Gowok Kamasutra Jawa: Menyelami Tubuh, Tradisi, dan Luka yang Diwariskan

Menguak Tradisi Seksualitas Jawa yang Terbungkus Tabu, Dibuka Ulang Lewat Layar Lebar

Untung Sudrajad

Ketika pertama kali menyaksikan Gowok: Kamasutra Jawa, saya tidak sedang menonton film tentang seks. Saya sedang menyelami sebuah narasi yang jauh lebih dalam dari sekadar tubuh dan kenikmatan. Saya sedang diajak menengok kembali tradisi, sejarah, trauma, dan cinta yang berlapis, yang selama ini dikubur dalam diam, dalam malu, dalam moralitas yang diwariskan oleh zaman yang tak selalu berpihak pada kita. Film ini, yang disutradarai Hanung Bramantyo, bukan hanya berani, tapi juga menyentuh inti dari kegelisahan budaya kita sendiri: tentang bagaimana kita memperlakukan tubuh, bagaimana kita mewarisi luka, dan bagaimana perempuan menjadi penjaga sekaligus korban dari semua itu.

***

Di tengah derasnya arus moralisme yang dibentuk oleh sejarah pasca-kolonial dan politik identitas religius yang kerap menuding tanpa memahami, hadirnya narasi gowok adalah bentuk perlawanan paling halus tapi tajam. Ia tidak berteriak, tidak menghardik, tetapi hadir sebagai kisah yang lirih. Ratri, tokoh utama dalam film ini, bukan sekadar tokoh perempuan yang menjalankan peran turun-temurun sebagai gowok, guru seksualitas untuk calon pengantin pria, tetapi ia juga adalah lambang dari warisan budaya yang coba untuk terus bertahan di tengah zaman yang mudah menyingkirkan yang tak bisa dikategorikan.

Apa yang ditawarkan oleh film ini bukan sekadar “seks edukasi” atau kisah cinta berbalut erotisme. Ia bicara tentang luka masa lalu yang menjadi takdir. Ia menyentuh ruang paling sunyi dalam diri: tubuh sebagai arsip trauma, kenangan, dan pengetahuan. Dalam setiap adegan, bahkan dalam diam, Ratri menyampaikan banyak hal. Tentang bagaimana ia tumbuh sebagai perempuan yang tak pernah diberi pilihan, tapi juga tak mau sekadar menjadi korban. Ia mewarisi ilmu gowok bukan karena ia mau, tetapi karena ia harus. Dan dalam “keharusan” itu, ia menemukan jalannya sendiri, yang tak selalu terang, tapi juga tidak gelap sepenuhnya.

***

Gowok sendiri adalah tradisi yang nyaris punah, yang dahulu dihormati. Di masa lalu, profesi ini hadir bukan sebagai bentuk eksploitasi, melainkan bagian dari sistem pendidikan sosial yang mengakui bahwa seksualitas bukan hal yang tabu, melainkan bagian dari kebijaksanaan hidup. Leluhur kita, terutama dalam budaya Jawa, tidak menjauh dari tubuh, tapi justru menyucikannya dengan laku, simbol, dan sastra. Serat Centhini adalah bukti paling otentik dari itu. Di dalamnya, seks bukanlah dosa, tapi bagian dari spiritualitas. Menyentuh tubuh bukan sekadar soal birahi, tapi juga tentang menyentuh jiwa.

Namun, modernitas datang membawa pemisahan: tubuh dipisah dari jiwa, seks dari cinta, tradisi dari moral. Lalu semuanya menjadi salah. Segala sesuatu yang menyentuh tubuh, terutama tubuh Perempuan, dianggap najis, cabul, atau bahkan kriminal. Kita lupa bahwa tubuh punya sejarah, dan sejarah kita pernah begitu bijak dalam menyikapinya. Film Gowok seperti hendak mengingatkan itu: bahwa kita pernah punya cara yang manusiawi dalam mendidik soal cinta dan seksualitas. Bahwa ada masa ketika pendidikan seksual tak dilakukan lewat konten digital penuh fantasi kosong, tapi lewat tatapan mata, percakapan halus, dan pemahaman mendalam tentang rasa.

***

Banyak yang akan menganggap film ini kontroversial, terutama karena ia menyentuh isu-isu yang selama ini dibungkam: seks, perempuan, tubuh, dan sejarah kekerasan. Tapi justru karena itu ia penting. Sejarah perempuan dalam budaya Jawa bukan hanya kisah tentang kelembutan dan keibuan, tapi juga tentang kepemilikan atas tubuh dan kuasa atas pengetahuan. Dalam peran sebagai gowok, perempuan menjadi guru, menjadi penjaga nilai, menjadi pengarah kehidupan rumah tangga. Ironisnya, di zaman sekarang, profesi semacam itu malah dikutuk sebagai penyimpangan. Kita lupa bahwa tidak semua hal yang terdengar asing adalah salah.

Ratri, yang diperankan dengan penuh perasaan oleh Alika Jantinia, adalah perempuan yang hidup di antara dua dunia: masa lalu yang terus memanggil dan masa kini yang menuduh. Ia mencoba berdamai dengan luka masa kecilnya, dengan cinta yang dikhianati, dan dengan tubuhnya sendiri yang menjadi medium pendidikan dan pelampiasan. Dalam setiap sentuhan yang ia ajarkan, kita tahu bahwa ia sedang menyembuhkan dirinya. Keintiman yang ia bagikan bukanlah manipulasi, tetapi proses penyadaran. Ia sedang mengajar Bagas bukan hanya tentang bagaimana menyentuh tubuh perempuan, tapi bagaimana menghargainya. Dan dalam proses itu, Ratri juga sedang belajar menerima dirinya sendiri.

