Mengenal Carnivore Diet: Benar Aman dan Manjur?

Untung Sudrajad
Ilustrasi Diet Karnivora
Ilustrasi Diet Karnivora (pexels)

 

Bayangkan kehidupan di mana piring makanmu hanya berisi steak juicy, telur orak-arik, dan sepotong salmon panggang, tanpa sebutir nasi, sepotong sayuran, atau selembar roti. Itulah carnivore diet, tren pola makan ekstrem yang kini tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan forum kesehatan.

Di tengah maraknya berbagai metode diet dari ketogenik hingga plant-based, muncul satu pendekatan yang benar-benar berlawanan arah, yaitu carnivore diet atau diet karnivora. Jika kebanyakan ahli gizi menyarankan kita untuk memperbanyak sayur dan buah, diet ini justru mengajak kita untuk menjauhi semua makanan nabati dan hanya mengonsumsi produk hewani. Kedengarannya ekstrem? Memang. Tapi benarkah metode ini bermanfaat dan aman?

Apa Sebenarnya Carnivore Diet Itu?

Diet karnivora adalah pola makan yang sebagian besar terdiri dari produk hewani seperti daging, ikan, telur, lemak hewani, dan sedikit produk susu rendah laktosa, menawarkan asupan protein dan lemak yang tinggi namun sangat minim karbohidrat. Dalam praktiknya, pelaku diet ini menghilangkan seluruh makanan yang berasal dari tumbuhan, mulai dari nasi, kentang, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, hingga biji-bijian.

Versi modern dari diet ini dipopulerkan oleh Shawn Baker dalam bukunya yang terbit tahun 2018 berjudul “The Carnivore Diet”. Saat menjalani diet karnivora, pengikutnya hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan berbahan dasar daging atau makanan yang kaya akan protein dan lemak. Beberapa pelaku diet bahkan hanya meminum air putih dan sama sekali tidak mengonsumsi bumbu-bumbu nabati.

Filosofi di balik diet ini cukup sederhana dimana para pendukungnya percaya bahwa nenek moyang manusia dahulu lebih banyak mengonsumsi daging dan bahwa tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk berkembang dengan pola makan tinggi protein dan lemak. Mereka juga beranggapan bahwa diet tinggi karbohidrat adalah biang keladi dari berbagai penyakit kronis yang kita hadapi saat ini.

Manfaat yang Diklaim Para Pelakunya

Jika kamu membaca testimoni di berbagai forum online, banyak pelaku carnivore diet mengklaim mengalami berbagai perubahan positif. Apa saja?

1. Penurunan Berat Badan yang Signifikan

Asupan protein membantu merasa kenyang lebih lama setelah makan, yang bisa mengurangi asupan kalori dari sumber nutrisi lainnya sehingga diyakini membantu menurunkan berat badan. Tanpa karbohidrat dan gula dari makanan seperti biskuit, kue, permen, dan pasta, asupan kalori harian menjadi lebih terbatas. Selain itu, protein juga dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh, sehingga kalori yang terbakar pun lebih banyak.

2. Peningkatan Massa Otot

Kandungan protein yang tinggi dalam daging dipercaya dapat membantu meningkatkan massa dan kekuatan otot, terutama jika dibarengi dengan latihan kekuatan. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin membentuk tubuh atletis.

3, Kontrol Gula Darah

Karena sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat, pelaku diet ini melaporkan kadar gula darah yang lebih stabil. Tanpa lonjakan insulin yang biasa terjadi setelah makan nasi atau roti, tubuh tidak perlu bekerja keras mengatur gula darah.

3. Pengurangan Peradangan

Diet karnivora secara signifikan dapat mengurangi peradangan, mungkin karena membatasi atau menghilangkan makanan nabati yang berpotensi menyebabkan iritasi. Beberapa pelaku melaporkan berkurangnya gejala radang sendi dan kondisi autoimun lainnya.

4. Kejernihan Mental yang Lebih Baik

Ada klaim bahwa otak yang terdiri dari hampir 60 persen lemak akan berfungsi lebih optimal dengan diet tinggi lemak dan protein, menghasilkan fokus yang lebih tajam dan suasana hati yang lebih stabil.

Tapi Tunggu Dulu, Apa Kata Sains?

Sebelum kamu langsung membuang semua sayuran dari kulkas, ada baiknya kita melihat sisi lain dari cerita ini. Belum ada penelitian yang menguji efektivitas dan keamanan dari diet jenis ini, serta tidak semua orang bisa melakukannya. Ini adalah poin krusial yang sering terlewatkan dalam euphoria testimoni positif di media sosial.

1. Risiko Penyakit Kardiovaskular

Daging yang menjadi makanan utama mengandung lemak jenuh dan kolesterol, yang dapat meningkatkan kadar lemak jahat (LDL) sehingga berisiko mengalami gangguan pada sistem kardiovaskular. Daging olahan seperti sosis dan bacon yang banyak dikonsumsi pelaku diet ini juga umumnya mengandung natrium tinggi, yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

2. Masalah Pencernaan

Makanan yang berasal dari tumbuhan seperti sayur dan buah mengandung serat yang penting untuk menjaga kesehatan saluran cerna dan melancarkan BAB. Tanpa serat sama sekali, banyak pelaku carnivore diet mengalami konstipasi atau sembelit yang cukup mengganggu. Orang dewasa memerlukan sekitar 25-30 gram serat setiap hari, sementara produk hewani tidak mengandung serat sama sekali.

3. Kekurangan Vitamin dan Mineral Penting

Dengan menghilangkan semua makanan nabati, diet ini juga membuang berbagai vitamin, mineral, dan antioksidan penting yang hanya ditemukan dalam buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Vitamin C, vitamin E, folat, dan berbagai fitonutrien yang berperan dalam menjaga kesehatan tubuh jangka panjang menjadi sangat terbatas atau bahkan tidak ada.

4. Risiko Asam Urat dan Penyakit Ginjal

Diet tinggi protein, terutama dari daging dan jeroan, mengandung purin yang tinggi. Ini bisa meningkatkan risiko asam urat. Bagi mereka yang sudah memiliki masalah ginjal, diet ini bisa memberatkan kerja ginjal yang harus menyaring produk limbah dari metabolisme protein dalam jumlah besar.

Efek Samping Jangka Pendek: Keto Flu

Pada awalnya, banyak pelaku mengalami “keto flu”- sakit kepala, lemas, pusing, mudah tersinggung, dan mual, karena tubuh beradaptasi dengan ketiadaan glukosa. Meskipun biasanya hanya berlangsung beberapa hari hingga minggu, kondisi ini cukup tidak nyaman dan menunjukkan bahwa tubuh mengalami ketidakseimbangan.

Siapa yang Sebaiknya Menghindari Diet Ini?

Penderita penyakit ginjal kronis yang harus membatasi asupan protein, orang yang menghindari kolesterol tinggi, anak-anak, dan ibu hamil atau menyusui tidak disarankan mengikuti diet karnivora karena mereka membutuhkan nutrisi khusus dari makanan nabati. Kelompok ini sangat rentan terhadap dampak negatif dari ketiadaan nutrisi penting yang hanya bisa didapat dari makanan nabati.

Dibandingkan manfaatnya, diet karnivora justru menyimpan lebih banyak risiko terhadap kesehatan tubuh dan tidak menawarkan keseimbangan gizi yang efektif menjaga berat badan tetap ideal. Sebagian besar ahli gizi dan dokter merekomendasikan pola makan seimbang yang mencakup buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan lemak tak jenuh sambil membatasi lemak jenuh.

Tidak ada penelitian tentang keamanan jangka panjang dari diet karnivora, jadi diet ini tidak direkomendasikan untuk dijalani dalam jangka panjang.

Meskipun katakanlah ada manfaat jangka pendek untuk penurunan berat badan, efek jangka panjang masih menjadi tanda tanya besar. Sangat mungkin diet ini juga mempengaruhi kesehatan kardiovaskular, pencernaan, dan keseimbangan nutrisi.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Carnivore diet memang menawarkan beberapa manfaat yang terdengar menarik, terutama untuk penurunan berat badan cepat dan kontrol gula darah. Namun, pendekatan ini jauh dari ideal jika kita melihatnya dari kacamata kesehatan jangka panjang. Tubuh manusia sebenarnya dirancang untuk mendapatkan nutrisi dari berbagai sumber makanan, bukan hanya dari satu kelompok makanan saja.

Jika kamu tertarik mencoba diet ini karena alasan kesehatan tertentu, misalnya untuk mengatasi kondisi autoimun atau peradangan kronis, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu.

Mereka dapat membantu mengevaluasi kondisi kesehatanmu dan menentukan apakah pendekatan ini sesuai, atau justru ada alternatif yang lebih aman dan seimbang.

Yang pasti, diet bukanlah kompetisi untuk menjadi yang paling ekstrem.

Tubuh kita adalah rumah yang harus kita jaga dalam jangka panjang, bukan hanya untuk beberapa bulan. Kesehatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan pada menghilangkan seluruh kelompok makanan dari piring kita.

Ingatlah bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang.

Yang terpenting adalah menemukan cara makan yang membuatmu merasa baik, memberikan energi, dan bisa dipertahankan dalam jangka panjang tanpa mengorbankan kesehatanmu. Dan dalam perjalanan mencari pola makan ideal itu, dengarkanlah tubuhmu karena ia tahu lebih baik apa yang ia butuhkan.

Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Mari bijak dalam memilih apa yang kita makan, karena setiap suapan adalah keputusan untuk masa depan tubuh kita.

Referensi:

https://thephrase.id/mengenal-carnivore-diet-benarkan-bermanfaat-dan-aman-untuk-diterapkan-

https://hellosehat.com/nutrisi/diet/diet-karnivora/

https://www.alodokter.com/ini-yang-perlu-kamu-ketahui-tentang-diet-karnivora

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *