Renyahnya Tradisi: Mengintip Dapur Kerupuk Uyel Legendaris di Bogor

Winarsih
Kerupuk Uyel (Foto: Canva)
Kerupuk Uyel (Foto: Canva)

Siapa yang bisa menolak suara kriuk dari kerupuk? Camilan sejuta umat ini tak pernah absen menghiasi meja makan, mulai dari pendamping nasi uduk hingga jadi bintang utama dalam lomba 17 Agustus. Baru-baru ini, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pabrik pembuatan kerupuk uyel di Bogor untuk melihat langsung bagaimana “si mawar putih” ini lahir.

Adonan kerupuk yang siap dicetak

Menariknya, meski tetap mempertahankan resep tradisional, pabrik-pabrik di Bogor kini mulai bertransformasi. Penggunaan peralatan modern membuat proses produksi jauh lebih efisien tanpa mengurangi cita rasa gurih yang sudah kita kenal sejak kecil.

Jejak Sejarah Si Kerupuk “Blek”

Kerupuk uyel memiliki bentuk unik menyerupai jalinan mie yang melingkar. Meski catatan sejarahnya tidak tertulis secara kaku, kerupuk ini diyakini mulai populer sejak tahun 1940-an. Saking melekatnya di hati masyarakat, muncul anggapan bahwa makan nasi terasa kurang lengkap tanpa kehadiran kerupuk di samping piring.

kerupuk yang dicetak dengan mesin modern
kerupuk yang dicetak dengan mesin modern

Ada banyak nama unik untuk si renyah ini antara lain: Karena ciri khasnya yang disimpan dalam wadah kaleng seng (blek) legendaris berwarna biru atau merah; Karena bentuknya yang merekah cantik menyerupai bunga mawar saat digoreng dalam minyak panas; dan Sebutan kekinian karena perannya yang viral sebagai bahan utama seblak kenyal yang digemari anak muda.

Di Balik Layar: Dari Adonan Hingga Meja Makan

Rahasia kelezatan kerupuk uyel terletak pada perpaduan bahan yang sederhana namun pas, yaitu tepung tapioka, tepung terigu, bawang putih, garam, dan penyedap rasa. Namun, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan.

Dimulai dengan, mencampur semua bahan menjadi adonan kenyal, lalu dicetak menggunakan mesin modern membentuk pola jaring melingkar yang khas; Adonan yang sudah dicetak kemudian dikukus hingga matang dan dipanggang dalam oven. Proses ini memastikan kerupuk benar-benar kering sebelum masuk ke tahap penggorengan.

kerupuk yang telah dicetak dan siap dikukus

Nah, kunci kerenyahannya adalah Kerupuk digoreng dua kali: pertama dalam minyak suhu rendah agar adonan mekar perlahan, lalu dipindahkan ke minyak panas untuk mengunci tekstur renyahnya.

Tips Membeli dan Konsumsi

Jika Anda berkunjung ke Bogor, Anda bisa membawa pulang camilan ini dalam dua pilihan, yakni: Kemasan plastik praktis yang siap menemani makan siang Anda seharga Rp5.000 dan Untuk digoreng sendiri di rumah agar selalu fresh, tersedia dengan harga Rp20.000 per kg.

Meskipun gurih dan bikin ketagihan, ingatlah untuk tetap bijak dalam mengonsumsinya. Kandungan lemak dan kalori dari proses penggorengan membuat kita harus tetap mengontrol porsi demi kesehatan. Selamat menikmati sensasi renyah khas Bogor!

Selanjutnya, kerupuk digoreng dua kali: pertama dalam minyak dingin dan kemudian dalam minyak panas. Anda bisa membeli kerupuk siap saji dalam kemasan plastik seharga Rp. 5.000, atau memilih kerupuk mentah seharga Rp. 20.000 per kg jika ingin menggorengnya sendiri di rumah.

Meskipun kerupuk yang gurih dan renyah ini sangat menggoda, sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan, karena makanan yang digoreng cenderung mengandung kalori dan lemak trans yang tinggi. Selamat menikmati!

Referensi:

Lansia di Tuban Tekun Lestarikan Krupuk Uyel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *