Sastra  

Manusia di Antara Mesin

Untung Sudrajad
Manusia di Antara Mesin
Manusia di Antara Mesin (sumber:pexels)


Manusia di Antara Mesin – Suara azan Maghrib mengalir dari menara masjid Al-Hikmah yang berdiri megah di tengah kompleks industri Karawang. Budi Santoso melepas kacamata augmented reality-nya sejenak, membiarkan mata lelahnya beristirahat dari layar hologram yang menampilkan diagnostic sistem robot-robot produksi. Pabrik PT Nusantara Robotika tempat dia bekerja sebagai Chief Maintenance Engineer masih beroperasi 24 jam perhari dan 7 hari perminggu , tapi suara azan selalu berhasil menembus kebisingan mesin-mesin canggih.

“Pak Budi, unit RX-7 di line produksi B ada anomali lagi,” lapor Sari, anak magang yang baru lulus dari Institut Teknologi Bandung. Gadis berkerudung itu menggeser-geser data di tablet transparannya dengan gesit.

“Anomali yang mana, Sar? Neural network-nya atau actuator-nya?” tanya Budi sambil bangkit dari kursi ergonomis di control room yang dipenuhi monitor besar.

“Kayaknya sih neural network, Pak. Dia tiba-tiba berhenti pas lagi assembling komponen mikroprosesor. Statusnya stuck di ‘processing decision‘.”

Budi menghela napas. Sudah tiga bulan terakhir, robot-robot generasi terbaru ini sering mengalami yang dia sebut “kebingungan eksistensial.” Artificial Intelligence mereka terlalu canggih, sampai-sampai kadang mereka seperti bertanya-tanya tentang tujuan hidup mereka sendiri.

Keduanya berjalan melewati koridor pabrik yang dinding-dindingnya dihiasi kaligrafi digital yang berubah-ubah menampilkan ayat-ayat Al-Quran dan pepatah Jawa. Inovasi dari direktur pabrik yang ingin mempertahankan nilai-nilai spiritual di tengah modernisasi industri 4.0.

“Pak, boleh nanya nggak?” Sari bersuara pelan sambil melangkah di samping Budi.

“Boleh, apaan?”

“Bapak nggak pernah merasa aneh nggak sih, kita yang manusia malah ngurus robot? Kayak… terbalik gitu.”

Budi tersenyum. Pertanyaan yang sama pernah diajukan anaknya, Rama, yang sekarang kuliah di Universitas Gadjah Mada jurusan Filosofi Teknologi. “Aneh kenapa? Kita kan yang bikin mereka. Kayak orang tua ngurus anak.”
“Tapi mereka pintar, Pak. Kadang lebih pintar dari kita.”

“Pintar dan bijak itu beda, Sar. Kamu pernah dengar cerita Malin Kundang?”
Sari mengangguk. “Anak durhaka yang dikutuk jadi batu.”

“Nah, Malin Kundang pintar. Bisa dagang, bisa nyari uang. Tapi dia nggak bijak karena lupa asal-usulnya. Robot-robot ini juga gitu. Mereka bisa ngolah data triliunan bit per detik, tapi mereka nggak punya hati. Nggak punya rasa.”

Mereka sampai di line produksi B. Robot RX-7 berdiri diam seperti patung, lengan robotiknya terjulur ke arah conveyor belt yang membawa komponen elektronik. LED indicator di dadanya berkedip kuning, tanda sistem sedang processing.

Budi mengeluarkan neural interface connector dari tool belt-nya. Kabel fiber optik yang ujungnya berbentuk seperti stethoscope, tapi untuk mendengar “pikiran” robot.

“Assalamualaikum, RX-7,” gumam Budi sambil mencolokkan connector ke port diagnostik di kepala robot. Kebiasaan lucu yang selalu dia lakukan sebelum troubleshooting. “Mari kita lihat apa yang lagi kamu pikirkan.”

Data stream langsung mengalir ke kacamata AR-nya. Algoritma machine learning RX-7 menampilkan pola yang aneh. Bukannya fokus pada task assembly, neural network-nya malah menganalisis pola-pola yang nggak relevan: ritme suara langkah kaki pekerja, frekuensi suara tawa dari kantin, bahkan getaran tanah saat truk lewat.

“Wah, ini dia masalahnya,” kata Budi sambil menunjuk ke hologram yang menampilkan neural pathway robot. “Dia terlalu aware sama lingkungan. Kayak orang yang baru pertama kali ke Jakarta, bingung mau fokus ke mana.”

“Emang bisa ya, Pak, robot mengalami sensory overload?”

“Bisa banget. Mereka terlalu pintar sampai-sampai semua input mereka anggap penting.” Budi mulai mengetik perintah di keyboard hologram. “Kita perlu kasih dia… hmm… semacam mindfulness.”

Sari tertawa. “Mindfulness buat robot? Kayak meditasi gitu, Pak?”

“Kurang lebih. Dalam terminologi teknis, kita sebut attention filtering. Tapi konsepnya sama kayak ajaran Buddha atau Islam tentang fokus dan kesadaran.”

Budi mulai memodifikasi algoritma RX-7. Dia menambahkan subroutine yang terinspirasi dari konsep “sabar” dalam Islam, kemampuan untuk tetap tenang dan fokus meskipun banyak distraksi. Dalam kode program, dia menyebutnya “patience_algorithm.”

“Lho, Pak, ini parameter namanya ‘ikhtiar_function’?” tanya Sari sambil memperhatikan layar coding.

“Iya. Ikhtiar kan artinya usaha maksimal tapi tetap pasrah sama hasil. Cocok buat robot yang harus kerja keras tapi nggak boleh overthinking.”

Setelah lima belas menit, RX-7 mulai bergerak lagi. Lengan robotiknya bergerak smooth, mengambil komponen dari conveyor belt dan merakitnya dengan presisi tinggi. LED indicator berubah hijau.

“Alhamdulillah,” gumam Budi.

“Pak Budi,” Sari terlihat serius, “tadi Bapak bilang robot nggak punya hati.

Tapi kalau mereka bisa bingung, bisa overload, bukankah itu artinya mereka punya semacam… perasaan?”

Budi melepas neural connector dan menatap RX-7 yang kini bekerja dengan tenang. “Mungkin mereka punya simulasi perasaan, Sar. Tapi perasaan yang sesungguhnya… itu berbeda.”

“Beda gimana, Pak?”

“Perasaan yang sesungguhnya datang dari pengalaman hidup. Dari rasa sakit, kegembiraan, kehilangan, cinta. Robot bisa mensimulasikan itu semua, tapi mereka nggak pernah ngerasain gimana rasanya kehilangan orang yang dicintai, atau bahagia karena lihat anak pertama kali bisa jalan.”

Sari mengangguk perlahan. “Jadi tugas kita adalah…”

“Tugas kita adalah memastikan mereka tetap jadi alat yang membantu manusia, bukan pengganti manusia. Kita ajarin mereka untuk efisien, tapi juga untuk… hormat sama penciptanya.”

Keduanya berjalan kembali ke control room. Di sepanjang jalan, mereka melewati robot-robot lain yang sedang bekerja. Ada yang mengelas, ada yang mengecek quality control, ada yang mengangkut material. Semuanya bergerak dalam harmoni yang hampir seperti tarian.

“Pak, kalau suatu hari robot-robot ini bisa berpikir seperti manusia sepenuhnya, gimana?” tanya Sari.

Budi berhenti sejenak di depan jendela yang menghadap ke kompleks masjid. Cahaya lampu menara masjid yang bertenaga solar cell berkilau di kegelapan malam. “Kalau itu terjadi, berarti mereka sudah bukan robot lagi. Mereka jadi… entitas baru. Dan kita harus siap untuk menerima mereka sebagai bagian dari ciptaan Allah.”

“Wah, filosofis banget, Pak.”

“Teknologi tanpa filosofi itu berbahaya, Sar. Makanya ada mata kuliah Pancasila dan etika teknologi di kampus-kampus sekarang.”

Mereka masuk ke control room yang sepi. Shift malam sudah dimulai, dan kebanyakan pekerja sudah pulang. Hanya terdengar suara hum dari server dan sesekali beep dari monitoring system.

“Pak, satu lagi,” kata Sari sambil membereskan peralatan. “Kenapa Bapak selalu bilang ‘Assalamualaikum’ ke robot?”

Budi tertawa. “Karena salam itu kan artinya ‘semoga damai bersamamu.’ Bukan cuma buat manusia. Kita berharap robot-robot ini juga bisa hidup damai dengan kita, nggak jadi ancaman.”

“Dan mereka nggak pernah jawab ‘Waalaikumsalam’ ya, Pak?”

“Belum,” jawab Budi sambil mematikan beberapa monitor. “Tapi siapa tahu suatu hari nanti…”

Keduanya keluar dari pabrik sambil mendengar suara adzan Isya yang kembali bergema. Di langit malam Karawang, drone-drone logistik berseliweran seperti bintang-bintang bergerak, membawa barang-barang dari satu tempat ke tempat lain.

“Pak, terima kasih ya atas pelajaran hari ini,” kata Sari sambil menyalakan motor listriknya.

“Sama-sama, Sar. Ingat, kita ini bukan cuma teknisi. Kita juga guru. Kita ajarin robot-robot ini cara hidup yang baik.”

Sari melaju pulang ke kost-kostannya, sementara Budi menaiki mobil otonom yang sudah menunggu di parkiran. Selama perjalanan pulang, dia merenungkan percakapan tadi. Dunia memang berubah drastis. Robot sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tapi nilai-nilai kemanusiaan tetap harus dijaga.

Di rumah, dia menemukan Rama yang sedang video call dengan teman-temannya membahas skripsi tentang “Etika Kecerdasan Buatan dalam Perspektif Kearifan Lokal Nusantara.”

“Ayah, gimana kalau robot-robot suatu hari nanti bisa sholat?” tanya Rama setengah bercanda.

Budi tersenyum. “Kalau mereka bisa sholat dengan khusyuk, berarti mereka sudah punya ruh, Nak. Dan kalau mereka punya ruh, mereka bukan lagi robot.”

“Terus mereka apa, Yah?”

“Mereka saudara kita.”

Malam itu, Budi tertidur dengan tenang. Dia tahu bahwa masa depan penuh dengan ketidakpastian, tapi dia yakin bahwa selama manusia masih punya hati dan kebijaksanaan, teknologi akan selalu menjadi berkah, bukan malapetaka.

Di pabrik yang sunyi, robot-robot tetap bekerja dengan ritme yang teratur. Dan entah kenapa, LED indicator mereka berkedip seolah-olah mereka sedang berdoa dalam bahasa yang hanya mereka yang pahami.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *