Awan dan Rinai Hujan – Rinai memandang Awan yang mulai mengubah uap air menjadi titik-titik air hujan. Kondensasi yang terjadi dalam tubuhnya selalu membuat wajah Rinai cemberut. Dia tak suka melihat warna gelap Awan, jika sudah begitu bukan hanya Rinai yang resah. Semua orang yang tidak ingin merasakan dinginnya presipitasi yang ditumpahkan Awan, akan menghindari atau mencari perlindungan.
Suara-suara sumbang juga mulai terdengar. Cacian dan makian mulai terdengar seiring pekatnya warna hitam Awan. Hingga akhirnya titik air akan keluar dari tubuh yang mulai tak kuat menahan beban. Rinai penasaran dengan perasaan Awan saat sebagian orang mencaci dan memakinya bahkan membentaknya.
“Hei…! Jangan tumpahkan airmu sekarang, nanti saja jika aku sudah sampai rumah!”
“Pergilah jauh-jauh jangan turunkan di sini!”
Banyak lagi umpatan yang terdengar saat Awan sudah semakin menghitam dan mulai mengeluarkan Rinai yang semakin lama menjadi hujan. Rinai yang akan memulai perjalanan panjangnya pasti merasa senang, karena dia akan menemukan banyak peristiwa yang membuat hatinya gembira. Namun terkadang diapun sedih melihat kegagalan infiltrasi yang mengakibatkan genangan yang jika membesar akan menyebabkan banjir.
Sebelum Rinai meninggalkan Awan seorang diri, dia memberanikan diri bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. “Awan, apakah kamu tak pernah menyesal menjadi dirimu sendiri?” tanya Rinai sambil menatapnya. Awan hanya tersenyum dan balas menatap lembut Rinai. “Aku senang melihat mereka semua, umpatan yang kudengar adalah lagu terindah yang diperuntukkan bagiku,” jawab Awan sambil tertawa.
“Mengapa?” tanya Rinai bingung. “Karena jika aku mulai mengeluarkan dihidrogen monoksida lebih banyak di daerah tandus, maka mereka yang mengucapkan terima kasih jauh lebih banyak dari pada yang memakiku,” jawabnya sambil tersenyum.
“Aku tahu kamu juga bahagia saat melihat kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah yang tanpa dosa berlarian dengan canda tawanya,” ucap Awan yang membuat Rinai tersipu.
“Sama denganmu, hal itulah pencapaian terbesarku. Juga saat petani yang bersujud sesaat setelah Rinai mu berubah menjadi hujan,” jelasnya melanjutkan. Rinai tersenyum mengingat kembali saat dia disambut dengan tarian yang membuatnya bangga.
Tak lama Rinai pamit, karena perjalanan panjangnya akan dimulai seiring terjadinya siklus kehidupan. Awan hanya bisa berdoa suatu hari nanti mereka akan ditemukan kembali. Karena ada satu rahasia yang ingin diungkapkan Awan pada Rinai.
***
Saat ini Awan begitu menderita. Setelah menunggu hampir enam bulan, mentari belum bisa membuat evaporasi dan transpirasi yang maksimal. Hal ini dikarenakan pancaran cahaya yang diberikan pada permukaan bumi tidak cukup panas. “Rinai kenapa aku kangen sekali,” batin Awan berbisik.
Apakah karena dia menyimpan sebuah rahasia sehingga dirasakannya waktu berlalu begitu lambat? Padahal enam bulan belum juga berlalu, terkadang mentari yang bersinar begitu terik juga tak bisa mengubah goresan yang telah ditetapkan Yang Maha Pencipta, saat kemarau tiba.
Rinai hujan yang seharusnya sudah mulai membasahi bumi berganti dengan retakan tanah yang memanjang, dedaunan yang meranggas, dan hutan yang mulai gersang. Jika sudah begini waktuku untuk bertemu dengan Rinai pasti akan bertambah lama.
Dipanjatkannya doa seraya mengaminkan doa petani yang mulai gelisah. Waktu tanam seharusnya sudah tiba, namun Awan masih enggan mengubah warnanya. Setiap hari dilihatnya wajah memelas menengadah meminta Rinai kembali, sama seperti dirinya “Rinai, di mana kamu sekarang?” tanya Awan membatin.
Awan tak menyadari jika proses kondensasi sudah terjadi saat dia terfokus pada kehadiran Rinai, hingga suara menyapa yang dirindukannya terdengar mengejeknya. “Awan, begitu besarnya rindumu padaku sehingga tak menyadari kehadiranku di sini,” ucap Rinai sambil tersenyum.
Wajah Awan terkejut dan bertanya, “Sejak kapan kamu di sini?” Rinai hanya tersenyum seraya mengikuti tatap mata Awan yang melihat wajah penuh harap. Mereka kini menatap wajah para petani di ladang dan sawah, Awan mulai berusaha menggagahkan tubuhnya. Dia tahu petani sangat mengharapkan dirinya memberikan kehidupan baru.
“Awan bisakah kau percepat harapan mereka untuk memulai menghijaukan tanah tandus?” tanya Rinai penuh harap.
“Tidak! Aku ingin mengatakan rahasiaku Rinai,” tolak Awan penuh harap. “Tapi aku tak bisa melihat kepedihan di mata mereka,” pinta Rinai pada Awan memohon.
Awan tak bergeming mendengar permohonan Rinai. Dia tak ingin mengecewakan Rinai, tapi jika dia mengabulkannya itu berarti dia akan menunggu hingga siklus air kembali terjadi. “Rinai aku tak ingin membuat kecewa orang yang ku sayangi, tapi berjanjilah untuk kembali,” ucap Awan pelan.
“Hore Rinai turun, terima kasih Awan. Kami bisa menanam kini!”
“Terima kasih Awan, sumur kami kembali terisi!”
“Awan sampaikan terima kasih kami pada Tuhan!”
Awan melepas kepergian Rinai yang kesekian kalinya. Rahasia yang ingin disampaikannya kembali dipendamnya. Saat Rinai kembali nanti dia berharap sudah memiliki keberanian yang lebih untuk mengatakan, “Sebenarnya aku sudah lelah menjadi Awan.”
***
“Hujan, pulanglah Nak. Awan mulai menghitam sebentar lagi pasti akan menumpahkan airnya. Kamu tidak mau kebasahan bukan?” tanya bunda pada Hujan yang menatap kosong sebuah ladang tandus di hadapannya.
“Bunda pulang saja, aku masih akan belajar mengenai siklus air. Ayah memarahiku karena aku belum bisa menjelaskannya kemarin,” ucap Hujan tetap menatap ke depan.
Gambar Awan yang dibuatnya beserta Rinai hujan akan membantunya saat menjelaskan pada ayah nanti. Ditatapnya kembali gambar pohon yang tersenyum Karena Rinai hujan sudah memberi kehidupan.
Danau berwarna biru yang di gambarnya menandakan jika air menghampar di sana. Juga mentari yang malu-malu dibalik Awan. Jika sudah begini Rinai sepertinya akan cepat kembali.
Hujan menengadah kembali ke atas langit. Semakin kelam, semakin dipercepat penulisan proses yang terjadi pada gambarnya. Evaporasi dan transpirasi, Kondensasi, Presipitasi, Infiltrasi, dan kembali ke bagian awal.
Awan yang memperhatikan Hujan tersenyum, jadi selama ini apa yang dilakukannya menjadi pengetahuan bagi manusia. Awan tersenyum bahagia.
Cacian dan makian yang didengarnya sebenarnya membuatnya sakit hati. Namun melihat gambar yang dibuat Hujan disadarinya jika mereka sudah memiliki takdir masing-masing.
“Awan, rahasia apa yang ingin disampaikan kepadaku, aku sudah siap mendengarnya,” ucap Rinai yang kali ini cepat kembali.
Awan tersenyum dan mengucapkan dengan yakin, “Aku sangat bangga menjadi Awan. Apalagi kamu yang selalu menemaniku Rinai.” Rinai yang mendengarnya tersenyum, namun dia langsung pamit untuk meninggalkannya kembali untuk sementara.
“Rinai sampaikan salamku pada Hujan, ucapkan terima kasih telah membuka mataku!” teriak Awan pada Rinai yang mulai meninggalkan Awan dengan senyum lebarnya.
Hujan yang mendengar datangnya Rinai berlari pulang ke rumah. Dia tak ingin gambar yang sudah dibuatnya basah. Saat Rinai sudah membasahi bumi, Hujan kembali bersama teman-temannya, bermain dengan Rinai hujan. Awan senang dan tersenyum hingga mentari yang berada di balik tubuhnya memberikan kehangatan untuk hatinya.
Oleh: Oase_biru