***

Bagas, di sisi lain, adalah representasi dari generasi muda yang tercerabut dari akar. Ia tumbuh dalam keluarga bangsawan, tapi tidak mengenal budaya sendiri. Ia diajarkan untuk sukses secara akademik, tetapi kosong dalam hal afeksi. Ia datang ke rumah Ratri dengan sinisme dan rasa ingin tahu yang keliru. Tapi lambat laun, kita melihat bagaimana ia belajar, bagaimana ia tumbuh. Relasinya dengan Ratri berkembang dari rasa ingin tahu menjadi rasa hormat, dari rasa hormat menjadi cinta, dan dari cinta menjadi luka yang juga harus diterima.

Baca juga: Review Film Shark: The Beginning dan Series Shark: The Storm

***

Hanung Bramantyo, sebagai sutradara, menyuguhkan kisah ini dengan kesadaran penuh bahwa ia sedang berjalan di jalan yang rawan. Ia tidak memilih jalan provokatif yang murahan. Ia menyusun narasi dengan hati-hati, membungkus adegan keintiman dengan simbol dan bahasa tubuh yang artistik. Bahkan dalam adegan ranjang, kita tidak melihat seks sebagai tontonan, tetapi sebagai dialog. Setiap pelukan, tatapan, dan tarikan nafas diatur untuk mengungkap makna yang lebih besar dari sekadar kenikmatan. Di tangan Hanung, tubuh menjadi teks, menjadi ruang tafsir, menjadi tempat di mana sejarah dan cinta saling berpapasan.

Visual film ini juga patut diacungi jempol. Pemilihan warna-warna alam, rumah tua dengan kayu-kayu beraroma nostalgia, air terjun tempat ritual, semua menghadirkan atmosfer yang sakral. Di sinilah tubuh dan alam bersatu, dalam keheningan yang justru bising dengan makna. Musik latar gamelan yang berpadu dengan nuansa ambient menciptakan sensasi spiritual yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Kita seperti sedang dibawa ke dunia lain, dunia yang mengakui tubuh tanpa menghakimi.

***

Namun, film ini juga punya sisi yang menggigit. Ia tidak berhenti pada cinta dan tradisi. Ada kritik sosial dan politik yang samar tapi nyata. Di balik cerita tentang gowok, ada narasi tentang penghapusan budaya lokal oleh sistem moral kolonial dan kekuasaan pasca-1965. Kita melihat bagaimana tubuh perempuan tak hanya dipertontonkan, tapi juga dikendalikan oleh sistem yang lebih besar. Ketika profesi gowok mulai dianggap menyimpang, yang hilang bukan hanya satu bentuk pekerjaan, tapi juga satu bentuk kebijaksanaan. Di sinilah film ini menjadi refleksi: bagaimana sejarah bisa mematikan yang tak bisa dikendalikan, dan bagaimana perempuan kerap menjadi korbannya.

Dialek Jawa Ngapak yang digunakan dalam beberapa adegan juga menjadi warna tersendiri. Walau tak sempurna, upaya ini patut diapresiasi sebagai bagian dari usaha mempertahankan lokalitas. Bahasa adalah pembawa rasa. Dan ketika Ratri mengajar dengan bahasa ibu, kita tahu bahwa ilmu yang ia wariskan bukan sekadar teknik, tapi juga nilai. Sayangnya, memang, pelafalan beberapa aktor terdengar janggal. Tapi ini hanya noda kecil dalam lukisan besar yang tetap memukau.

***

Akhirnya, Gowok: Kamasutra Jawa bukanlah film tentang seks. Ia adalah film tentang tubuh yang berbicara. Tentang rasa yang diwariskan. Tentang cinta yang tak selalu berujung pernikahan. Tentang perempuan yang tak ingin menjadi korban, tapi juga tak ingin menjadi pemberontak tanpa akar. Ia adalah kisah tentang kita: manusia-manusia yang tumbuh dengan tubuh yang tak pernah diajari untuk dicintai, hanya untuk disembunyikan atau dikendalikan.

Lewat film ini, kita diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita benar-benar mengenal tubuh kita sendiri? Apakah kita masih menyimpan kearifan leluhur dalam memperlakukan cinta dan kenikmatan? Atau kita hanya menjadi pengikut dari sistem moral yang lupa pada kemanusiaan?
Gowok adalah pengingat bahwa tubuh bukanlah dosa. Ia adalah ruang belajar. Dan mungkin, sudah saatnya kita membuka kembali buku lama kita, baik itu Serat Centhini maupun tubuh kita sendiri, dan membacanya dengan mata yang baru.

Referensi:

Gowok Kamasutra Jawa, Ketika Tradisi Berbicara Tentang Tubuh dan Rasa
https://semilir.co/gowok-kamasutra-jawa-ketika-tradisi-berbicara-tentang-tubuh-dan-rasa/

Gowok: Kamasutra Jawa Bukan Cuma Panduan Gaya

https://www.detik.com/pop/movie/d-7959639/gowok-kamasutra-jawa-bukan-cuma-panduan-gaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *