LION’S DEN: BANGKITNYA SINGA MUDA PALESTINA – Perlawanan atas pendudukan Israel atas Tanah Palestina telah dilakukan sejak awal penjajahan dimulai. Beberapa kelompok perlawanan bangkit untuk memerangi tindakan agresor Israel di Tanah Palestina, mulai PLO, Fatah, Hamas dengan kekuatan Brigade Izzuddin Al-Qassam yang menguasai Kota Gaza, Brigade Jenin yang menguasai Kota Jenin, dan kini bangkit kekuatan perlawanan baru yang menyebut diri mereka sebagai Kelompok Sarang Singa (Arin al-Usud atau The Lion’s Den) yang berpusat di Kota Nablus Palestina.
Baca juga: Problem Kemanusiaan Palestina: Masih Adakah Hukum Internasional?
***
Para anggota Kelompok Perlawanan Sarang Singa (The Lion’s Den) ini adalah para anak muda yang masih berusia belasan tahun. Umumnya kekuatan perlawanan bersenjata Palestina berafiliasi dengan partai politik yang ada di Palestina, seperti HAMAS, Fatah, PLO, ataupun berafiliasi dengan pihak Otoritas Palestina. Kemunculan Kelompok Perlawanan Sarang Singa ini tidak berafiliasi dengan organisasi tradisional yang telah ada di Palestina selama ini. Kelompok ini lahir dari keresahan anak-anak muda Palestina yang melihat lambatnya para pemimpin otoritas Palestina mengatasi problem penindasan dan kekejaman tentara Israel terhadap para pemuda dan warga sipil Palestina (https://www.republika.id/posts/42751/kebangkitan-singa-singa-muda-palestina).
***
Kelompok Sarang Singa (Lion’s Den) ini mulai muncul ke publik internasional ketika salah satu pemimpin mereka tewas di tangan tentara penjajahan Israel. Ibrahim al-Nablusy, 19 tahun, tewas ditembak tentara Israel. Sejak saat itu kemunculan para pemuda perlawanan yang menamakan dirinya kelompok Sarang Singa ini mulai dikenal publik (https://dunia.tempo.co/read/1650101/mengenal-sarang-singa-kelompok-militan-palestina-penantang-militer-israel).
***
Awal pembentukan Kelompok Perlawanan Sarang Singa ini berasal dari Batalion Nablus pada Bulan Pebruari 2022, dimana saat itu anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang personel. Menurut Dana al-Kurd kemunculan Kelompok perlawanan independen seperti Kelopok Sarang Singa ini adalah karena semankin agresifnya pembangunan pemukiman illegal penduduk Yahudi Israel di Palestina, meningkatnya represi pihak Israel terhadap pemukim Palestina, serta melemahnya respons masyarakat internasional terhadap penderitaan warga Palestina membangkitkan munculnya kelompok perlawanan Palestina semacam ini. Menurut jejak pendapat yang dilakukan pada bulan Desember 2022 oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Survey Palestina menunjukkan bahwa lebih dari 70% masyarakat yang tinggal di kawasan Jalur Gaza dan Tepi Barat mendukung kehadiran kelompok perlawanan independen Palestina seperti Kelompok Perlawanan Sarang Singa (The Lion’s Den) ini. Kini diperkirakan anggota Kelompok Perlawanan sarang Singa ini telah mencapai 130.000 (seratus tiga puluh ribu) pengikut (https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn3433z984zo).
***
Perlawanan yang telah dilakukan oleh organisasi tradisional yang telah ada sebelumnya seperti PLO, Fatah, bahkan HAMAS, di mata para Pemuda Palestina ini dirasakan tidak mampu mendorong terciptanya perubahan yang siginifikan bagi kemerdekaan Palestina atas penjajahan Israel. Para pemuda dengan jiwa juangnya ini melihat bahwa Pemerintah Otoritas Palestina masih terlalu tundul pada kekuatan-kekuatan internasional yang cenderung mendukung penjajahan Israel. Para pemuda ini mencoba untuk keluar dari relasi organisasi tradisional yang ada untuk membentuk jaringannya sendiri guna mempercepat proses terciptanya Palestina Merdeka.
***
Tindakan keras yang dilakukan oleh aparat tentara pendudukan Israel terhadap warga sipil Palestina khususnya yang terjadi di Kota Jenin dan Nablus telah mendorong semakin kuatnya dukungan serta pertumbuhan kelompok-kelompok perlawanan Palestina yang bersifat independen, mandiri dan tidak terikat bahkan menolak berhubungan dengan kekuasan politik Pemerintahan Otoritas Palestina. Walaupun anggota Kelompok Perlawanan Sarang Singa ini merupakan kelompok individu, tetapi banyak dari anggotanya yang pernah terlibat dengan kelompok perlawanan lainnya sebelumnya, seperti HAMAS, Jihad Islam, dan lainnya (https://www.aljazeera.com/news/2022/10/26/who-are-the-lions-den-armed-group-in-occupied-west-bank-explainer).
***
Munculnya kelompok perlawanan non-afiliasi menunjukkan adanya ketidakpuasan atas eksistensi kelompok-kelompok perlawanan yang ada selama ini seprti HAMAS dan Jihad Islam oleh sebagian besar pemuda Palestina. Golongan tua yang mendominasi HAMAS dan Jihad Islam yang dianggap lambat dalam mengambil kebijakan direspons oleh para pemuda Palestina dengan mendirikan kelompok perlawanannya sendiri. Para pemuda dengan semangat muda dan penuh kemarahan atas lambatnya perlawanan Palestina khususnya Pemerintahan Otoritas Palestina yang terlalu didoktrin dan dikendalikan oleh Uni Eropa.
***
Munculnya gerakan perlawanan Sarang Singa (The Lion’s Dean) oleh Pemuda Palestina ini juga membuat pemerintah Otoritas Palestina kewalahan. Bagi pemerintah Otoritas Palestina kehadiran kelompok perlawanan independen ini diluar jangkauan pemerintah. Pemerintah Otoritas Palestina tidak dapat menjalin koordinasi dengan kelompok ini. Aparat pemerintah berupaya untuk mengajak para pemuda Sarang Singa ini menjadi bagian dari keamanan Otoritas Palestina. Bahkan pemerintah Otoritas Palestina berupaya untuk membeli persenjataan yang dimiliki oleh para pemuda Sarang Singa ini. Pada sisi lain para pemuda Kelompok Sarang Singa ini selalu menolak bekerjasama dengan pemerintah Otoritas Palestina, dan yang cukup mengagetkan bahwa kelompok ini mampu memperluas wilayah perlawanan mereka hingga mencapai Jenin, Hebron, dan kota-kota lainnya di Kawasan Tepi Barat (https://jordantimes.com/opinion/ramzy-baroud/lions%E2%80%99-den-not-fleeting-phenomenon-palestines-looming-armed-revolt).
***
Tidak mudah bagi golongan tua Palestina yang telah duduk manis di kursi pemerintahan Otoritas Palestina untuk membujuk golongan mudanya mengikuti arus kebijakan pemerintahan Palestina. Golongan tua dianggap telah menikmati kekuasaan sebagai penguasa Otoritas Palestina. Presiden Palestina Mahmoud Abbas cukup kesulitan untuk membendung perlawanan para anak muda Sarang Singa (The Lion’s Den) yang dianggap akan mengacaukan hubungan bilateral antara Pemerintah Otoritas Palestina dengan Israel, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Berbagai upaya dijalankan, tetapi belum mendapatkan hasil yang memuaskan bagi pemerintahan Otoritas Palestina.
***
Perlawanan Kelompok Sarang Singa terhadap Pendudukan Israel ini segera direspons oleh Israel dengan meluncurkan Operasi Membelah Ombak (Operation Break The Wave) dengan tujuan menekan perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok Sarang Singa (The Lion’s Den) ini. Untuk melumpuhkan perlawanan Kelompok Sarang Singa ini (The Lion’s Den) Pemerintah Israel kemudian melakukan pembunuhan terhadap 10 warga sipil Palestina dan mengusir sekitar 3000 (tiga ribu) orang untuk meninggalkan rumah mereka, serta menghancurkan bangunan infrastruktur milik warga Palestina. Sejak awal 2023 telah membunuh sekitar 200 warga sipil Palestina serta menahan lebih dari 3600 penduduk sipil Palestina (https://www.newarab.com/news/israeli-forces-arrest-leader-palestinian-lions-den-group). Tetapi hal lain telah diungkap oleh para tokoh pejuang Lion’s Den dalam harian Palestine Chronicle dijelaskan bahwa operasi perlawanan untuk melumpuhkan target telah gagal dilakukan oleh tentara Israel. Bahkan lebih jauh dijelaskan pula tentara pendudukan zionis Israel justru menggelar operasi penyelamatan anggota tentara zionis yang babak belur menghadapi perlawanan kelompok Sarang Singa (The Lion’s Den) ini (https://www.palestinechronicle.com/the-lions-den-offers-details-of-what-has-actually-transpired-in-nablus/).
***
Respons keras yang dilakukan oleh Pemerintah zionis Israel ini justru akan semakin memperkuat semangat juang dan perlawanan dari Kelompok Sarang Singa (The Lion’s Den) ini. Pertumbuhan jumlah anggota Sarang Singa semakin bertambah besar dan menjangkau banyak kota lainnya di liar Neblus. Para pejuang singa muda Palestina ini semakin menggemakan perjuangan di kalangan anak muda Palestina untuk bergabung di dalamnya. Para pemuda ini tidak mudah untuk ditundukkan walau para pendiri mereka sendiri telah tewas di tangan tentara zionis. Perlawanan kelompok ini semakin menyulitkan tentara zionis guna menguasai Kota Tua Neblus.
***
Banyak pihak mempertanyakan bagaimana Kelompok Sarang Singa ini mampu membiayai operasional gerakannya. Fakta menunjukkan bahwa pembiayaan organisasi Sarang Singa ini didukung oleh HAMAS dan Jihad Islam, serta Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP). Munculnya perlawanan baru yang tidak terikat dengan Otoritas Palestina ini akan terus tumbuh di tanah Palestina, setidaknya disebabkan oleh dua hal utama, yaitu: pertama: agresi dan tindakan represif zionis yang semakin meningkat eskalasinya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kedua, Otoritas Palestina kini semakin tidak mendapat dukungan politik dari warga Palestina, dan ketidakpercayaan publik ini yang coba diisi oleh gerakan perlawanan kaum muda yang tidak ingin terikat dengan Otoritas Palestina (https://www.salam-online.com/2022/11/brigade-jenin-dan-lions-den-wajah-perjuangan-baru-palestina.html).
Penutup
Perlawanan rakyat Palestina terus berlanjut melalui munculnya gerakan-gerakan independen yang tidak terikat Pemerintah Otoritas Palestina (PA). Perjuangan ini telah berkembang dari era PLO ke HAMAS dengan sayap militernya Izzudin al-Qassam, serta Jihad Islam. Brigade Jenin kemudian muncul, diikuti oleh Kelompok Sarang Singa (The Lion’s Den) pada tahun 2020 untuk melawan kekejaman Zionis Israel. Kemunculan kelompok-kelompok baru ini diprediksi akan terus berlanjut, semakin memperkuat upaya mewujudkan Negara Palestina Merdeka.