Opini  

Cancel Culture di Industri Hiburan Korea Selatan

Ressy Octaviani
Ilustrasi AI by DALL.E
Ilustrasi AI by DALL.E

Cancel Culture di Industri Hiburan Korea Selatan- Industri hiburan Korea Selatan yang terkenal dengan K-Pop, K-Movie, dan K-Dramanya seringkali menjadi sorotan publik dunia. Namun, di balik gemerlapnya, terdapat fenomena yang menarik untuk diikuti, sebuah fenomena yang cukup sering diperbincangkan di media sosial terutama setiap kali ada skandal baru dari pesohor. Yang saat ini sedang ramai di media sosial adalah, adanya perbedaan perlakuan dalam cancel culture idol K-Pop dan aktor Chungmuro (aktor film).

Pengertian Cancel Culture

Cancel culture sendiri merupakan fenomena di mana publik secara massal menolak atau memboikot seseorang karena tindakan yang dianggap tidak pantas dan kontroversial. Di Korea Selatan, fenomena ini sangat kuat dan berdampak besar pada karier seseorang.

Cancel culture terjadi ketika masyarakat memiliki ekspektasi tinggi terhadap seleb, tidak hanya dalam karyanya, tetapi juga perilaku pribadi. Namun, penerapannya sering kali tidak merata antara idol K-pop dan aktor film.

Idol vs Aktor : Standar yang Berbeda

Idol K-pop biasanya menghadapi pengawasan publik yang jauh lebih ketat. Mereka cenderung lebih cepat “dicancel” oleh publik jika terlibat kontroversi, bahkan untuk isu-isu kecil, baik itu skandal kencan, tindakan kekerasan, hingga masalah pribadi dan keluarga, semua itu bisa memicu reaksi negatif dari penggemar dan publik. Hal ini karena idol dianggap sebagai panutan anak muda dengan pengaruh besar di media sosial.

Berikut beberapa faktornya :

1. Ekspektasi yang Tinggi

Idol K-Pop diharapkan memiliki kehidupan pribadi yang sempurna dan bebas dari isu negatif.

2. Pengaruh Fandom yang Besar

Fandom K-Pop dikenal sangat kuat dan loyal. Mereka tidak segan-segan untuk membela idol mereka, tetapi juga tidak segan untuk memboikot idol yang dianggap telah mengecewakan.

3. Konsekuensi yang Berat

Jika seorang idol terkena cancel culture, kariernya bisa hancur dalam sekejap. Mereka bisa dikeluarkan dari agensi, kehilangan banyak penggemar, dan kesulitan untuk comeback.

Sebaliknya, Aktor film seringkali mendapat toleransi lebih. Hal ini mungkin karena mereka dianggap sebagai seniman dengan fokus utama pada karya mereka, yang umumnya membintangi film-film berkelas dan mendapatkan penghargaan bergengsi. Aktor senior Chungmuro seringkali diberikan ruang yang lebih luas untuk berekspresi karena pengaruhnya yang besar dalam memajukan industri film Korsel.

Meskipun terkadang ada juga yang menjadi sasaran cancel culture, namun kebanyakan dampaknya cenderung tidak sebesar seperti yang diterima idol K-Pop. Seorang aktor masih bisa memainkan peran dan terlibat dalam sebuah project di tengah skandalnya yang masih berjalan.

Hal tersebut berdasarkan pada beberapa faktor berikut :

1. Peran yang Lebih Kompleks

Aktor Chungmuro sering memerankan karakter yang kompleks dan memiliki banyak sisi gelap. Hal ini membuat publik lebih memahami bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.

2. Pengalaman dan Prestasi

Aktor senior Chungmuro yang memiliki banyak pengalaman dan prestasi sering mendapat perlakuan yang lebih lunak. Publik cenderung lebih mudah memaafkan kesalahan mereka.

3. Fokus pada Kualitas Akting

Publik lebih fokus pada kualitas akting dan kontribusi mereka terhadap industri film negaranya daripada kehidupan pribadi mereka.

4. Kurangnya Ketergantungan pada Medsos

Aktor senior kebanyakan tidak memiliki komunikasi langsung dengan penggemar melalui media sosial, sehingga opini negatif tidak menyebar dengan cepat.

Kasus Idol K-Pop dan Aktor

Idol K-Pop : Wonho Monsta X. Pada akhir tahun 2019, Wonho dituduh terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan memiliki utang yang belum dibayar. Tuduhan ini muncul dari seseorang yang mengaku sebagai mantan kenalan Wonho. Rumor tersebut langsung menyebar dengan cepat di medsos dan menyebabkan kehebohan di kalangan penggemar.

Menghadapi tekanan publik yang besar, Starship Entertainment, agensi yang menaungi Monsta X, memutuskan untuk mengeluarkan Wonho dari grup. Wonho sendiri juga mengeluarkan pernyataan maaf dan memutuskan untuk keluar dari grup.

Tak lama, bukti-bukti yang menunjukkan bahwa tuduhan terhadap Wonho tidak berdasar mulai bermunculan. Hasil investigasi juga menyatakan tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung tuduhan dan rumor tersebut.

Meski terbukti tidak bersalah, dampak dari skandal ini sangat besar. Wonho kehilangan kariernya sebagai anggota Monsta X dan harus memulai kembali semuanya dari awal. Namun, berkat dukungan dari penggemar setianya, Wonho berhasil debut sebagai solois dan mendapatkan kesuksesan di jalan yang baru.

Jung Woo Sung

Belakangan ini, nama aktor senior Jung Woo Sung, viral di media sosial karena terlibat skandal. Ia diketahui memiliki anak di luar pernikahan dengan seorang model, Moon Ga-bi dan tidak berniat untuk menikahinya, selain itu ia juga diketahui memiliki hubungan dengan dua wanita lain sekaligus. Di negara seperti Korsel, meskipun gaya hidupnya lebih bebas dibanding dengan Indonesia, namun isu ini masih dianggap tabu.

Meskipun demikian, reaksi publik terhadapnya tidak sekeras yang biasa diterima idol. Bahkan, Jung Woo Sung masih santai tampil di hadapan publik dalam ajang penghargaan “Blue Dragon Film Awards” sebagai pembaca nominasi, hingga respon aktor/aktris yang hadir malam itu menjadi sorotan netizen.

Kenapa Aktor Masih Bisa “Diterima”?

Sebenarnya hal ini tergantung dari siapa yang terlibat skandal, dan seberapa parah kasus yang ia lakukan. Mungkin jika dilihat sebagai contoh, berkaca dari skandal Jung Woo Sung, ia meminta maaf, mengakui kesalahan, dan berjanji akan bertanggung jawab penuh terhadap anak Moon Ga-bi, hal ini mungkin menjadi pertimbangan publik. Walaupun skandal Aktor tersebut tidak bisa dibenarkan atau dimaklumi.

Masa Depan Cancel Culture di Industri Hiburan Korsel

Perbedaan perlakuan terhadap idol K-Pop dan aktor Chungmuro dalam menghadapi “cancel culture” menunjukkan pentingnya menciptakan standar yang lebih adil dan konsisten. Mungkin, industri hiburan perlu mengembangkan mekanisme yang lebih baik untuk menangani skandal, seperti sistem mediasi atau konseling. Selain itu, penggemar juga perlu berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih positif dengan memberikan dukungan kepada idola mereka secara rasional dan bijaksana.

Referensi

STUDI BUDAYA BOIKOT (CANCEL CULTURE) DI KOREA SELATAN TAHUN 2017-2022: https://repository.unsulbar.ac.id/id/eprint/569/

Mengenal Budaya Cancel Culture di Industri Hiburan Korea Selatan, Bagaimana Dampaknya? – Beautynesia: https://www.beautynesia.id/life/mengenal-budaya-cancel-culture-di-industri-hiburan-korea-selatan-bagaimana-dampaknya/b-265350

Cancel Culture di Industri Hiburan Korea – HelloCation: https://blog.hellocation.id/cancel-culture-di-industri-hiburan-korea/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *