Mengapa Imlek Selalu Identik dengan Hujan? Imlek atau yang biasa kita sebut dengan Tahun Baru Cina, adalah sebuah perayaan terbesar bagi komunitas Tionghoa seluruh dunia. Banyak tradisi yang melekat dengan Imlek. Memasang lampion warna merah di rumah hingga pertokoan, membagikan angpao, dan menghidangkan makanan khas Imlek. Tapi, ada satu fenomena yang sampai saat ini masih sering dihubungkan dengan Imlek, yaitu “hujan”. Ya, pasti kalian sudah biasa mendengar ucapan “Mau Imlek jadinya hujan terus nih..” ini seolah hujan menjadi bagian dari tradisi Imlek.
Jadi, Imlek dan hujan sebenarnya memang ada kaitannya atau hanya sebuah kebetulan dan mitos saja?
Mari kita simak, penjelasannya dari berbagai sisi..
Baca juga: Mari Bersiap, Hujan Akan Turun Dalam Waktu Dekat!
Fenomena Alam
Hujan yang biasa turun di hari-hari menjelang hingga masuk Imlek sebenarnya memang bisa dijelaskan secara ilmiah. Imlek, biasanya jatuh di sekitar akhir bulan Januari atau pertengahan bulan Februari. Di mana waktu tersebut adalah periode puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingginya curah hujan di awal tahun itu dipengaruhi oleh Angin Monsun Asia. Banyak uap air yang dibawa oleh angin tersebut, yang berasal dari perairan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. Kondisi itu menyebabkan curah hujan tinggi, di beberapa wilayah tropis Asia tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia. (BMKG, 2025)
Penjelasan ini juga diperkuat oleh sebuah riset dari Prof. James Kinter, yang ada di Climate Dynamics Journal (2022). Dia menyebut, bahwa pola cuaca Angin Monsun itu stabil dan bisa dengan mudah diprediksi. Nah, jadi turun hujan saat mau memasuki Imlek itu bukan karena mitos atau kebetulan, tapi memang bagian dari iklim tahunan.
Hujan dalam Budaya Tionghoa
Dalam budaya Tionghoa yang sudah mendarah daging dengan kehidupan masyarakatnya, hujan yang turun saat Imlek punya makna dan filosofi yang baik. Hujan sering dianggap sebagai sebuah keberuntungan dan simbol kesuburan yang akan terjadi di sepanjang tahun. Hujan ini juga sering disebut sebagai sarana “pembersihan” bumi dari energi buruk yang ada di tahun lalu, juga membawa keberkahan untuk tahun yang baru. (RRI, 2025)
Imlek dikatakan menjadi simbol kesuburan, karena di masa lalu, kebanyakan masyarakat Tionghoa itu bekerja sebagai petani. Hujan yang turun saat Imlek sering kali berbarengan dengan musim panen. Jadi, setiap kali turun hujan, mereka menganggap bahwa itu adalah hal yang harus disyukuri, karena akan membuat hasil panen mereka melimpah. (Detik.com, 2024)
Hujan dalam Legenda
Legenda yang sering diceritakan dalam masyarakat Tionghoa turut memperkuat kepercayaan tentang hujan saat Imlek. Ada kisah yang menyebutkan bahwa hujan adalah “berkah dari langit” yang diberikan dewa, karena menerima doa umat manusia selama perayaan.
Para dewa sering digambarkan sebagai penjaga keseimbangan alam. Jika mereka merasa puas dengan ibadah umat manusia (Tionghoa) selama tahun baru, maka hujan akan diturunkan sebagai jawaban. Hujan inilah dianggap sebagai tanda tahun tersebut akan dipenuhi berkah dan rezeki.
Kisah-kisah tersebut sudah diwariskan dan sering diceritakan secara turun-temurun, sehingga makna hujan adalah pertanda baik sudah melekat dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. (Kompas, 2023)
Pengaruh Hujan dalam Tradisi Tahun Baru Cina
Hujan, meskipun sering dianggap membawa berkah saat Imlek , tapi kondisi ini juga berpengaruh terhadap beberapa perayaannya. Salah satu tradisi yang paling terdampak, adalah pertunjukan barongsai dan liong yang seringkali dilakukan di luar ruangan. Di Surya Kencana, Bogor, misalnya, salah satu perayaan yang lumayan sering penulis ikuti adalah “Cap Go Meh”. Sebuah perayaan puncak yang ada di setiap akhir rangkaian tradisi Imlek, ini seperti “pesta rakyat” yang dilakukan di sepanjang jalan sekitar kawasan yang sering disebut sebagai Chinatown di daerah tersebut.
Tidak hanya masyarakat Tionghoa yang ikut berpatisipasi, tapi juga dari masyarakat umum berbagai latar belakang tumpah-ruah ikut menyaksikan. Pada saat pawai, seringkali diiringi hujan deras, ada beberapa perayaan yang tertunda. Namun, masyarakat Tionghoa selalu menemukan cara untuk beradaptasi, sebagian besar acara Tahun Baru Cina kini dilengkapi dengan tenda atau diadakan di tempat tertutup. Tapi ada juga yang sebagian besar tetap melanjutkan tradisi pawai tanpa peduli dengan hujan deras, mungkin orang awam yang menyaksikan dapat menganggapnya “seru”.
Kesimpulan
Imlek yang sering dikaitkan dengan hujan adalah contoh bagaimana fenomena alam dapat dimaknai secara luas oleh manusia. Dari sisi ilmiah, hujan saat Imlek dapat dijelaskan dan diprediksi melalui Monsun Asia. Dari sisi budaya, hujan dilihat sebagai simbol keberkahan dan kesuburan. Sementara itu, dari segi mitos dan legenda, makna hujan diperkuat sebagai bagian dari tradisi spiritual.
Fenomena ini memperlihatkan betapa kayanya tradisi Tahun Baru Cina dalam memadukan kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Jadi, hujan saat Imlek bukan hanya kebetulan atau fenomena cuaca biasa. Tapi, juga bagian dari narasi budaya yang mengajarkan harmoni manusia dan kebersamaannya dengan alam.
Sumber Referensi
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2023/01/16/183000065/mengapa-saat-imlek-selalu-turun-hujan-ini-penjelasan-bmkg

