Di antara deretan truk yang tak pernah tidur di jalur Pantai Utara (Pantura), dan warung-warung kecil yang berdiri rapuh di tepi jalan, muncul kisah seorang perempuan muda yang berusaha bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan sosial.
Kisah ini bukan sekadar fragmen kecil dari sebuah realitas yang sering luput dari pemberitaan arus utama, tetapi menjadi inti dari film Pangku, karya terbaru yang digarap Reza Rahadian bersama penulis Felix K. Nesi. Melalui film ini, penonton diajak memasuki lorong kehidupan kelas pekerja perempuan yang kerap berada dalam situasi rentan, tanpa sensasi berlebih, tanpa romantisasi, namun dengan empati yang kuat.
Pangku bukan hanya menampilkan perjalanan seorang perempuan bernama Sartika, diperankan Claresta Taufan dengan kejujuran yang menggetarkan, tetapi juga merefleksikan dinamika sosial-ekonomi yang mengitari kehidupan perempuan di pinggir jalan Pantura.
Dengan pendekatan visual yang intim dan ritme penceritaan yang tenang, film ini mengajak penonton mengamati, bukan menghakimi. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang tak hanya emosional, tetapi juga membuat penonton merenungkan ulang bagaimana negara, masyarakat, dan budaya memperlakukan perempuan yang berada dalam situasi sulit.
Kisah Sartika: Perempuan Muda yang Terseret Arus Realitas
Sartika adalah representasi dari banyak perempuan muda yang tersingkir dari pusat kehidupan sosial. Ia hamil di luar pernikahan dan memilih melarikan diri dari kampung halaman demi menghindari stigma yang tak akan bersahabat kepadanya. Dalam pelariannya itulah ia menemukan Maya dan Jaya, pasangan lansia yang menolongnya tanpa syarat. Mereka bukan kerabat, bukan teman lama, melainkan orang asing yang memberikan ruang bagi Sartika untuk melahirkan dan memulai kembali hidupnya.
Pertemuan ini menjadi titik awal cerita. Namun, setelah Bayu lahir, bayi mungil yang menjadi pusat dunia Sartika, konflik justru hadir dalam bentuk yang lebih senyap, lebih rumit. Maya kemudian menawarkan pekerjaan untuk Sartika, sebuah tawaran yang tampaknya seperti solusi, tetapi pada kenyataannya menyimpan dilema moral yang besar.
Warung tempat Sartika bekerja ternyata bukan sekadar warung kopi. Di warung itu, perempuan-perempuan muda menyediakan layanan “pangku”, sebuah aktivitas yang memosisikan tubuh perempuan sebagai objek hiburan bagi para pelanggan, sebagian besar sopir truk yang singgah untuk melepas penat. Tidak selalu bermuatan seksual, namun jelas berada dalam wilayah abu-abu yang membuka ruang bagi eksploitasi.
Sartika menerima pekerjaan tersebut karena desakan ekonomi. Ia tak punya pilihan selain mencari nafkah agar dapat merawat Bayu. Keputusannya ini membuka celah bagi penonton untuk melihat bagaimana sistem sosial yang timpang membuat perempuan seringkali terjebak dalam pekerjaan yang tidak mereka inginkan, tetapi terpaksa dijalani demi bertahan hidup.
Penggambaran Pantura: Ruang Hidup yang Tak Pernah Benar-Benar Diam
Film Pangku mengambil lokasi di sepanjang jalur Pantura yang terkenal dengan dinamika sosialnya yang khas. Jalur ini bukan hanya tempat lalu lalang kendaraan logistik, tetapi juga menjadi ruang ekonomi informal yang luas seperti warung makan, penginapan kelas bawah, tempat tambal ban, hingga warung kopi pangku.
Reza Rahadian menangkap atmosfer Pantura dengan cara yang tidak menghakimi, bahkan hampir dokumenter. Kamera Teoh Gay Hian bergerak dalam ritme yang mengikuti ritme kehidupan itu sendiri, pelan, berulang, namun penuh ketegangan halus.
Tidak ada upaya mempercantik realitas Pantura lewat pencahayaan yang estetis atau bidikan dramatis. Sebaliknya, film justru memelihara kesan natural: lampu kuning muram warung kopi, suara truk yang lewat tanpa henti, obrolan pendek antar pelanggan, dan angin malam yang membawa hawa asin laut. Semua itu menciptakan lanskap sosial yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pantura dalam film ini bukan sekadar latar, melainkan karakter itu sendiri. Ia adalah ruang hidup yang memengaruhi pilihan-pilihan Sartika, membentuk cara berpikirnya, sekaligus membatasi geraknya. Dalam ruang seperti inilah, perempuan muda seperti Sartika mencari cara untuk bertahan sekaligus menjaga martabat diri.
Pekerjaan di Warung Kopi Pangku: Antara Stigma dan Kenyataan Ekonomi
Salah satu titik penting film ini adalah bagaimana Pangku menyoroti realitas warung kopi pangku tanpa sensasionalisme. Banyak pemberitaan selama ini fokus pada aspek kontroversial atau stigma dari bisnis “pangku”, namun film ini memilih sudut pandang yang berbeda. Film ini melihatnya dari kacamata pelaku, bukan penonton. Dari dalam, bukan dari luar.
Sartika tidak digambarkan sebagai perempuan nakal atau korban pasif.
Sartika adalah perempuan biasa yang berusaha mengambil keputusan sulit dalam hidup yang serba terbatas. Penggambaran ini selaras dengan pendekatan sinematik Reza Rahadian yang berupaya menghadirkan manusia apa adanya, kompleks, rapuh, dan penuh dilema.
Film ini juga tidak lupa menampilkan dinamika antarsesama pekerja warung dan pemilik warung. Maya, misalnya, bukan digambarkan sebagai figur antagonis meski ia mempekerjakan Sartika dalam pekerjaan sensitif. Maya digambarkan sebagai perempuan tua yang juga pernah bertahan hidup lewat cara yang tidak ideal. Hubungan antara Maya dan Sartika menampilkan lapisan-lapisan emosi yang tidak mudah ditebak, ada empati, ada keterikatan, tetapi juga ada kepentingan ekonomi.
Di sinilah film Pangku mengambil posisi yang menarik, alih-alih menghakimi, film ini mengajak penonton memahami struktur sosial yang memaksa praktik-praktik seperti ini untuk tetap hidup.
Masuknya Hadi: Harapan Kecil di Tengah Jalan Panjang
Konflik emosional Sartika menemukan titik terang ketika ia bertemu Hadi, seorang sopir truk ikan yang diperankan Fedi Nuril. Hadi bukan figur penyelamat yang datang memberi solusi instan. Hadi justru hadir sebagai manusia biasa yang kebetulan memiliki empati. Kehadirannya menjadi jeda bagi penonton dari ketegangan hidup Sartika yang terus menekan.
Hadi memperlakukan Sartika dengan hormat, sesuatu yang mungkin dianggap sederhana, tetapi dalam konteks hidup Sartika, menjadi sangat berarti. Relasi mereka dibangun tanpa ekspektasi besar, tanpa dialog puitis, dan tanpa janji berlebihan. Justru dalam kesederhanaan itu muncul kemungkinan masa depan yang lebih layak bagi Sartika dan Bayu.
Namun film ini tidak tergoda untuk meromantisasi hubungan tersebut. Hubungan mereka lebih realistis ketimbang melodramatis. Film ini menggambarkan bahwa bagi sebagian orang, harapan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang harapan hadir dalam senyum ragu, dalam obrolan singkat, atau dalam kesediaan seseorang untuk mendengar cerita.
Bahasa Visual dan Ritme Penceritaan: Senyap yang Menggetarkan
Hal lain yang menonjol dari Pangku adalah keberanian untuk membiarkan banyak adegan berjalan dalam kesunyian. Dialog digunakan seperlunya, musik hadir seperlunya, dan sebagian besar emosi disampaikan lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
Claresta Taufan menampilkan performa yang kuat tanpa harus melontarkan banyak dialog. Sorot matanya, caranya menggendong Bayu, atau sekadar gerakan kecil saat menolak pelanggan yang bersikap berlebihan sudah cukup untuk membawa penonton ke ruang batin Sartika.
Sinematografi Teoh Gay Hian juga bekerja secara subtil. Kamera sering berada dekat dengan wajah atau tubuh Sartika, seolah mengajak penonton melihat dunia dari perspektifnya. Sentuhan ini menguatkan nuansa intim yang menyelimuti film secara keseluruhan.
Ricky Lionardi sebagai penata musik menghadirkan komposisi yang minim, tetapi ketika musik muncul, ia memberikan ruang emosi yang lebih dalam. Tidak agresif, tidak manipulatif, tetapi mendukung gambaran realitas dengan lembut.
Potret Sosial yang Lebih Luas: Perempuan, Ekonomi, dan Ketidakadilan
Pangku bukan sekadar cerita personal seorang perempuan, tetapi juga komentar sosial mengenai bagaimana perempuan dari kelas bawah kerap terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, pekerjaan layak, dan perlindungan sosial. Film ini secara halus menyinggung bagaimana keberadaan warung kopi pangku bukan hanya soal moralitas, tetapi juga soal ekonomi yang timpang.
Di banyak daerah, termasuk Pantura, sektor informal menjadi ruang hidup bagi perempuan yang tersingkir dari pasar kerja formal. Mereka bekerja tanpa perlindungan, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa batas antara ruang privat dan ruang publik. Sementara itu, pilihan yang tersedia sering kali bukan pilihan ideal, tetapi satu-satunya yang realistis dalam konteks ekonomi keluarga.
Dengan demikian, Pangku berhasil menangkap denyut persoalan sosial tanpa harus menjadi film politik. Film ini berbicara lewat kehidupan sehari-hari tokohnya.
Film Sunyi yang Menggema Panjang
Pangku adalah film yang bergerak perlahan, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak menawarkan sensasi, tidak menawarkan moralitas hitam-putih, dan tidak berpretensi menjadi pemecah masalah. Namun ia menawarkan sesuatu yang lebih penting yaitu ruang refleksi.
Lewat kisah Sartika, film ini membuka percakapan tentang kerentanan perempuan, realitas ekonomi yang menghimpit, serta kompleksitas kehidupan di pinggir jalan Pantura. Film ini mengingatkan bahwa setiap orang yang kita lihat sepintas di jalanan memiliki cerita panjang, persoalan rumit, dan keinginan sederhana untuk hidup lebih baik.
Dan pada akhirnya, film ini berbicara tentang harapan, bukan harapan besar yang mengubah dunia, tetapi harapan kecil yang membuat seseorang mampu bertahan dari hari ke hari.
Dalam dunia yang sering bergerak terburu-buru, Pangku hadir sebagai pengingat bahwa memahami kehidupan orang lain membutuhkan waktu, empati, dan kesediaan untuk melihat lebih dekat.
Daftar Pemain Film Pangku
Film Pangku dibintangi oleh jajaran aktor dan aktris papan atas Indonesia yang membuat film ini semakin hidup dan penuh emosi. Berikut di bawah ini daftar pemainnya:
Claresta Taufan sebagai Sartika
Christine hakim sebagai Bu Maya
Fedi Nuril sebagai hadi
Shakeel Aisy sebagai bayu
Devano sebagai Gilang
Referensi:
https://tirto.id/sinopsis-pangku-disutradarai-reza-rahadian-jadwal-tayang-hlcR
https://www.idntimes.com/life/inspiration/film-pangku-mengajarkan-tentang-kehidupan-sosial-orang-marginal-00-hprr8-rqclpm
https://www.popmama.com/life/relationship/alasan-film-pangku-wajib-ditonton-00-xx32f-t85c8c






