Pada Jumat 14 Agustus 2026 menjelang Hari Kemerdekaan RI, beberapa Dekan Universitas Al Azhar Indonesia mengunjungi Afif Hamka, anak kandung Pahlawan Nasional Buya Hamka. Beliau seorang ulama, sastrawan, sekaligus seorang negarawan yang telah menghasilkan ratusan buku yang hingga kini masih tetap dibaca oleh generasi muda Indonesia.

Nama Buya Hamka tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Masjid Agung Al-Azhar yang dulu dikenal dengan nama Masjid Agung Kebayoran. Masjid Agung Kebayoran ini kemudian diberi nama Al Azhar oleh Syaikh Syaltut Imam Besar Al Azhar Kairo pada tahun 1961.
***
Buya Hamka menurut Afif Hamka ketika pertama kali tiba di Jakarta dari Sumatera Barat bertempat tinggal di kawasan Senin Jakarta Pusat, lalu kemudian ia memboyong keluarganya untuk pindah ke kawasan masjid Agung Kebayoran di Jakarta Selatan.
Menurut Afif, Buya Hamka menekankan keindahan dan keunggulan dalam berIslam. Buya pernah menyatakan bahwa jika kamu mau ketemu berjumpa dengan orang yang kamu sukai, cintai, bahkan kamu puji kamu selalu tampil bagus. Begitu pula ketika menghadap Tuhan, kamu juga harus tampil gagah, indah, bagus, ga boleh lusuh dihadapan Allah.
Begitu juga jika kamu menjadi seorang yg mengamalkan tasawuf, kamu juga harus tampil indah, gagah, bagus ga lusuh. Tasawuf itu keindahan Allah. Itulah yang dituangkan dalam buku Tasawuf Moderen Buya Hamka. Bertasawuf itu tidak lusuh, kotor, tetapi penuh keindahan dan juga gagah.
***
Menurut Afif Hamka jaman dulu banyak orang yang berbondong-bondong ke masjid Al Azhar, masjid Agung Kebayoran utk menikmati kajian subuh Buya Hamka. Begitu terkenalnya beliau, sampai setiap orang daerah yang berkunjung ke Jakarta kala itu pasti mengunjungi masjid agung Kebayoran utk mendengarkan kajian bada subuh Buya Hamka secara langsung.
Afif Hamka menjelaskan bahwa ketika ia berkunjung ke Solo, disana ada komunitas dokter penghafal Qur’an yang terinspirasi oleh buku Tasawuf Buya Hamka. Mereka membaca al-Qur’an dalam semalam sebagai bentuk pelaksanaan ajaran tasawuf moderen Buya Hamka.
***
Pendirian Universitas Al Azhar Indonesia juga merupakan bentuk dan wujud dari nilai-nilai perjuangan Buya Hamka. Maka UAI menurut Afif Hamka haruslah mampu menjadi penerus perjuangan Buya Hamka. UAI perlu memiliki pusat studi Buya Hamka, dimana di dalamnya terdapat koleksi tulisan-tulisan dan buku-buku karya Buya Hamka.
Menurut Afif, pada tahun 1950 Buya Hamka diajak oleh tokoh-tokoh Masyumi utk ikut melawan Presiden Soekarno. Akan tetapi beliau jatuh di masjid Al Azhar dan kakinya patah. Akibatnya beliau tidak dapat bergabung dan menjalankan perjuangannya sendiri melalui dakwah kebangsaan yang beliau jalankan.
***
Dakwah Hamka menurut Afif Hamka adalah dakwah gedongan. Dakwah Islam yang modern yang khususnya dapat diterima oleh kalangan apapun termasuk kaum berpunya. Tasawuf sejatinya harus berakar pada realitas kehidupan sosial manusia. Gagasan tasawuf moderen inilah yang coba dibangun dan dikembangkan dalam sikap berbangsa Buya Hamka.
Gagasan pemikiran modernitas dan moderat Keislaman Buya Hamka menjadi landasan bangunan keilmuan yang diterapkan oleh Universitas Al Azhar Indonesia. Gagasan tasawuf moderen Hamka pun telah ditelaah secara mendalam oleh beberapa peneliti dan dosen Universitas Al Azhar Indonesia dalam banyak karya ilmiah yang dihasilkan. Pemikiran Buya Hamka diharapkan akan tetap menyelimuti kekayaan khazanah keilmuan Indonesia secara umum.








