Bisakah Kita Sebut Kedatangan Islam di Indonesia Sebagai Penjajah?

iim maya sofa
Bisakah Kita Sebut Kedatangan Islam di Indonesia Sebagai Penjajah?
Bisakah Kita Sebut Kedatangan Islam di Indonesia Sebagai Penjajah?

Kedatangan Islam di Indonesia masih menjadi perdebatan antara waktu dan tempat di mana Islam pertama kali diperkenalkan.

Namun saya tidak ingin membahas hal yang mudah anda ketahui dari berbagai sumber di internet maupun pada buku bacaan.

Pada opini kali ini, saya ingin memberikan sebuah fakta yang menarik untuk sama-sama kita tahu dan kita renungkan.

***

Kita semua tahu bahwa kedatangan Islam di Indonesia, pada umumnya diketahui melalui perdagangan, pernikahan, pendidikan dan interaksi antar manusia lainnya.

Sebagai masyarakat Islam di Indonesia, tentu saya sangat penasaran terkait bagaimana Islam bisa berkembang pesat di Indonesia, hingga saat ini menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di Dunia.

Rekor ini bahkan mengalahkan negara asal agama Islam itu sendiri, yaitu Arab Saudi atau negara-negara timur tengah lainnya.

***

Dari buku sejarah yang saya baca akhir-akhir ini yaitu buku yang berjudul Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 karya Dr.Karel A.Steenbrink.

Berisikan tentang fakta para pemimpin dan penguasa Kerajaan Islam di Indonesia yang telah mencampurkan agama dengan politik kekuasaan demi mendapatkan tahta dan kehormatan.

Misalnya seperti Kerajaan Mataram, yaitu kerajaan Islam di Indonesia yang sempat menduduki masa kejayaannya dari abad ke-9 hingga abad ke-10.

***

Pada masa kekuasaan Sunan Amangkurat I dituliskan dalam buku tersebut bahwa beliau dikenal sebagai Raja yang kejam dan tak pandang bulu kepada siapa pun yang berusaha menghalangi usaha beliau.

Demi mempertahankan dan memperluas wilayah kekuasaannya, Sunan Amangkurat I tak segan menghabisi para petinggi dan pejabat kerajaan hingga pada pemimpin agama pada masa itu.

Dari kasus ini, saya menyimpulkan bahwa untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaannya raja Islam masa itu, beliau membunuh dan menghabisi para ulama bahkah keluarga yang ditinggalkan. Tidak peduli laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua dan semua yang bersangkutan dengan sasaran pembunuhan.

***

Jika kita lihat pada sejarah perjuangan jihad rasullullah dan para sahabat, memang benar terjadi beberapa kali peperangan besar yang menyebabkan banyaknya korban jiwa.

Tapi, pada masa itu rasul dan sahabat tidak melawan umat Islam atau kaum mukmin itu sendiri demi mendapatkan kekuasaan atau sekedar memperluas wilayah kekuasaannya.

Hemat saya, fakta ini mengubah cara pandang saya terhadap kedatangan Islam yang dianggap Rahmatalilalamin.

Memang, ini jauh dari masa masuknya Islam di Indonesia, dan kita semua tahu bahwa Islam masuk dengan cara yang damai.

Akan tetapi, fakta sejarah ini tidak bisa kita tolak bahwa ada pemimpin kerajaan Islam yang memiliki riwayat burukΒ  yang jarang orang tahu.

Sederhananya, bisa dikatakan hal tersebut sebagai bentuk improvisasi agama kepada hal-hal yang di luar kepentingan agama. Seperti kekuasaan dan politik.

***

Seperti misalnya haus kekuasaan, membunuh saudara seiman, dan hal-hal buruk lainnya yang memang itu semua melanggar prinsip Islam itu sendiri.

Karena Islam harus disebarkan melalui cara-cara damai dan interaksi yang harmonis, seharusnya tidak ada hal-hal yang berbau penjajahan yang identik dengan kekerasan dan pemaksaan.

Meski perbedaan masa yang cukup jauh antara masa kedatangan dengan masa kejayaan kerajaan Islam di Indonesia, namun nyatanya terdapat bibit-bibit penjajahan terhadap kaum dan negaranya sendiri oleh pemimpinnya sendiri.

Seharusnya penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia lebih banyak melibatkan dakwah, pendidikan, dan perdagangan yang membawa ajaran agama dengan damai.

***

Jika dalam konteks perkembangannya, Islam seharusnya tetap memiliki prinsip kedamaian dan tidak ada sebuah ajaran yang mengharuskan membunuh saudara seiman hanya untuk wilayah kekuasaan.

Meskipun dalam perjalanannya kita mendapati ketidakmanusiaan yang terjadi pada masa kejayaan Kerajaan Islam, Mataram salah satunya, Islam tetaplah agama yang damai terlepas dari siapa yang menjalankannya.

Kesimpulan

Dalam sejarahnya, terdapat fase di mana pemimpin Kerajaan Islam, seperti Sunan Amangkurat I dari Kerajaan Mataram, mencampurkan agama dengan politik kekuasaan secara kejam.

Nah, hal tersebut jelas sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang damai.

Meskipun demikian, penyebarannya dikenal damai dan harmonis, melalui dakwah, pendidikan, dan perdagangan.

Peristiwa-peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh pemimpin tertentu tidak mengubah fakta bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang mengajarkan kedamaian.

Perlu diingat bahwa kekuasaan yang diperoleh melalui kekerasan bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya, dan sejarah kekejaman ini merupakan pengecualian, bukan representasi dari agama Islam itu sendiri.

Itulah opini terkait kedatangan Islam di Indonesia yang mengusung sebuah fakta di dalamnya. Sekian dan sampai jumpa di opini selanjutnya di Suara Kreatif!

Sumber Artikel: Buku yang berjudul Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 karya Dr.Karel A.Steenbrink

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *