Buku yang Membuka Percakapan Sunyi
Pada pandangan pertama, I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki mungkin terdengar seperti judul yang kontradiktif, bahkan sedikit nyeleneh. Namun, justru di sanalah letak kejujurannya. Judul ini tidak berusaha terdengar rapi atau filosofis. Ia hadir apa adanya, seperti isi kepala seseorang yang sedang berjuang dengan pikirannya sendiri. Buku karya Baek Se-hee ini berbicara tentang kesehatan mental dengan cara yang lembut, jujur, dan sangat manusiawi. Ia tidak mencoba menjadi jawaban atas semua masalah. Sebaliknya, buku ini hadir seperti seorang teman yang duduk di samping kita, menemani dalam diam saat dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.
Buku ini ditulis berdasarkan catatan sesi terapi penulis dengan psikiaternya. Karena itu, nuansanya terasa sangat personal dan intim. Pembaca seolah diajak masuk ke ruang konseling yang sunyi, tempat segala pikiran rumit diucapkan tanpa takut dihakimi. Tidak ada dramatisasi berlebihan, tidak ada usaha untuk membuat kisahnya tampak heroik. Sejak halaman awal, buku ini sudah terasa dekat, jujur, dan sangat manusiawi, seolah kita sedang membaca potongan pikiran kita sendiri.
Kejujuran yang Menghangatkan
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada kejujurannya. Baek Se-hee tidak berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang kuat atau inspiratif. Ia menuliskan ketakutan, rasa bersalah, kecemasan, dan kebingungan yang sering muncul dalam pikirannya. Ada hari-hari ketika ia merasa ingin menyerah pada hidup. Namun, di saat yang sama, ia masih ingin menikmati hal-hal kecil yang ia sukai, seperti seporsi tteokbokki yang pedas dan hangat.
Judul buku ini menjadi simbol yang sangat kuat. Tteokbokki tidak hanya sekadar makanan. Ia mewakili keinginan kecil untuk bertahan hidup. Di tengah pikiran gelap dan rasa hampa, masih ada sesuatu yang sederhana namun nyata, sesuatu yang membuat hidup terasa layak untuk dijalani satu hari lagi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak pembaca merasa sangat terhubung dengan isi buku ini.
Depresi yang Tidak Selalu Terlihat
Melalui buku ini, Baek Se-hee menunjukkan bahwa depresi tidak selalu hadir dalam bentuk tangisan atau keputusasaan ekstrem. Sering kali, depresi muncul sebagai rasa lelah yang terus-menerus. Kadang juga sebagai perasaan hampa tanpa alasan yang jelas. Bahkan, seseorang bisa terlihat baik-baik saja di luar, namun rapuh di dalam.
Selain itu, buku ini membantu pembaca memahami bahwa perasaan seperti itu valid. Tidak semua orang yang depresi ingin mengakhiri hidup. Sebagian hanya ingin berhenti sejenak dari rasa sesak yang tak kunjung hilang. Dengan bahasa yang sederhana, buku ini mengajak pembaca untuk lebih berempati, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Proses Terapi yang Realistis
Berbeda dari buku pengembangan diri pada umumnya, buku ini tidak menawarkan solusi instan. Proses terapi digambarkan secara perlahan dan berulang. Ada kemajuan kecil, tetapi ada juga kemunduran. Namun, itulah yang membuat ceritanya terasa nyata.
Psikiater dalam buku ini tidak digambarkan sebagai sosok yang selalu memberi jawaban. Justru, ia sering mengajak penulis untuk bertanya pada dirinya sendiri. Dari sini, pembaca belajar bahwa proses mengenal diri adalah perjalanan panjang. Tidak ada garis akhir yang pasti. Meski begitu, setiap langkah kecil tetap berarti.
Gaya Penulisan yang Sederhana dan Akrab
Dari segi bahasa, buku ini sangat mudah dibaca. Kalimat-kalimatnya singkat dan tidak rumit. Tidak ada istilah psikologi yang berat. Karena itu, buku ini cocok untuk pembaca dari berbagai usia dan latar belakang.
Namun demikian, alur ceritanya cenderung repetitif. Beberapa topik muncul berulang kali. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terasa monoton. Akan tetapi, repetisi tersebut justru mencerminkan kondisi mental yang sebenarnya. Luka batin memang sering kembali, bahkan ketika kita merasa sudah melangkah maju.
Buku yang Tidak Menghakimi
Hal yang membuat buku ini begitu heartwarming adalah nadanya yang tidak menggurui. Buku ini tidak memaksa pembaca untuk selalu berpikir positif. Ia juga tidak menyuruh pembaca agar segera “sembuh”. Sebaliknya, buku ini memberi ruang untuk merasa lelah.
Secara tidak langsung, buku ini seperti berkata, “Tidak apa-apa jika hari ini terasa berat.” Pesan sederhana ini terasa sangat berarti, terutama bagi mereka yang sering merasa sendirian dalam pikirannya sendiri.
Kesimpulan
Pada akhirnya, I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki bukanlah buku yang menawarkan kebahagiaan instan. Namun, buku ini memberi sesuatu yang lebih hangat: rasa dimengerti. Ia mengingatkan kita bahwa keinginan untuk bertahan sering kali datang dari hal-hal kecil.
Selama masih ada sesuatu yang ingin kita nikmati—entah itu tteokbokki, secangkir teh hangat, atau langit sore—hidup masih punya alasan untuk dijalani. Buku ini adalah pengingat lembut akan hal tersebut.
Referensi
- https://thebarkingyears.com/2024/12/02/review-i-want-to-die-but-i-want-to-eat-tteokbokki/
- https://www.bbc.com/news/articles/c15p9ndxd4eo