Opini  

Politik yang Sunyi: Bagaimana Rakyat Marginal Mengubah Kota Tanpa Demonstrasi

Oleh: Savira Ardhia (Mahasiswi FISIP, Universitas Jenderal Soedirman)

admin
Rakyat Marginal Mengubah Kota Tanpa Demonstrasi
Rakyat Marginal Mengubah Kota Tanpa Demonstrasi

Ketika Politik Tidak Selalu Berteriak

Ketika mendengar kata “politik”, banyak orang langsung membayangkan demonstrasi, kampanye, partai politik, atau perdebatan di parlemen. Padahal, politik tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan mencolok. Di sudut-sudut kota, jutaan orang menjalankan “politik” dengan cara yang jauh lebih sederhana: bertahan hidup.

Pedagang kaki lima yang kembali berjualan setelah ditertibkan, keluarga yang membangun rumah di lahan kosong, atau warga yang terus mempertahankan ruang hidupnya di tengah pesatnya pembangunan kota sering dipandang sekadar melanggar aturan. Namun, bagi sosiolog politik Asef Bayat, tindakan-tindakan tersebut menyimpan makna politik yang jauh lebih dalam. Melalui konsep Quiet Encroachment of the Ordinary dan The Art of Presence, Bayat mengajak kita melihat bahwa rakyat marginal bukanlah kelompok yang pasif. Mereka justru terus membentuk perubahan sosial melalui praktik-praktik kehidupan sehari-hari.

Quiet Encroachment: Politik Tanpa Organisasi Besar

Bayat mengembangkan konsep Quiet Encroachment untuk menjelaskan bagaimana kelompok masyarakat marjinal memperoleh kebutuhan hidup tanpa melalui gerakan sosial yang terorganisasi. Mereka tidak menggelar demonstrasi besar, tidak memiliki pemimpin formal, dan tidak mengajukan tuntutan politik secara terbuka. Sebaliknya, mereka bertindak secara perlahan, individual, dan sering kali tanpa koordinasi.

Objek yang diperjuangkan pun bukanlah perebutan kekuasaan politik, melainkan kebutuhan paling mendasar seperti tempat tinggal, akses air bersih, listrik, ruang usaha, maupun layanan perkotaan. Dalam pandangan Bayat, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi merupakan respons adaptif terhadap keterbatasan akses yang diberikan oleh sistem formal.

Fenomena ini banyak ditemukan di kota-kota negara berkembang. Urbanisasi yang cepat, ketimpangan ekonomi, lemahnya tata kelola, dan keterbatasan pelayanan publik mendorong masyarakat mencari solusi sendiri demi mempertahankan kehidupan. Akumulasi tindakan-tindakan kecil tersebut pada akhirnya mampu mengubah wajah kota dan bahkan memengaruhi kebijakan pemerintah.

Dari Pedagang Kaki Lima hingga Permukiman Informal

Teori Bayat menjadi semakin mudah dipahami ketika melihat berbagai bentuk encroachment yang dijelaskan dalam kajiannya. Pengambilalihan lahan untuk permukiman informal, pemanfaatan ruang publik oleh pedagang kaki lima, ojek pangkalan yang beroperasi di luar sistem formal, hingga akses terhadap layanan dasar seperti listrik dan air merupakan contoh nyata bagaimana rakyat marginal membangun ruang hidupnya.

Praktik-praktik tersebut sering dipandang sebagai persoalan ketertiban kota. Namun, Bayat menawarkan sudut pandang berbeda. Ia menunjukkan bahwa tindakan tersebut lahir karena adanya kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan negara dalam menyediakan akses yang memadai.

Ketika praktik-praktik tersebut terus berlangsung dan melibatkan banyak orang, negara sering kali tidak lagi mampu hanya mengandalkan penertiban. Dalam berbagai kasus, pemerintah akhirnya melakukan penyesuaian kebijakan, mulai dari legalisasi kawasan tertentu hingga penyediaan infrastruktur bagi komunitas yang sebelumnya dianggap informal.

The Art of Presence: Bertahan dengan Cara Tetap Hadir

Bayat kemudian memperluas pemikirannya melalui konsep The Art of Presence. Jika Quiet Encroachment menjelaskan bagaimana rakyat marginal memperoleh sumber daya, maka konsep ini menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan keberadaannya.

Menurut Bayat, kehadiran yang terus-menerus di ruang publik merupakan bentuk politik tersendiri. Pedagang kaki lima yang kembali berjualan setelah ditertibkan, warga yang terus membangun kembali rumahnya setelah digusur, atau kelompok masyarakat yang tetap memanfaatkan ruang kota meskipun tidak memiliki pengakuan formal menunjukkan bahwa kehadiran fisik dapat menjadi strategi politik yang efektif.

Setiap tindakan mungkin tampak kecil dan tidak berarti. Namun, ketika dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang panjang, tindakan tersebut mampu membentuk fakta sosial baru yang sulit diabaikan oleh negara. Politik, dalam pengertian ini, tidak selalu berbicara melalui pidato atau demonstrasi, tetapi juga melalui keberanian untuk terus hadir.

Baca juga: Ketika Demokrasi Melemah, Siapa yang Menjaga? Belajar dari Indonesia dan Filipina

Melihat Politik dari Kehidupan Sehari-hari

Pemikiran Asef Bayat memberikan perspektif baru dalam memahami rakyat marginal perkotaan. Ia memperluas makna politik dari sekadar aktivitas formal menuju praktik-praktik keseharian yang selama ini kerap luput dari perhatian. Orang-orang biasa yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup ternyata juga sedang membangun bentuk politiknya sendiri.

Pada akhirnya, Quiet Encroachment dan The Art of Presence mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang sidang, kantor pemerintahan, atau panggung demonstrasi. Perubahan juga dapat lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus oleh masyarakat biasa. Dengan memusatkan perhatian pada praktik-praktik sehari-hari yang dilakukan oleh kelompok marjinal, Bayat menunjukkan bahwa politik sesungguhnya hidup di tengah kehidupan warga, bahkan ketika mereka tidak pernah menyebut dirinya sebagai pelaku politik.

Referensi:

Bayat, A. (1997). Street politics: Poor people’s movements in Iran. Columbia University Press.

Bayat, A. (2000). From “dangerous classes” to “quiet rebels”: Politics of the urban subaltern in South. International

Bayat, A. (2004). Globalization and the politics of the informals in the global South. In A. Roy & N. AlSayyad (Eds.), Urban informality: Transnational perspectives from the Middle East, Latin America, and South Asia (pp. 79-102). Lexington Books.

Bayat, A. (2010). Life as politics: How ordinary people change the Middle East. Stanford University Press.

Bayat, A. (2013). Life as politics: How ordinary people change the Middle East (2nd ed.). Stanford University Press.

Bayat, A. (2021). Revolutionary life: The everyday of the Arab Spring. Harvard University Press.

Harvey, D. (2008). The right to the city. New Left Review, 53, 23-40.

Roy, A. (2005). Urban informality: Toward an epistemology of planning. Journal of the American Planning Association, https://doi.org/10.1080/01944360508976689

Scott, J. C. (1990). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts. Yale University Press.

Simone, A. (2004). For the city yet to come: Changing African life in four cities. Duke University Press.

Wacquant, L. (2008). Urban outcasts: A comparative sociology of advanced marginality. Polity Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *