Budaya Makan sebagai Ekspresi Keagamaan

Putri Rizky Rahmadina
Budaya Makan sebagai Ekspresi Keagamaan
Budaya Makan sebagai Ekspresi Keagamaan (Pixabay)

Makanan telah melampaui tujuan dasar sebatas pemenuhan gizi saja. Ia juga telah menjadi bagian besar dari budaya kita, sehingga konsumsinya juga menjadi sebuah pengalaman. Agama, sebagai aspek perubahan sosial terbesar, berperan memengaruhi perspektif yang diproyeksikan terhadap makanan dan membentuk pengalaman bersantap para penganutnya. Tidak hanya itu, pengalaman ini menjadi sesuatu yang unik dari satu wilayah ke wilayah lain karena norma dan adat istiadat lokal yang berakulturasi dengan agama tertentu.

Secara umum agama dan budaya dipandang tinggi dalam kalangan masyarakat Indonesia. Akulturasi keduanya telah berkembang menjadi berbagai bentuk adat dan budaya baru. Budaya asli Indonesia mengambil bentuk-bentuk baru untuk mengekspresikan keyakinan mereka yang unik dan eksklusif. Misalnya, kita dapat melihat adanya berbagai upacara, acara (seperti Sekaten), berbagai bentuk seni dan prosa (hikayat, babad, syair, suluk), arsitektur dan lain-lain yang khusus hanya di Indonesia.

Salah satu contoh mencolok dari akulturasi budaya ini juga telah mengubah budaya dalam beberapa aspek pokok kehidupan sehari-hari dan kebutuhan dasar kita. Salah satu contohnya adalah bagaimana cara kita makan.

 

Halal dan Haram

Setiap agama memiliki tradisi makanan dan pantangan makanannya sendiri. Misalnya apa yang boleh dan tidak boleh dimakan sebagai umat beragama.

Islam memiliki aturan makanan ‘halal’ dan ‘haram’, yang memberikan petunjuk kepada orang beriman tentang apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Oleh karena itu mengapa umat Islam menghindari alkohol dan hewan-hewan tertentu untuk dimakan. Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Islam, maka mayoritas konsumsi nasional juga mengikuti pola yang sama.

Dalam agama Hindu, ada larangan mengkonsumsi daging sapi, karena sapi melambangkan makna spiritual bagi umatnya.

Menyikapi hal ini, pemerintah dan pelaku industri di Indonesia kemudian harus menyediakan produk yang dianggap halal untuk dikonsumsi umat-umat beragama. 

 

Mempengaruhi Diet

Tidak sebatas pada apa yang boleh dimakan dan tidak, agama mempengaruhi bagaimana rutinitas makanan umatnya. Misalnya, karea filosofi hidup umat Buddha yang menghindari untuk menyakiti binatang, ada beberapa umat beragama Buddha yang kemudian memilih untuk menjalani diet vegetarian. Meskipun tidak semua umat Buddha kemudian diwajibkan untuk melakukan diet in. Banyak pula umat yang mengonsumsi produk hewani. 

Di sisi lain dalam hukum Islam, kita juga mengenal kewajiban berpuasa setiap bulan dan kemudian membentuk pola makan berbeda dari yang biasanya dilakukan. Umat dibiasakan untuk bangun dini hari untuk makan, sebelum berpuasa 12 jam, kemudian baru berbuka pada petang hari (Maghrib). 

 

Makanan dalam Hari Raya

Sebagai seorang muslim, rasanya tidak lengkap kalau belum ppernah mengonsumsi kurma. Salah satu cara lain agama dalam memengaruhi konsumsi makanan, adalah dengan bagaimana acara tertentu memerlukan jenis makanan tertentu untuk menjadikannya pengalaman yang ‘lengkap’. 

Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat merayakan hari raya. Pada berbagai kesempatan seperti Natal dan Thanksgiving di Amerika, berkumpul dan menghabiskan waktu bersama adalah hal yang lumrah bagi keluarga. Dalam pertemuan tersebut, ada beberapa jenis makanan yang ideal untuk disajikan, seringkali memiliki simbolisme sejarah dan agama. Misalnya, pada hari Thanksgiving, orang-orang menjadikan kalkun sebagai hidangan utama. Pada hari Natal merupakan tradisi mengkonsumsi puding Natal buah plum,

Di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, kebiasaan ini juga banyak dilakukan oleh umat beragama. Sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar, adat istiadat yang paling mencolok di Indonesia adalah perayaan Idul Fitri, yang juga melibatkan berkumpul dan makan bersama dengan keluarga dan kerabat. Bagaimana sih, makanan yang biasanya disajikan dalam perayaan Idul Fitri?

 

Khusus Indonesia…

Ada beberapa makanan pokok yang diketahui selama pertemuan Idul Fitri yang unik di Indonesia hanya sebagai hasil dari akulturasi budaya sebelumnya. Seperti Ketupat yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 dan kini erat kaitannya dengan perayaan Lebaran. Hampir tidak mungkin kita bisa merayakan Idul Fitri tanpa Ketupat. Begitu juga dengan menu lainnya seperti es buah, rendang daging sapi, sambal goreng ati, dan opor ayam. Semua ini adalah hidangan eksklusif Indonesia. Bila lebaran di Saudi Arabia, sudah pasti lain lagi ceritanya.

Selain Ketupat, hal lain yang menarik perhatian saya adalah populernya kue-kue tertentu saat perayaan Lebaran. Setiap menjelang akhir bulan Ramadhan, kue-kue seperti nastar, kastengel, dan putri salju menjadi sangat populer, bahkan menjadi makanan pokok di bulan Ramadhan dan Idul Fitri, sehingga banyak usaha kecil yang buka pada periode ini hanya untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan kue. Sangat umum untuk melihatnya di rumah-rumah pada saat-saat ini. Sebaliknya, kue-kue ini jarang disebutkan atau dicari di kesempatan lain. Selain mempengaruhi konsumsi, permintaan terhadap pangan tertentu pada saat-saat tertentu juga berdampak langsung pada pasar.

Ini menarik bagi saya karena karena beberapa jenis makanan menjadi semakin populer untuk dikonsumsi pada waktu-waktu tertentu saja, dan sedikit banyak mereda pada hari-hari biasa lainnya.

 

Kesimpulan

Sebagai salah satu faktor perubahan sosial di Indonesia, agama juga mempengaruhi pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Akibatnya, peran makanan dalam praktik budaya dan keyakinan agama menjadi kompleks dan bervariasi antar komunitas agama.

Hal ini tidak hanya mempengaruhi pola makan masyarakat, apa yang boleh dimakan dan apa yang harus dihindari, tetapi juga mempengaruhi budaya dalam perayaan keagamaan yang memerlukan makanan tertentu, agar menjadi pengalaman yang utuh. Keyakinan ini membentuk semacam praktik sosial seputar cara kita menyajikan dan menikmati makanan yang masih kita sayangi hingga saat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *