Opini  

Apakah Rehabilitasi Bisa Bebaskan Pecandu dari Narkoba?

Jika memakai narkoba sedikit saja sudah begitu menyenangkan, apalagi jika memakai lebih banyak, pasti lebih enak

Ressy Octaviani
ilustrasi Pecandu Narkoba (foto: freepik.com)
ilustrasi Pecandu Narkoba (foto: freepik.com)

Apakah Rehabilitasi Bisa Bebaskan Pecandu dari Narkoba? Sepanjang tahun 2023 ini kita sering mendengar dan menjumpai informasi di berbagai media mengenai beberapa artis yang terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Bahkan ada beberapa dari mereka yang ditangkap untuk kesekian kalinya dengan kasus yang sama.

Sebut saja Ammar Zoni pada tanggal 07 Juli 2017 Ia ditangkap untuk pertama kalinya di kediamannya di Depok, Jawa Barat karena kepemilikan ganja kering seberat 39,1 gram dengan alasan untuk merelaksasikan dirinya ditengah kesibukan sebagai public figure. 

Pada tanggal 8 Maret 2023, Ammar Zoni ditangkap untuk kedua kalinya di Sentul, Bogor karena mengonsumsi narkoba jenis sabu seberat 1 gram. Ia menghirup udara bebas pada tanggal 27 Oktober 2023. Selang dua bulan setelah kebebasannya pada 12 Desember 2023 lalu, Ia ditangkap untuk ketiga kalinya atas kepemilikan ganja dan sabu. 

Pada kasus Ammar Zoni tentu banyak sekali pertanyaan, sesulit itukah lepas dari adiksi ketergantungan narkoba? Apakah penjara adalah solusi? 

Lalu, Efektifkah rehabilitasi bagi pecandu untuk lepas sepenuhnya dari adiksi? Dalam artikel ini akan dibahas dan mungkin sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertama kita perlu mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara Penyalahguna Narkoba, dan Pecandu Narkoba.

Penyalahguna Narkoba

Seseorang yang menyalahgunakan narkoba dan alkohol menghadapi masalah langsung yang berkaitan dengan kedua zat tersebut dalam kehidupannya. Meskipun menyadari dampak negatif narkoba dan alkohol serta konsekuensinya, mereka tetap memilih untuk menyalahgunakannya tanpa mempertimbangkan risikonya.

Para penyalahguna sering kali berjanji untuk berhenti dan mengontrol penggunaan narkoba. Namun, meskipun mencoba bertahan selama sehari, seminggu, atau dua bulan, mereka akhirnya kembali ke kebiasaan lamanya.

Dalam hal ini, seorang penyalahguna menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa narkoba, sampai akhirnya melaju menjadi seorang Pecandu.

Baca juga: Es Krim dari Plastik: Manusia Jadi Tempat Sampah Terakhir

Pecandu Narkoba

Sebelum adanya kata Pecandu, maka harus ada kondisi dimana seseorang memiliki suatu hasrat atau obsesi secara mental dan emosional yang digabungkan dengan hasrat secara fisik pada sesuatu, inilah dinamakan adiksi (kecanduan). 

Proses seseorang dari pengguna awal, menjadi penyalahguna, hingga menjadi pecandu narkoba sangatlah cepat. 

Hal ini tergantung dari dimulainya proses seseorang dalam menggunakan barang haram tersebut. Awal seseorang memakai, menyukai efek yang ditimbulkannya dan mulai terbiasa dengan suasana tersebut, sampai mereka bergerak maju ke arah Penyalahgunaan dalam waktu kurang lebih satu bulan sejak awal penggunaan.

Kecanduan (Adiksi)

Berapa lama waktu yang diperlukan seseorang untuk menjadi pecandu?

Berdasarkan Penelitian kerjasama antara Yayasan Harapan Permata Hati Kita bersama Ford Foundation dan UNICEF. Bagi anak muda yang menggunakan narkoba keras seperti putau dan sabu dibutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga setahun untuk menjadi Pecandu.

Apa yang menyebabkan Kecanduan

Pemakaian narkoba yang berlebihan, untuk waktu yang cukup lama dapat menyebabkan ketergantungan. Ketergantungan adalah adiksi (kecanduan). 

Dan jenis obat-obatan yang mengandung zat adiktif dan mudah menyebabkan kecanduan adalah Putau dan Sabu. Keduanya pun mematikan. 

Maka dari itu, dalam kasusnya Ammar Zoni dalam penangkapannya sering kali ditemukan alat bukti sabu yang merupakan salah satu obat yang mengandung zat adiktif, tidak heran jika dirinya sulit lepas dari jeratan obat terlarang itu.

Kecanduan bersifat progresif, dimana prosesnya dapat berkembang menjadi lebih parah seiring berjalannya waktu. Kehidupan seorang Pecandu akan menjadi lebih buruk dari hari ke hari, apalagi jika keinginannya untuk menggunakan barang haram tersebut tidak terpenuhi. Pecandu akan merasa gelisah, paranoid dan menderita.

Penjara bukan solusi

Mungkin banyak dari kita orang awam yang masih menganggap bahwa seseorang yang kedapatan memiliki dan memakai narkoba sudah pasti harus ditangkap dan ditahan di bui, bahkan selalu berpikir “apaan sih karena dia artis jadi gak dipenjara gitu, enak banget cuma direhabilitasi” saya sangat sering mendengar kalimat seperti itu.

Namun, penjara bukanlah solusi yang efektif apalagi jika tersangka kepemilikan sudah berada di tahap kecanduan (adiksi). Karena penjara dirancang untuk nenghukum para pelanggar hukum dan memisahkan mereka dari masyarakat agar tidak membahayakan. Namun bagi pecandu, penjara tidak memiliki solusi yang panjang untuk masalah mereka.

Pecandu sebenarnya memiliki masalah kesehatan mental dan fisik yang mendasari kecanduan mereka, dan penjara tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menyelesaikan masalah ini. 

Kecanduan adalah masalah kesehatan yang memerlukan pendekatan holistik. Oleh karena itu, para pecandu membutuhkan hal yang lebih dari sekedar dipenjara. Mereka perlu mendapatkan akses ke perawatan khusus, seperti terapi dan rehabilitasi.

Efektifkah rehabilitasi melepaskan pecandu dari adiksi sepenuhnya? 

Rehabilitasi menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan dengan serius. Melalui rehabilitasi, individu yang mengalami adiksi narkoba dapat mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk pulih dari kecanduan tersebut. Pendekatan rehabilitasi tidak hanya berfokus pada penghukuman, tetapi juga memberikan perawatan medis, psikologis, dan sosial yang komprehensif.

Rehabilitasi dapat menjadi pilihan yang efektif dalam mengatasi adiksi narkoba, bahkan pecandu bisa lepas sepenuhnya dari kecanduan narkoba. Namun, keberhasilan rehabilitasi tergantung pada beberapa faktor, terutama motivasi dan komitmen pecandu untuk lepas sepenuhnya dari barang haram itu.

Fasilitas rehabilitasi menyediakan lingkungan yang bebas dari narkoba dan pengaruh negatif lainnya. Ini memberikan kesempatan bagi individu untuk fokus sepenuhnya pada pemulihan mereka tanpa distraksi dari lingkungan sehari-hari yang mungkin memicu keinginan untuk menggunakan narkoba.

Dukungan sosial dalam proses rehabilitasi

Proses rehabilitasi adiksi narkoba adalah perjalanan yang tidak mudah bagi individu yang terlibat. Salah satu faktor yang penting dalam kesuksesan rehabilitasi adalah adanya dukungan sosial yang kuat dari lingkungan sekitar. Dukungan sosial dapat memberikan motivasi, harapan, dan pemahaman kepada individu yang sedang dalam proses pemulihan.

Keluarga dan teman dekat memiliki peranan penting dalam memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada individu yang sedang menjalani rehabilitasi. Mereka dapat memberikan dorongan positif, memberikan support dalam menghadapi tantangan, dan memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kesimpulan

Apakah Rehabilitasi Bisa Bebaskan Pecandu dari Narkoba? Jadi, setelah melalui beberapa penjelasan mengenai pembahasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa rehabilitasi adalah solusi efektif dalam mengatasi adiksi narkoba. Pendekatan holistik, lingkungan yang mendukung, dan fasilitas yang memadai dapat membantu individu yang terkena adiksi untuk pulih secara menyeluruh. Penting untuk diingat bahwa setiap perjalanan pemulihan memiliki tantangan dan waktu pemulihan yang berbeda-beda, namun dengan dukungan yang tepat, rehabilitasi dapat menjadi langkah penting dalam mengatasi adiksi narkoba dan memulihkan kehidupan seseorang menuju ke arah yang lebih baik.

 

Referensi:

Buku UNICEF

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ammar_Zoni

bnn.go.id

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *