nama pondok pesantren di Lombok Tengah sudah tercemar oleh oknum pimpinan pondok, ustadz atau santri yang melakukan kekerasan seksual.

Salah satu kasus kekerasan seksual di lingkungan Pondok Pesantren dilaporkan kemarin di awal tahun 2025. Kasus ini dilakukan oleh salah satu Pimpinan Pondok Pesantren di Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Dan yang menjadi korban kekerasan seksual ini adalah SANTRIWATI dari pondok pesantren tersebut.

Pimpinan pondok pesantren yang ditetapkan sebagai pelaku memulai aksinya ketika berada dirumahnya. Dia memanggil santri yang menjadi targetnya untuk datang membersihkan ruangan di rumahnya. Pada saat santri yang menjadi korban tersebut membersihkan ruangan yang dimaksud, pelaku mulai beraksi dengan memeluk korban dari belakang tanpa sepengetahuannya. Hingga pada akhirnya si pelaku mengajak korban untuk melakukan hubungan seksual berdua.

Ditinjau dari berita yang beredar di masyarakat, sejauh ini pelaku sudah melakukan pelecehan tersebut kepada 3 (tiga) orang santriwatinya. Hal seperti ini bisa terjadi sebab adanya ancaman kekerasan, janji untuk menikahi, hingga jaminan keberkahan hidup dan masuk surga. Begitulah kejinya perlakuan orang-orang yang tidak bermoral dengan memanfaatkan kelemahan jiwa perempuan. Si korban tidak mampu untuk memberikan perlawanan yang lebih besar. Sehingga tidak ada jalan lain bagi korban yang sudah termakan jebakan pelaku selain melayaninya.

KEKERASAN SEKSUAL DALAM PERTEMANAN

Pertemanan termasuk hubungan yang sangat berpengaruh dalam lingkungan kehidupan anak muda. Bagi mereka, teman itu seperti sosok saudara yang ditemukan dalam seseorang yang beda ibu. Teman juga tidak jarang menjadi tempat bercerita ketika sedang menghadapi suatu permasalahan. Mereka menjadi orang yang berdiri paling depan untuk menolong dan melindungi ketika sedang berada dalam bahaya.

Akan tetapi, hubungan pertemanan itu akan hancur ketika sudah menjadi sarang terjadinya kasus kekerasan seksual. Yaitu, ketika sosok teman yang sudah dipercaya mengambil kesempatan untuk merusak kehormatan teman wanitanya. Seperti yang dialami oleh 2 (dua) anak perempuan yang diperkosa 3 (tiga) temannya.

Kejadian ini dilakukan oleh tiga anak laki-laki yang menjebak dua teman perempuan yang masih menjadi siswa di salah satu SMP di Lombok Tengah. Dua perempuan ini diajak temannya untuk keluar jalan-jalan pada saat malam hari. Pada hari itu juga adalah hari raya idul fitri tahun 2024 dan masih dalam suasana hari raya.

Setelah tiga laki-laki itu mengajak teman cewek itu berkeliling di kota praya, akhirnya para pelaku membawa korbannya pergi ke rumah salah satu pelaku. Saat berada di perjalanan, pelaku sempat mengancam para korban untuk meninggalkannya di tempat sepi jika tidak mau mengikuti mereka ke rumahnya. Sehingga dari ancaman itu para korban tidak berani berbuat apa-apa untuk melawan.

Sampai di rumah pelaku, para korban menginap disana karena tidak diantar pulang oleh para pelaku. Di malam itulah ketiga pelaku melakukan aksi bejatnya kepada tiga teman perempuan yang mereka bawa. Selama kejadian itu, mereka bertiga menggilir kedua korban untuk disetubuhi.

Kesimpulan

Dari kejadian ini kita bisa melihat, bahwa begitu sulit para anak perempuan untuk menjaga kehormatannya. Orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi mereka, justru mereka orang pertama yang melecehkannya. Ayah yang seharusnya menjaga anaknya supaya tidak disentuh laki-laki yang tidak bertanggung jawab malah memaksa anaknya bersetubuh dengannya. Pimpinan pondok pesantren yang tugasnya mengajarkan ilmu agama dan akhlakul karimah tapi menjual agama sebagai alasan untuk melecehkan santrinya. Teman dekat yang harus menjadi tempat pulang ketika banyak masalah, tapi malah mencari kesempatan untuk merusak harga diri temannya. Di Lombok Tengah memang tidak ada orang yang dapat dipercaya sebagai pelindung dari kekerasan seksual.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *